Rabu, 11 Juni 2008

Karunia dari Tuhan

Suatu hari ketika saya baru masuk SMP, saya melihat seorang anak laki-laki dari kelasku sedang berjalan dari rumah ke sekolah. Namanya Kyle. Dia terlihat sedang membawa semua buku-bukunya. “Koq ada orang yang membawa pulang semua bukunya di hari Jumat?”, pikirku , “Dia pasti seorang kutu buku.”

Sedangkan saya sendiri punya serangkaian kegiatan di akhir minggu ini (beberapa pesta dan sepak bola dengan teman-temanku di hari Sabtu sore), sehingga saya pun tidak terlalu memperdulikan anak tersebut.

Kemudian beberapa anak lelaki lainnya berlari ke arah Kyle. Mereka berlari dan menabrak diri Kyle hingga buku-bukunya terjatuh dan Kyle sendiri terjatuh ke dalam lumpur. Kacamatanya melayang entah ke mana dan anak-anak itu hanya menertawakannya dari jauh. Dia mendongak sedikit dan saya bisa melihat ada kesedihan yang teramat sangat di matanya. Iba melihatnya, saya pun berlari ke arahnya. Dan sembari Kyle mencari-cari kacamatanya, saya melihat air mata berlinang di matanya.

Saya memungut kacamatanya dan mengembalikan padanya. “Anak-anak itu memang berandalan,” ujarku.

Dia memandangku dan berkata, “Terima kasih!”. Ada sebuah senyum lebar tersungging di wajahnya.

Itu adalah sebuah senyum yang menunjukkan rasa terima kasih yang tulus. Saya membantu memungutkan bukunya, dan bertanya di mana dia tinggal. Ternyata dia tinggal dekat rumahku. Saya pun bertanya mengapa saya tidak pernah melihatnya. Ternyata sebelumnya Kyle harus masuk sekolah privat. Jujur, saya tak pernah bergaul dengan anak-anak semacam ini.

Dalam perjalanan pulang, saya membawakan bukunya dan kita bercakap-cakap tentang banyak hal. Saya mengajaknya untuk ikut bermain bola bersama-sama di hari Sabtu dengan teman-temanku, dan dia menyetujuinya.

Kita bersama-sama sepanjang akhir pekan dan semakin aku mengenal Kyle, semakin pula aku menyukainya. Teman-temanku juga berpikiran sama. Hari Senin dan Kyle datang dengan setumpuk buku-bukunya lagi. Saya berhenti sejenak dan berkata, “Wogh! Kamu bisa membangun otot lengan yang kuat dengan membawa tumpukan buku-buku ini setiap hari!”. Dia hanya tersenyum dan memberiku setengah tumpukan dari bukunya.

Selama empat tahun ke depan, saya dan Kyle bersahabat baik. Ketika kami sama-sama duduk di SMA, kami mulai memikirkan masa depan yaitu kuliah kamu. Kyle memutuskan untuk pindah ke Georgetown dan saya ke Duke. Saya tahu kita akan tetap bersahabat. Jarak bukanlah masalah bagi kami. Dia bercita-cita menjadi seorang dokter dan saya ke arah bisnis dengan beasiswa sepakbola saya.

Di kelas, Kyle diminta untuk menjadi juru pidato dari kelas kami pada malam perpisahan. Saya menggodanya kalau dia dulu adalah seorang kutu buku dan dia harus mempersiapkan pidatonya mulai sekarang. Saya turut senang karena bukan saya yang harus naik ke pentas dan pidato.

Hari kelulusan, saya melihat Kyle. Dia tampak luar biasa. Dia adalah seorang remaja yang berhasil menemukan jati dirinya di masa SMA. Dia tampak keren dengan kacamatanya. Dan dia punya lebih banyak kencan dibandingkan aku! Semua gadis-gadis menyukainya!

Ya Tuhan, kadang-kadang saya iri padanya. Juga hari ini. Saya yakin Kyle gugup. Jadi saya menepuk punggungnya dan berkata, “Hei, pria perkasa! Kamu akan tampil hebat!” Dia memandangku dengan pandangan yang penuh arti dan tersenyum. “Trims,” sahutnya.

Kyle mendehem dan memulai pidatonya, “Kelulusan sebenarnya adalah momen untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu Anda melewati tahun-tahun ini: orang tua Anda, guru Anda, saudara Anda, mungkin pelatih sepak bola Anda …, terutama kepada sahabat-sahabat Anda. Saya di sini memberitahukan kepada Anda semua, bahwa menjadi sahabat seseorang adalah anugerah terindah yang bisa Anda berikan untuk seseorang. Saya akan menceritakan sebuah kisah kepada Anda.”

Saya memandang sahabatku dengan tatapan tidak percaya. Kyle menceritakan hari di mana pertama kali kita bertemu! Sebenarnya dia berencana untuk bunuh diri di akhir pekan itu. Dia menceritakan bagaimana dia sudah mengosongkan semua isi lokernya sehingga orang tuanya tidak perlu melakukannya lagi ketika dia sudah tidak ada. Sesaat aku merasa dia memandangiku lekat-lekat dan tersenyum, “Syukurlah, saya diselamatkan. Seorang sahabat menyelamatkan jiwaku dari hal itu.”

Saya bisa merasakan semua hadirin menahan napas mendengar pria tampan dan popular di hadapan mereka ini menceritakan kisah tragisnya. Saya melihat kedua orang tuanya memandangku dan tersenyum padaku; senyum yang penuh ketulusan.

kecil dari diri kita, kita bisa mengubahkan hidup seseorang; menjadi lebih baik atau lebih buruk. Allah meletakkan kita semua ke dalam hati sesama untuk mengubahkan hidup dalam berbagai cara. Carilah Allah di hati sesame kita.

Jangan pernah meremehkan kekuatan dari tindakanmu. Dengan sedikit tindakan

Setiap hari adalah karunia dari Allah! Jangan pernah lupa untuk mengucap syukur dan terima kasih kepadaNya.

Selasa, 10 Juni 2008

Sahabat Sejati

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan
mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya..

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian..

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.

Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ???
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama anda
saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABAT ANDA

Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

** Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita **

Unconditional Love (Story of the Month)

I didn't sleep well that night. I tossed and turned, dreading the next day. Somehow, I knew that my friend's test results wouldn't be good. I woke up early that morning and took a quick shower. As I turned off the water and heard the telephone ringing, I raced to the phone and so I was given the dreadful news while still soaking wet. I just stood there dripping both water and tears.
"Good morning, Sunshine,"
Doris said. She hesitated for a few moments, then announced, "It has come back, honey. The cancer is back." I knew that I had to be strong for Doris. My mind began to race, as I thought about all the things that she had done for me. "You're the only one I've told, honey," she added.
"I'll be there shortly," I promised.

I had met
Doris six years earlier. My husband and I accepted the pastorate of the small country church where she was a member. Because of her bright smile, Doris instantly won my heart. Doris was old enough to be my mother, but I had never had a friend quite like her before.
While driving to the hospital, my memories took me back to the days right after we met. My father was diagnosed as "terminal."
Doris called me every day once the diagnosis was made. "Good morning, Sunshine," she said many times over the telephone. Even though most mornings didn't seem very bright, her calls made me smile. Many times, Doris came to visit. She brought little gifts to cheer me up.
Because my father resided in a long-term care facility almost seventy miles away, I was exhausted. I worked two jobs, taught a Sunday school class and visited with Daddy several times a week. Many times my cell phone rang while I was driving home on the interstate.

"Good afternoon, Sunshine,"
Doris would exclaim. "Stop by my house on the way home. I have dinner prepared for you." I knew exactly what that meant. There would be an entrée, two or three vegetables, corn bread and a coconut pie awaiting me.
Once I arrived at the hospital, I tapped on her door and heard a faint, "Come in." As I opened the door, I saw my friend lying there in the bed. She smiled at me.
"Good morning, Sunshine," she whispered. "Thanks for coming." The room was dark. Even the flowers that we had taken to her the day before looked sad. I leaned over her bed and embraced her. We held each other tight and sobbed in each other's arms. Initially, there were no words. What do you say to a dear friend when you know that she will be leaving you soon?
"I love you, Doris," came out quite naturally. "I'm going to be with you through this," I assured her. "You can count on me."

