Selasa, 03 November 2009

Natasha Skin Care


Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." (Mrk. 1:40)

Cepat menyerah adalah sikap yang mudah kita temui di masyarakat akhir-akhir ini. Ujung-ujungnya, tidak kuat dan berakhir dengan bunuh diri. Tetapi tidak demikian dengan dr. Fredi Setyawan. Pendiri dan pengusaha Natasha Skin Care ini merintis usahanya dari nol. Awalnya Fredi bekerja di sebuah puskesmas di Klaten—Jawa Tengah. Lalu, suatu saat, istrinya ingin melakukan perawatan kulit. Tetapi, betapa kagetnya mereka. Ternyata biaya yang dibutuhkan untuk perawatan sangat besar. Bagi mereka, biaya itu terlalu tinggi. Karena itu, ia terinspirasi membuat kirim untuk perawatan kulit. Ketika mulai memasarkan krim produknya, banyak orang menolak. Ia memasarkan ke toko-toko, namun pasar belum menyerapnya. Kesan yang didapat, masa depan produk itu tidak bertahan lama. Untunglah ia punya karakter pantang menyerah. Semakin ditolak, ia semakin belajar untuk membuat krim yang lebih baik. Sementara orang lain terlelap di balik hangatnya selimut, dr. Fredi terus belajar. Dan, ketekunannya membuahkan hasil spektakuler. Februari 2008, tercatat 36 cabang Natasha Skin Care tersebar di seluruh nusantara. Jumlah itu tentu akan terus bertambah seiring naiknya respons pasar.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita tentang seorang kusta yang namanya tidak disebut dalam Alkitab. Pada zaman itu, orang yang menderita kusta pasti dikucilkan. Termasuk oleh orang-orang terdekatnya. Penyakit kusta identik dengan kutukan Allah. Akibatnya penderita tidak dianggap dalam lingkungan sosialnya. Orang yang sudah dinyatakan kusta oleh iman, harus siap menerima konsekuensi negatif. Namun, penderita kusta yang kita baca dalam ayat di atas sungguh luar biasa. Mengapa disebut luar biasa? Karena ia berani bangkit dari keterpurukannya. Ia datang kepada Yesus. Bayangkan! Mata semua orang tertuju kepadanya. Ia seorang yang sudah divonis najis tiba-tiba menghampiri sang Guru Agung—Yesus Kristus Tuhan. Lalu, apa yang terjadi? Tuhan Yesus pun bereaksi. Yesus bersedia menahirkan orang itu. Ia sembuh. Ia dibebaskan dari segala penderitaan yang demikian menindih. Bagaimana hal itu terjadi? Berawal dari karakter pantang menyerah!

Kita hidup di zaman yang semakin sukar. Jika semangat juang lemah, kita akan digilas oleh krisis. Namun, jika punya semangat baja semua masalah dapat diatasi. Masalah pekerjaan, keluarga dan segudang masalah lain mampu kita atasi bersama Tuhan.

Karena itu, bagi anak-anak Tuhan, tak ada sikap cepat menyerah. Bersama Tuhan kita bisa. Bukankah begitu?

Tidak Cepat Menyerah Sikap Seorang Pemenang

Senin, 02 November 2009

Leonard Dober


Leonard Dober bertanya-tanya apakah Yesus berpikir bahwa salibnya terlalu berat; kemudian dia teringat bagian akhir doa Yesus di taman, "Bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu, Bapa." Tugas Leonard sepertinya tidak mungkin untuk dilakukan, tapi dia sedang melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya.

Leonard Dober yakin bahwa Allah telah memanggilnya untuk menjangkau para budak di Virgin Islands. Dia berencana untuk menjangkau orang-orang ini dengan menjual diri menjadi budak dan bekerja bersama mereka sambil menceritakan tentang kasih Yesus kepada mereka. Dia begitu takut memikirkan bahwa dia akan menjadi budak. Dia ngeri membayangkan perlakuan yang akan diterimanya. "Tapi Kristus telah mati di atas kayu salib bagiku," pikirnya. "Tidak ada harga yang terlalu tinggi untuk melayani Dia."

Penganiaya terkejam yang dihadapi Dober bukanlah para pemilik budak, tetapi orang-orang Kristen. Mereka mempertanyakan panggilannya untuk melayani para budak dan menertawakannya sebagai orang bodoh karena rencananya itu. Tapi Dober tidak menyerah. Pada tahun 1730, dia sampai di Virgin Islands.

Ketika dia menjadi pelayan di rumah gubernur, dia takut posisinya ini akan menjauhkannya dari para budak yang ingin dilayaninya. Jadi dia pergi dan pindah dari rumah gubernur ke gubuk kotor di mana dia dapat bekerja bersama-sama dengan para budak.

Dalam waktu tiga tahun, pelayanan Dober sudah mencakup lebih dari tiga belas ribu petobat baru.

***

"Orang-orang sinting Yesus", itulah julukan dunia bagi orang-orang yang memiliki iman yang sedikit radikal. Dober adalah "orang sinting Yesus" pada abad delapan belas -- orang bebas yang memilih menjadi budak agar dapat memenangkan para budak bagi Yesus. Dia bersedia melakukan semua yang harus dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dalam melayani Yesus. Bagi Dober, hal ini berarti membuat suatu rencana yang tidak masuk akal bagi orang lain kecuali dirinya sendiri. Apakah Anda juga disingkirkan karena Anda telah menolak untuk mengikuti orang banyak? Jika Allah telah memanggil Anda untuk melakukan hal yang radikal dalam keluarga, gereja, atau komunitas Anda, Anda harus menaatinya. Biarkan orang menyebut Anda gila, tetapi Yesus akan mendapati Anda sebagai orang yang bersungguh- sungguh.

Minggu, 01 November 2009

If ...


If you woke up this morning with more health than illness,
you are more blessed than the million who won't survive the week.

If you have never experienced the danger of battle,
the loneliness of imprisonment,
the agony of torture or the pangs of starvation,
you are ahead of 20 million people around the world.

If you attend a church meeting without fear of harassment,
arrest, torture, or death,
you are more blessed than almost three billion people in the world.

If you have food in your refrigerator,
clothes on your back,
a roof over your head and a place to sleep,
you are richer than 75% of this world.

If you have money in the bank,
in your wallet, and spare change
in a dish someplace, you are among
the top 8% of the world's wealthy.

If your parents are still married and alive,
you are very rare,
especially in the United States.

If you hold up your head with a smile
on your face and are truly thankful,
you are blessed because the majority can,
but most do not.

If you can hold someone's hand, hug them
or even touch them on the shoulder,
you are blessed because you can
offer God's healing touch.

If you can read this message,
you are more blessed than over
two billion people in the world
that cannot read anything at all.

You are so blessed in ways
you may never even know.

If you are feeling blessed, repay the blessings bestowed unto you and do something for others.

A blessing cannot be kept. If it stops with you, then the blessing will disappear. The blessing will only keep working if it is continuously passed around. If you are a recipient of a blessing, keep the blessing working by being the source of blessing to other people.

Jumat, 30 Oktober 2009

Cukup!!


Seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
“Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri.
Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima,
bukan apa yang belum kita dapatkan.
Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.
Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Rabu, 28 Oktober 2009

Mencobai Tuhan


"Janganlah kamu mencobai Tuhan, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa" (Ulangan 6:16)

Sobat JINS, mungkin membaca judul ini, Anda berpikir bahwa Anda tidak pernah mencobai Tuhan. Apakah pemikiran itu sepenuhnya benar? Mari kita lihat ilustrasi berikut.

Ada seorang pria hidup di sebuah perkampungan. Suatu hari perkampungan itu terkena banjir bandang. Mulanya banjir itu hanya setinggi lutut orang dewasa. Semua penduduk sudah mengungsi. Ia hanya dia di rumahnya bersantai. Ketika anaknya yang sulung kembali untuk meminta ayahnya mengungsi, pria itu menjawab, "Tuhan itu akan menolongku."

Tak lama, air makin naik dan meninggi hingga setinggi pinggang orang dewasa. Pria itu tidak juga mengungsi padahal kapal penyelamat sudah datang menjemputnya. "Aku yakin Tuhan akan membantuku dan menyurutkan banjir ini," dan ia tetap pada pendiriannya.

Tak lama kemudian, air sudah makin meninggi hingga terpaksa kakek itu naik ke atas atap. Di sana juga ada helikopter yang datang untuk menyelamatkannya. Tapi masih ditolak dengan alasan yang sama.

Akhirnya banjir semakin parah dan pria itu meninggal. Di Surga, ketika pria itu berhadapan dengan Tuhan, ia protes mengapa Tuhan tidak menolongnya padahal ia yakin dan percaya dengan iman. Tuhan menjawab, "Saya sudah mengirimkan bantuan kepadamu tiga kali tapi kamu sendiri yang menolaknya."

Sobat JINS, pria itu beriman tapi tidak berhikmat. Ia bodoh dan ia mencobai Tuhan. Sikap pria ini seperti bangsa Israel pada masanya. Mereka mencobai Tuhan dengan memaksa Tuhan memberikan air kepada mereka. Baca di Keluaran 17:1-7. Mencobai Tuhan artinya memperbudak Tuhan, karena mencobai Tuhan adalah meragukan kuasaNya dengan memintaNya menunjukkan kuasaNya kepada kita.

Tuhan sudah berfirman kalau jangan pernah mencobaiNya. Jangan pernah meragukan kuasaNya karena Ia adalah Allah yang Maha Bisa. Jangan pernah memaksaNya melakukan sesuai dengan kehendakmu. Jangan seperti pria itu.

Contoh sederhana mencobai Tuhan adalah ketika kita sakit, kita terus berdoa saja tapi tidak mau meminum obat. Kita percaya Ia akan menyembuhkan, tapi kita sendiri tidak minum obat. Contoh lainnya, ketika ujian kita berdoa saja tanpa mempersiapkan materi ujian. Atau juga berkendara tanpa memakai helm/seat belt karena kita percaya Tuhan melindungi kita.

Itu semua adalah mencobai Tuhan. Tuhan itu memang Maha Bisa, tapi janganlah kita meragukan dan memaksaNya menunjukkan kuasaNya. Sebaliknya, belajarlah dari Daniel. Ketika Daniel dibebaskan dari gua singa, ia tidak memaksa Tuhan, melainkan ia berserah. Nah selanjutnya, terserah Tuhan berkehendak bagaimana. Jangan seperti pria tenggelam itu.

Selasa, 27 Oktober 2009

Kebiasaan Melahirkan Keahlian


Di Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah.

Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya.

Panglima mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran.

Dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, "Rakyatku, lihatlah panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya. Bagaimana pendapat kalian?"

Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, "Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih."

Sontak panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, "Tunggu sebentar!" Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut!

Panglima dan rakyat tercengang. Merela bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, "Itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian."

Pendengar yang budiman,

Dari cerita tadi, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu: betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan karakter sukses. Dan karakter sukses hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan seperti berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas, tanggung jawab, & lain sebagainya.

Mari kita siap melatih, memelihara, dan mengembangkan kebiasaan berpikir sukses dan bermental sukses secara berkesinambungan. Sehingga, karakter sukses yang telah terbentuk akan membawa kita pada puncak kesuksesan di setiap perjuangan kehidupan kita.

Sekali lagi: Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian!

Salam sukses luar biasa!!

(disadur dari buku Andrie Wongso: "16 Wisdom and Success, Classical Motivation Stories")

Senin, 26 Oktober 2009

Jesus Is My Inspures


Bagiku Ia seperti pemulung.. mencari dan mengubahku yang kotor ini untuk menjadi baru kembali

Bagiku Ia seperti ayah, saat aku ingin sesuatu Ia memberikan nya untuk ku..

Bagiku Ia seperti ibu,saat aku ingin bermanja-manja ataupun susah hati,dengan senyumNya dan Peluknya ia meredakan galau hatiku

Bagiku Ia seperti guru, Ia perhitungkan setiap yang ku kerjakan. dan di mataNya setiap yang kukerjakan sempurna adanya..

Bagiku Ia seperti sahabat,saat aku ingin curhat. 24 jam Ia stand by hanya untuk ku.

Bagiku Ia seperti presiden, di setiap sisi dlm hidup ku Ia memerintah,namun setiap perintahNya adalah baik (baca: sempurna) adanya

Bagiku Ia seperti dokter ^^ saat aku datang dengan segala sakit penyakitku dgn sabar Ia memeriksa dan menyembuhkanku

Bagiku Ia seperti tentara, kemanapun aku pergi Ia selalu di sisiku untuk melindungiku

dan yang terakhir,bagiku Ia adalah Bapa yg penuh kasih dan amat baik karena Ia telah mati bagiku dan menyediakan semua hal yang terbaik & terindah untuk menghiasi hidupku

He is My Everything . My Lord. My dearest. My love.

original based concept idea by: Jesus Is my Inspires By Kevin Nathan