Minggu, 10 Agustus 2008

Amazing

Saat menulis blog hari ini, saya merasakan ada sesuatu yang "terbakar" dalam diri saya. Sambil mendengarkan lagu "Amazing" yang dibawakan oleh True Worshippers, hati saya merasa begitu damai dan dijamah Roh Kudus. Perasaan itu tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Tiba-tiba saja di depan komputer saya berdoa dalam hati, "Engkau sungguh Allah yang luar biasa, Tuhan! Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata apapun."

Suatu perasaan yang kurasakan tak dapat kutuliskan dalam kata-kata. Sebuah perasaan kagum, salut, tak berdaya di hadapanNya, perasaan damai, tenang, sekaligus menyentuh. Perasaan senang, ingin menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan, perasaan mengharapkan hadiratNya, ingin bersekutu denganNya. Suatu perasaan jijik terhadap diriku sendiri atas dosa-dosaku, perasaan benci kepada semua masa laluku yang kelam, perasaan marah terhadap diri sendiri atas kekonyolan-kekonyolan yang kuperbuat pada teman dan sahabatku.

Rasanya...

Tuhan itu begitu baik. Ia mau menerima kita manusia yang kotor ini. Ia mau menyelamatkan kita dari maut sampai anakNya yang tunggal Ia kirimkan untuk kita. Rasanya aku benar-benar malu... Yesus sudah rela mati hanya untuk menyelamatkan kita dari maut, tapi kita di sini hanya tenang-tenang saja menanggapinya, seolah tidak terjadi apa-apa.

Seminggu yang lalu saya diberi suatu pelajaran oleh Tuhan. Saat itu saya ditegur dengan keras oleh Roh Kudus lewat pembicaraan saya dengan seorang sahabatku. Ia menegurku dengan keras, tapi perasaan temanku saat itu padaku jujur. Tidak ada unsur menjatuhkan ataupun membuat kepahitan dalam diriku.

Tapi dasar manusia, kalau diomongin orang lain susah mendengarkan dan cenderung membela diri. Itu juga yang kulakukan saat itu. Saya sempat berpikir untuk memusuhi sahabatku itu gara-gara perkataannya yang sangat menyinggung.

Malam harinya ketika saya sedang perjalanan pulang ke rumah, saya melamun di perjalanan dan berpikir bagaimana caranya "membalas" temanku itu. Tapi Tuhan menegurku lagi. Kali ini suaranya terdengar sangat-sangat jelas.

"Jem, apakah kamu percaya dengan Mano?" tanya Tuhan tiba-tiba.

Mulanya saya kelabakan mendengar suara Tuhan. Tapi akhirnya setelah aku menguasai diriku, aku balik bertanya, "Percaya seperti apa, Tuhan?"

Tuhan menjawab lagi (suaraNya kini sungguh sangat riil!!), "Percayakah kamu kalau dia adalah seseorang yang Aku titipi pesan kepadamu supaya kamu berubah? Percayakah kamu kalau dia sama sekali tidak bermaksud untuk menjatuhkanmu, mengejekmu atau memusuhimu?"

Baru saja saya akan menjawab, Tuhan berkata lagi, "Sebelum kamu jawab, pikirkan baik-baik dulu jawabanmu."

Maksud Tuhan cukup jelas. Ia ingin menguji sejauh mana kesetiaanku dalam setiap perkataanku. Sering saya berkata kepada diriku sendiri kalau saya akan memberi yang terbaik (dan hanya yang terbaik) kepada sesamaku. Tak peduli hujan, angin, guntur bahkan badai sekalipun saya akan memberi yang terbaik. Nah, kini Tuhan sedang mengujiku dengan memberikan gesekan kepadaku.

Saya pun mulai berpikir. Apakah yang selama ini saya lakukan terhadap sahabatku ini adalah benar? Ternyata tidak!! Saya pun mulai mengolah setiap kata-kata yang diucapkan temanku itu tadi pagi. Ternyata apa yang ia katakan tidak salah! Hal memalukan, hal menyebalkan yang pernah kulakukan selama ini tidak pernah kusadari. Hal-hal itu bisa membuatku jatuh lebih dalam lagi.

Saya terdiam di hadapan Tuhan. Tak bisa menjawab.

Tuhan bertanya lagi untuk kedua kalinya, "Percayakah kamu dengan Mano?"

Lalu dengan malu-malu dan tersipu-sipu saya menjawab, "Iya Tuhan. Jem mau taat kepadamu. Jem mau percaya dengan Mano. Karena setiap kata-katanya adalah kata-kataMu yang Engkau sampaikan lewat dia."

Tuhan tidak menjawab lagi. Suara Tuhan tidak terdengar lagi. Dan malam itu saya pulang dengan hati bersuka cita karena yakin Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Tidak ada komentar: