Kamis, 19 Juni 2008

Goresan Amatir -- rasa terima kasih yang dalam

Teruntuk semua saudaraku & sahabatku,

Kemarin (19/06) aku resmi menginjak usiaku yang ke-23. "Dua puluh tiga" jeh! Bukan usia yang muda lagi ini. Serasa waktu cepat sekali berlalu ya. Tak terasa kemaren baru cari kerja sekarang udah ulang tahun lagi...

Dua puluh tiga. Kalo kata orang-orang, sukses itu dimulai pada usia 30. Iya sih, tapi kalo mau sukses umur segitu paling tidak harus dimulai dari sekarang. Umur 23 bukan lagi anak-anak, bukan remaja. Ini adalah masa-masa di mana seorang pria sudah harus beranjak dewasa dan berpikiran matang, memikirkan masa depannya.


Muda, Semangat, Mandiri dan Antusias!!

Dua puluh tiga. Kalo mikirin aku udah umur segitu, sudah siap-siap untuk bekerja dan merintis karir untuk masa depanku. Sering aku mendengar seorang sahabatku berkata, "Mumpung kita masih muda, masih punya tenaga, masih semangat. Kalo ngga sekarang, kapan lagi?"
Hey man! Yang namanya Waktu itu selalu berjalan maju! Yang udah lewat udah ga bisa dikembalikan lagi. Ga mungkin aku bisa kembali lagi ke usia anak tujuh tahun yang masih tergantung pada orang tua! Sekarang waktunya untuk Mandiri, Semangat dan Antusias!! Mumpung masih muda, tunggu apa lagi??


Buah-buah Dua Puluh Tiga

Dua puluh tiga. Artinya udah dua puluh tiga tahun aku hidup di bumi ini ya? Errr....
kalo aku mikirin lagi, flashback singkat, apa-apa aja yang udah kuhasilkan bagi dunia ini.
Ternyata tak banyak. Selama dua puluh tiga tahun aku cuma hidup senang-senang, dimanja orang tua, berfoya-foya, penuh nafsu duniawi. Hampir tidak ada kontribusi yang berarti dariku untuk dunia, Tuhan dan apalagi untuk sesamaku. Semuanya hanya untuk diriku, diriku dan diriku.

hmm... Di usia kedua puluh tigaku ini, aku berkomitmen untuk mengubah diriku menjadi lebih baik. "Belum genap setahun bertobat sudah berangan-angan mengubah dunia dan sesama," pikir orang-orang. tetapi, ya... kita liat aja nanti. Dalam nama YESUS, James akan mengubahkan anak-anak muda blogger, anak-anak muda seluruh Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Amin!


Tueeeennngggggkiiuuuu....



Sedari pagi tanggal 19 kemaren, aku udah dapet banyak ucapan selamat dari semua keluarga dan temen-temenku. Ada yang berupa SMS, ada yang nelpon, ada yang ucapan langsung. Bahkan tak hanya dari kalangan teman dan sahabat. Ada juga mantan pendengarku di radio tempatku bekerja dulu, bahkan dari kalangan penyiar sendiri pun tak lupa ultahku di-on air-kan. Beberapa lainnya mengucapkan selamat via friendster. Beberapa saudara gerejaku juga tidak melewatkannya. Di gym tempatku fitness sehari-harinya juga dapat. Yah... seneng banget!! Puol!!

James dari lubuk hati yang paling dalam mengucapkan Terima Kasih yang sebueesaarrr-buesarnyaaa... kepada semua-muanya!!!! Kalian adalah anugerah terindah di dalam hidupku! James tidak akan menyia-nyiakan kalian!

Dan hari itu, James membalas setiap SMS, setiap comment fs dengan unik pada setiap orangnya. Bukan template, bukan satu SMS yang sama. Semua reply SMS dan fsku adalah UNIK dan BERBEDA untuk tiap orangnya. Itu karena James bener-bener berterima kasih untuk setiap perhatian yang diberikan teman-teman semuanya!!


Dikerjain


Tapi semuanya ucapan selamat dari semua teman-temanku belum lengkap tanpa ucapan dari dua orang sahabatku; Romano dan Stevi. Dua orang paling berharga di hidupku sedari pagi nyuekin aku terus!! Kirain si Romano masih marah padaku soal tempo hari! SMS ga dibales, telpon ga diangkat. Stevi juga begitu! Ada apa ini? Apa kalian melupakan ulang tahunku!?!

Jam 7 malam, aku berpikir mungkin mereka akan menyediakan sebuah kejutan untukku. Aku pun pergi ke MSJ gereja dengan hati bersuka dengan harapan akan ada pesta kejutan atau surprise dari temen-temenku. Ternyata? Sepi!!! tidak ada apa-apa!!! Ada apa ini, pikirku?? Dalam hati aku masih terus berharap.

Jam 9 malam aku mulai menelepon Stevi, menanyakan kabarnya dan kalau-kalau ada sesuatu antara aku dan Romano. Stevi juga, lupa sama ultahku! Ngga memberi ucapan sama sekali!! Aku semakin kuatir.

Di tengah kekuatiranku aku menelepon Romano. Dia cuma bilang, "Aku dah mau pulang bro. Sori ya ta putus. Ntar wa bel lagi." Sesingkat itu!!! Tidak ada ucapan!? Lupakah ia!?!? Harapan di dalam hatiku sudah mulai menipis.

Jam 10 malam aku mulai kuatir. Aku kecewa dan depresi karena dua orang yang paling penting dalam hidupku melupakan ulang tahunku. Benar-benar kecewa! Dua orang sahabatku bahkan tidak ingat hari apa ini!?! Dalam hati aku masih terus berharap, tapi harapan itu makin lama makin hilang seiring dengan berjalannya waktu. Sebentar lagi sudah jam 12 malam. Itu artinya sebentar lagi sudah tanggal 20! Dan di mana kedua sahabatku ini???

Di tengah kekecewaan, aku menelepon pemimpinku (cc gembalaku). Aku pun mulai curhat. Mulai dari masalah penyebab keretakan rumah tanggaku (halah) dengan Romano, sampai ujung-ujungnya aku menumpahkan rasa kekecewaanku terhadap Romano dan Stevi.

Ce Andar cuma ngomong, "Sudah saatnya kamu memperbesar kapasitas hatimu. Jangan terlalu sempit. Mungkin ia masih sibuk atau apa sehingga melupakan ultahmu."

Kata-kata sederhana ini menampar aku. Sakit banget! Orang yang selama ini memperhatikan aku, paling peduli sama aku bisa lupa sama ultahku!?!? Kecewa sih... tapi ya mau gimana lagi... Kesibukan; itu alasan paling pas! Bahkan ke sahabat sendiri.

Waktu udah menunjukkan pukul 11 malam. Aku semakin kuatir! 1 jam lagi udah tanggal 20 dan kedua sahabatku belum ada kabar?? Aku sudah pasrah. Sekalipun tak ada kado, tak ada kejutan, paling tidak aku berharap ada ucapan via SMS sudah membuktikan kalau mereka tidak lupa! Di tengah asiknya mengobrol dengan ce Andar, tiba-tiba putus karena pulsaku abis. Bersamaan dengan itu, ada sebuah SMS masuk, "Bro, bisa tolong bukaiN piNtu?" dari Romano.

Cepet-cepet aku turun dan membuka pintu. Ternyata...

Sahabatku yang paling aku kasihi berdiri di luar, membawa sebuah tart ultah kecil di tangan kanannya dan kado di tangan kirinya sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Aku terdiam. Ngga bisa ngomong apa-apa! Perasaanku campur aduk! Mau marah, ga tega. Mau nangis, jaim. Mau ketawa, gemanaaa geto! Campur aduk!!

Sesudah itu aku meniup lilin dan sahabatku menyalamiku dan memelukku. Saat itu rasanya aku pengen nangis. Udah kelilipen. Ngga bisa ngomong apa-apa! Aku cuman bilang, "Kejam kau, bro!" tapi hatiku saat itu bahagia sekali!

Romano ketawa-ketawa aja, "kena kau, bro! Kena!" Dia tersenyum puas, setelah ngerjain aku. Sedangkan aku berdiri, antara senang, bahagia dan sedikit jengkel karena mengira sahabatku melupakan ulang tahunku. Tak lama kemudian, Stevi dan Rovin datang juga. Stevi pun tidak lupa, hanya pura-pura lupa. Setelah itu susul menyusul SMS dari beberapa orang terdekatku. Malam itu, kami ngobrol dengan asyiknya sampai jam 1 lewat tengah malam.
Duh malunya aku setelah dibuka semuanya. Aku malu juga karena telah menuduh yang bukan-bukan pada dua orang sahabatku yang paling baik!

Malam kemaren, malam paling berkesan untukku. Sahabatku tidak melupakanku. Sahabatku tetep inget ultahku. Bahkan mereka sudah menyiapkan kado jauh-jauh hari sebelumnya. Kena deh aku!

A very Special Thank You I give to Romano & Stevi!! You're my best friends, ever!!! Aku akan memberi kalian yang terbaik di dalam hidupku! Apapun yang terbaik pada diri James, itulah yang akan James berikan! I love you all! You're my very precious diamonds!

Best friends are like diamonds; precious and rare, so I will keep them inside my treasure box in my heart.

Rabu, 18 Juni 2008

Kisah Sukses Teman Saya yang Pasti Membuat Anda Cemburu

If you don't go after what you want, you'll never have it. If you don't ask, the answer is always no. If you don't step forward, you're always in the same place.

Pada tahun 1998, ketika saya masih tinggal di rumah lama dan saat itu saya masih kecil, saya bertetangga dengan Ferry, seorang mahasiswa jurusan Kimia di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Mulanya, Ferry terlihat malas dan tidak pernah mengurus kuliahnya. Sehari-harinya hanya di rumah dan mengutak-atik komputer. Ke kampus pun hanya sekali-sekali. Akan tetapi komputer-komputer di rumahnya tidak pernah ketinggalan jaman, selalu model terbaru! Kami berkawan cukup dekat, karena saya selalu penasaran dengan komputer dan segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer.

Tahun 2000, saya pindah ke rumah baru sehingga tidak bertemu lagi dengannya.

Lima tahun kemudian tepatnya tahun 2003, saat saya sedang berjalan-jalan di sebuah IT center di Surabaya, secara tidak sengaja saya masuk ke sebuah toko komputer dan ternyata toko itu milik Ferry! Wow! Sebuah toko! Usaha sendiri, katanya.

Beberapa tahun kemudian, tahun 2005, saya juga secara tidak sengaja masuk ke toko Ferry ketika sedang berjalan-jalan di IT center tersebut. Pada saat itu, Ferry sudah menikah dan berkeluarga. Hal itu membuat saya terkejut. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah, dari sebuah usaha kecil (satu toko) menjadi lima toko komputer dengan target pasar yang berbeda-beda! Satu menjadi lima hanya dalam kurun waktu 2 tahun!

Penasaran, saya pun menanyakan apa kiat suksesnya. Jawabannya pun hanya satu, "Semua itu karena Tuhan." Saat itu, saya merasa biasa-biasa saja dengan jawaban Ferry. Yah, semuanya akan menjawab begitu apabila sedang sukses, pikirku.

Sejak hari itu, saya dan Ferry pun mulai lagi berkawan baik. Hampir setiap minggu apabila saya ada waktu, saya selalu mengunjunginya di tokonya. Dan entah sejak kapan Ferry mulai menggeluti dunia fotografi. Setiap saya datang pasti Ferry selalu memperlihatkan hasil jepretannya dengan bangganya.

Tahun 2006, saya mulai sibuk dengan kuliah saya. Banyak waktu terbuang untuk kuliah dan skripsi saya sehingga saya pun hampir tidak pernah mampir-mampir lagi ke toko Ferry. Ferry juga mungkin terlalu sibuk dengan tokonya sehingga juga jarang-jarang lagi meneleponku. Apalagi saat itu anak keduanya baru saja lahir.

Setahun kemudian, tahun 2007 (atau tepatnya akhir tahun 2006) ketika saya sedang berjalan-jalan juga (kali ini di mall, bukan di IT center seperti biasanya) dan sedang ada pameran wedding di mall yang bersangkutan. karena merupakan hobiku untuk mengunjungi pameran, saya pun masuk ke area pameran perlengkapan pernikahan tersebut.

Ada sebuah stan besar yang didominasi triplek warna hitam yang mencolok, dengan beberapa foto besar dan mewah terpajang. Stan yang sangat menarik perhatian. Stan yang mewah. Dan di sana kulihat (lagi-lagi) Ferry duduk. Kaget dan tidak percaya, kusamperin.

Kami pun duduk dan mengobrol lama. Singkat cerita, dari semua ceritanya, dia sudah menutup semua toko komputernya dan memulai sebuah usaha yang baru: fotografi. Dan tidak tanggung-tanggung, target pasarnya adalah segmen menengah ke atas (itulah mengapa stannya begitu mewah). Dan herannya lagi, usaha yang barusan dirintis tidak sampai setahun ini sudah balik modal! Luar biasa!

Ferry, dari seorang mahasiswa jurusan Kimia, yang dulu kerja menservis komputer rusak, kemudian mempunyai satu usaha yang kemudian berkembang menjadi lima toko. Lima toko tersebut kemudian diubah menjadi modal usaha yang lain, sebuah foto studio mewah dan terkemuka di Surabaya.

Mungkin kita seringkali iri dengan kesuksesan yang dialami Ferry atau orang di sekitar kita. Tetapi yang kita lihat seringkali adalah hasilnya saja. Tak jarang kita mengabaikan perjuangan dan usaha mereka. Berapa banyak empedu yang sudah mereka minum. Berapa banyak kepahitan yang mereka rasakan. Tetapi seorang yang hanya duduk dan diam di tempat tidak akan bisa menjadi seorang yang sukses. Kita perlu mengambil langkah nyata. Bangkit ketika terjatuh. Jangan terlalu berpatokan pada masa lalu. Maju, dan berjuang untuk mendapatkan mimpi dan tujuan kita. Jangan lupa berdoa supaya Tuhan selalu menyertai langkah kita kemanapun kita pergi. God Bless You!!

Selasa, 17 Juni 2008

Why Me!?!

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; America Open (1968), Australia Open (1970) dan turnamen tenis paling bergengsi: Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh, ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita?"

Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis. Di antaranya 5 juta orang yang mau belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5000 mencapai turnamen Grand Slam, 50 orang berhasil mencapai ke Wimbledon. 4 orang di semifinal, 2 orang saja yang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya yang dipilih?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'"

Ayub 2:10

Saat Ayub sedang diberkati, Ayub sangat mensyukuri semua itu. Tetapi Ayub juga tidak menyalahkan Tuhan ketika semuanya hilang dan malah keadaan hidupnya bertambah parah.

Blogger yang terkasih, sadarkah Anda apabila selama ini kita sebagai manusia hanya mau menerima yang baik-baik saja dari Tuhan, dan apabila kita sedang berada dalam masalah kita bertanya kepada Tuhan, "Mengapa harus saya yang mengalami hal ini?" Kita menganggap Tuhan tidak adil, kejam dan sebagainya. Sedangkan ketika kita sedang berada di puncak, kerapkali kita melupakan Tuhan.

Blogger yang terkasih, contohlah Ayub. Dalam keadaan diberkati dan dicobai, berkelimpahan dan berkekurangan, senang dan susah, Ayub selalu berpegang teguh pada pengharapan pada Tuhan. Itulah cerminan hidup yang harus ditiru.

Jembatan

Alkisah di suatu pinggiran kota ada sebuah sungai lebar dan ada sebuah jembatan besar yang menjembatani ujung satu dengan ujung yang lainnya. Sehari-harinya jembatan itu terbuka karena kapal-kapal yang lewat di sungai tersebut. Apabila ada kereta api yang hendak melintas, maka jembatan itu harus diturunkan dan disatukan sehingga kereta api bisa melintas. Begitu kereta api lewat, maka jembatan akan dinaikkan kembali.

Untuk menaikkan atau menurunkan jembatan itu seorang bapak tua dipercayakan untuk menjalankan tuas. Ia sehari-harinya duduk di sebuah bangunan kecil di sisi kiri sungai tersebut untuk mengatur control tuas tersebut.

Suatu malam, seperti biasa pak tua itu sedang menunggu kereta api terakhir yang lewat. Ia melihat di kejauhan ada cahaya samar-samar dari lampu kereta api. Ia pun kemudian masuk dan menurunkan jembatan.

Tetapi sesuatu terjadi. Mendadak tuasnya macet dan jembatan tidak bisa diturunkan. Bila jembatan tidak diturunkan, maka kereta api yang lewat akan terus dan mencebur ke sungai. Pak tua itu tahu persis kalau kereta api tersebut bermuatan penumpang dan bukan barang. Dan apabila kereta api tersebut menabrak dan masuk ke sungai akan memakan banyak korban jiwa!
Pak tua itu kemudian berlari menuruni tangga ke bawah jembatan tersebut. Di bawah jembatan tersebut ada sebuah tuas untuk menurunkan jembatan secara manual. Tetapi tuas tersebut tidak bisa terkunci secara otomatis sehingga perlu seseorang untuk menahan tuas tersebut hingga kereta api lewat.

Pak tua itu menahan tuas tersebut sebisa mungkin hingga kereta api lewat. Ia mendengar suara kereta api makin lama makin mendekat. Dia harus mempertahankan posisi kereta tersebut karena apabila tidak, maka banyak jiwa yang akan melayang karena kelalaiannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari ujung sana. Anak laki-lakinya yang berumur empat tahun keluar dari bangunan kontrol dan mencari-cari ayahnya.

“Ayah! Ayah! Ayah di mana?” serunya sambil berjalan hati-hati dalam kegelapan mencari-cari ayahnya.

Pak tua tersebut langsung pucat! Sekujur tubuhnya menjadi dingin melihat anak tersebut berjalan di rel kereta api tersebut. “Lari!! Cepat lari dari sana!!” serunya.
Tetapi sepasang kaki mungil putranya itu tidak akan bisa membuat anak itu lari cepat menghindar.

Hampir saja pak tua itu berlari untuk menyelematkan anaknya. Tetapi kemudian pak tua tersebut menyadari kalau ia tidak akan bisa kembali tepat pada waktunya untuk mempertahankan posisi jembatan apabila ia meninggalkan tuas tersebut. Selama sepersekian detik pak tua tersebut harus mengambil keputusan sulit: tetap mempertahankan posisi jembatan atau lari menyelamatkan putranya.

Beberapa saat kemudian kereta api berjalan dengan mulus, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seluruh penumpang di kereta itu tidak menyadari kalau ada seorang anak kecil yang tertabrak dan terlempar ke dalam sungai. Mereka juga tidak menyadari malam itu seorang pria tua yang malang menangis sambil terus memegangi tuas tersebut.

Mereka juga tidak melihat langkah gontai pak tua tersebut ketika pulang. Langkah yang lebih pelan dari biasanya ketika berjalan pulang ke rumah, memberi tahu keluarganya begitu tragis kematian putra mereka.

Tahukah Anda begitulah perasaan Bapa di surga ketika putraNya yang tunggal mati di kayu salib. Seorang Bapa yang rela mengorbankan anakNya hanya untuk mempertahankan posisi jembatan yang menghubungkan kita manusia dengan hidup yang abadi. Mungkin itulah mengapa langit terbuka dan bumi bergoncang, berkabung ketika Yesus mati di kayu salib. Sudah saatnya kita menyadari pengorbanan Yesus di kayu salib adalah mati untuk menebus dosa kita.

Minggu, 15 Juni 2008

Tips Berkendara tanpa harus Emosi

Mengendalikan emosi saat kita sedang berkendara, ternyata tidaklah semudah yang kita bayangkan. Apalagi bila dipicu oleh sikap pengemudi lain yang ‘ugal-ugalan’ dan tidak santun di jalan raya, juga oleh berbagai kondisi kemacetan di jalan yang tidak mendukung. Hal itu tentu mempunyai efek yang buruk bagi kita juga.

Agar terhindar dari sasaran kemarahan orang lain atau mencegah diri sendiri terpancing emosi, berikut ini beberapa tips yang dapat digunakan agar kita tetap dapat berkendara dan menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman.

Tips Mengendalikan Amarah

  • Rencanakan perjalanan Anda sejak awal dan beri waktu ekstra agar tidak terburu-buru di jalan serta perhitungkan kondisi jalanan, apakah jalan yang dilewati terbilang macet atau tidak Berdoalah dahulu sebelum Anda berkendara.
  • Disiplin dan taati peraturan lalu lintas.
  • Pergunakan tanda (lampu sen) bila Anda akan berbelok atau pindah jalur, agar pengemudi di belakang Anda mengerti arah tujuan kendaraan Anda.
  • Jaga jarak yang aman antara kendaraan Anda dengan kendaraan yang berada di depan Anda.
  • Kebanyakan tabrakan dari belakang disebabkan karena jarak yang terlalu dekat antar kendaraan tersebut.
  • Berkendaralah dengan tenang. Jangan biarkan suasana hati yang buruk menguasai Anda. Rasa amarah itu tidak sehat, dan
    tidak ada gunanya menyesal kemudian.
  • Hindari bahaya, dengan membiarkan terlebih dahulu pengendara yang agresif berada di muka Anda. Jangan terpancing emosi. Jangan menantang pengemudi yang agresif atau orang yang gemar menyalip dengan mempercepat atau sengaja memperlambat kendaraan Anda.
  • Bila di malam hari, jaga sinar lampu kendaraan Anda, khususnya saat Anda menggunakan lampu jarak jauh. Pastikan bahwa kendaraan yang berlawanan muka dengan Anda tidak terlalu silau akibat lampu yang Anda gunakan. Sebaiknya tidak menggunakan lampu jauh, kecuali bila memang diperlukan.
  • Hindari kontak mata dengan pengemudi yang agresif.
  • Jangan memberikan kode tangan/jari yang sifatnya menghina orang dan membahayakan Anda. Sebaliknya bila Anda yang menerima perlakuan tersebut, abaikan saja, jangan masukkan dalam hati, dan jangan membalas.
  • Kurangi penggunaan klakson, kecuali bila memang perlu.
  • Bila jalanan sedang macet/ramai, usahakan tetap tenang dan tidak terpancing emosi untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu, seperti memaki pengemudi lain yang berjalan lambat, dsb. Bila emosi Anda mulai terpancing, cobalah untuk beristighfar dan pasanglah musik yang lembut agar emosi Anda reda.

Yang terpenting dari semua itu, tetaplah tenang dan berpikiran jernih.
Ingatlah bahwa tujuan utama Anda adalah agar selamat sampai ke tempat tujuan.

Amsal 14:17 - tidak ada gunanya cepat naik darah karena akan tampak seperti orang yang bodoh dan tidak berakal budi, termasuk di jalan. Bersabarlah.

Jumat, 13 Juni 2008

4 Istri

Alkisah ada seorang pedagang yang sangat kaya raya yang memiliki 4 orang istri. Dia paling mencintai istri ke-4-nya dan selalu membelikannya gaun yang bagus dan memperlakukannya paling istimewa. Pedagang itu merawatnya dengan begitu baik dan selalu memberikan yang terbaik kepada istri ke-4-nya.

Pedagang itu juga mencintai istri ke-3-nya. Dia sangat bangga dengan istri ke-3-nya dan selalu memamerkannya kepada teman-teman pedagang itu. Bagaimanapun, pedagang itu selalu dirundung ketakutan kalau-kalau suatu hari istri ke-3-nya kabur dengan laki-laki lain.

Pedagang itu juga mencintai istri ke-2-nya. Sang istri adalah seorang yang sangat pengertian, sabar dan membuat si pedagang merasa nyaman. Ketika si pedagang tengah menghadapi masalah, si pedagang akan mencari istri keduanya dan istrinya itu akan membantunya keluar dari masalah-masalah.

Istri pertama pedagang itu adalah seorang istri yang setia dan mempunyai kontribusi paling besar dalam memelihara usaha dan bisnis suaminya, begitu pula dengan hubungan keluarganya. Namun si pedagang itu tidak mencintai istri pertamanya itu dan meskipun di dalam hatinya ia mencintai istri pertamanya itu, dia jarang untuk peduli dengan istrinya itu.

Suatu hari, pedagang itu jatuh sakit dan dia tahu dia akan meninggal. Dia memikirkan tentang semua harta dan kemewahan yang dia punyai dan berkata kepada dirinya sendiri, “Saya mempunyai 4 orang istri. Tapi ketika saya meninggal, saya akan sendirian. Betapa sepinya..!”

Kemudian, sebelum meninggal ia memanggil istri ke-4-nya yang paling dicintainya, “Selama ini aku paling mencintaimu, membelikan kamu gaun yang bagus dan paling memanjakanmu. Sebentar lagi saya akan meninggal, maukah kamu menemaniku di sini?”

Jawab sang istri, “No way!!” dan sang istri pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.

Pedagang itu merasa sedih dan memanggil istri ke-3-nya, “Aku sangat mencintaimu seumur hidupku, maukah kamu menemaniku sampai akhir hayatku?”.

Istri ke-3 menjawab, “Tidak! Hidupku begitu nyaman. Aku akan menikah lagi dengan lelaki lain sepeninggalanmu.” Dan istrinya pun meninggalkan ia pula. Hati pedagang itu semakin mengerdil dan menjadi dingin.

Kemudian ia memanggil lagi istri ke-2-nya, “Aku selalu meminta bantuanmu dan kamu selalu menolongku. Maukah kamu mengikutiku sampai akhir hayatku?”

“Aku tidak bisa sekalipun aku mau,” jawab sang istri. “Aku hanya bisa menemanimu sampai ke liang kubur”.

Jawaban itu membuat si pedagang menjadi semakin pesimis dan tawar.

Tiba-tiba seseorang berkata, “Aku akan menyertaimu, bahkan sampai kematianmu.” Pedagang itu menoleh dan melihat istri pertamanya masuk; kelihatan kurus dan kurang makan.

“Seharusnya aku lebih memperhatikanmu dan menyayangimu,” kata pedagang itu.

Pada dasarnya, kita memiliki empat "istri". Yang pertama, tubuh jasmani kita. Betapa pun baiknya kita menjaga dan merawatnya, tubuh jasmani akan meninggalkan kita, hilang tanpa bekas. Yang kedua adalah kekayaan dan jabatan. Ketika meninggal, kita tidak akan membawanya serta, dan justru akan beralih keorang lain. Ketiga adalah teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga kita; seberapa pun besarnya kasih sayang mereka kepada kita, mereka hanya bisa mengantar kita sampai ke lubang kubur, tidak lebih. Yang keempat adalah iman dan karya kita selama hidup didunia, yang akan menyertai kita sampai mati.

Maka, benarlah kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, sedang manusia mati meninggalkan karya; Karya untuk Tuhan dan sesama. Dengan menjadi garam dan terang dunia; kita dapat membuat dunia ini lebih baik.

Kamis, 12 Juni 2008

Pelajaran Berharga

Suatu hari, seorang ayah dari keluarga yang sangat tajir membawa anak lelakinya ke pedesaan untuk mengajarinya arti dari sebuah kehidupan dengan memperlihatkan betapa miskinnya hidup orang-orang di pedesaan.

Mereka menginap selama beberapa malam di rumah seorang petani yang bisa dikatakan sangat sangat miskin.

Dalam perjalanan pulang ke kota, sang ayah bertanya pada anaknya, “Bagaimana perjalanan barusan?”

“Luar biasa!” jawab sang anak.

“Lihatkah kamu betapa miskinnya orang-orang itu?” tanya sang ayah lagi.

“Ya,” jawab sang anak.

“Coba ceritakan,” kata sang ayah, penasaran, “apa yang kamu dapatkan dari perjalanan barusan?”

Sang anak menjawab, “Saya melihat, kita hanya mempunyai seekor anjing sedangkan mereka mempunyai empat ekor. Kita mempunyai kolam renang seluas separuh taman sedangkan mereka mempunyai anak sungai yang tak terbatas panjangnya. Kita mempunyai lentera-lentera kecil taman yang mahal yang diimpor dari luar negeri, dan mereka mempunyai bintang-bintang ketika malam. Kita mempunyai pekarangan seluas halaman depan, tetapi pekarangan mereka mencapai horizon.

“Kita hanya memiliki sepetak tanah untuk tempat tinggal kita, sedangkan tempat tinggal mereka tak terbatas luasnya.

“Kita mempunyai banyak pembantu yang melayani kita, tetapi mereka saling melayani sesame mereka. Kita membeli makanan kita sendiri, tetapi mereka menanam sendiri makanan mereka.

“Kita mempunyai tembok yang mengelilingi rumah kita untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman untuk melindungi mereka.”

Sang ayah terdiam seribu bahasa.

Kemudian sang anak menambahkan, “Trims, ayah, sudah menunjukkan betapa miskinnya kita.”