Doris cried for a few seconds before she finally told me what was bothering her. "I'm worried about leaving you, honey," she confided. "I want you to be okay." My dear friend was dying but was more concerned about my comfort. I assured her that I would be fine, but that her absence would leave a great void in my life.
For several hours that day, we talked about how we would break the news to her other family members. We discussed final arrangements, her pain medication toward the end and other important matters. The next few weeks were a blur. Between the many doctor visits, making sure she had plenty of food and fluids in the house, and keeping her prescriptions straight, we spent a great deal of time together.
One Sunday morning, I woke up early and called to check on her. I could tell that she needed medical care immediately. I rushed her to the emergency room. She was admitted that day and never returned home.
During the week preceding her death, I went to the hospital four to six times a day. I read the Bible to her at night until she fell asleep. Some mornings, I arrived even before she awakened. She lost her strength, but she never lost her beautiful smile. Each morning, I was greeted with her typical "Good morning, Sunshine." As I watched her grow even weaker, I wondered how many more mornings I would have the privilege of hearing those special words.

One afternoon, I received a call. "
Doris has taken a turn for the worse," I was told. "You need to come." The doctors were trying one more procedure that would help to relieve some of the pain that she was experiencing.
"Can I speak to her alone for a second?" I begged the doctor as soon as I arrived.
"Sure," he said. Everyone left the room and allowed me to spend a few moments with my friend.
I took
Doris's weak hand and held it tightly. We prayed together. "I love you," I told her.
"I love you, too, Sunshine," she whispered.
"There's nothing else we can do," the doctor announced to me after the procedure. I knew I had to break the news to her.
I walked from the hallway where I'd waited for the doctor back into
Doris's room. "Did the procedure work?" Doris asked.
"I'm sorry, but it didn't," I answered and began to cry.
"Everything is going to be okay,"
Doris promised. "Please don't cry." The room was quiet for a few moments. Doris reached up and took my hand. "You don't know how much you have meant to me over the last few years. You made my life complete," she whispered. A few minutes later, Doris fell fast asleep.

The next morning, I went to see her as usual.
Doris was obviously in severe pain and could no longer speak. Before the doctor gave her the strong medication that would ease her pain, I prayed with her and asked her if she knew that I loved her. She nodded. About that time the sunlight burst into the room as if to comfort my grieving soul.
That night
Doris joined many of her loved ones in heaven. As I had promised, I was sitting by her side.
The next morning, I stepped outside and the August sun shone down upon my face. Its warmth made me think of
Doris's unconditional love. "Good morning, Sunshine," I whispered as I looked up to the heavens. In my mind, I saw Doris's smile and knew that everything was okay just as she'd said. She had gone home.

Minggu, 08 Juni 2008

Bersyukurlah. . .

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga.

Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, " Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya". Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas.
"Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan "terima kasih".

"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat. "Cukup berkata : Terima kasih, Tuhan. Dan berbuatlah kebajikan bagi sesamamu serta jauhilah kejahatan".

"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ...
engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup
hingga hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat .... Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda, yaitu bahwa
seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu.

Selamat menjalani hidup baru dengan penuh Rahmat Tuhan......!

Rabu, 04 Juni 2008

Jalan-jalan dengan Keong

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak, Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit

Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf,
Serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !"
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka.
Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.

Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap

Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang.

Pelankan langkah, tenangkan hati....


Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh?
Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.

"He's here and with me for a reason"

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu, Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci, Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati

God Bless You

Senin, 02 Juni 2008

Reminder

  • A sharp tongue can cut my own throat.

  • If I want my dreams to come true, I mustn't oversleep

  • Of all the things I wear, my expression is the most important.

  • The best vitamin for making friends.... B1.

  • The happiness of my life depends on the quality of my thoughts.

  • The heaviest thing I can carry is a grudge.

  • One thing I can give and still keep...is my word.

  • I lie the loudest when I lie to myself.

  • If I lack the courage to start, I have already finished.
    One thing I can't recycle is wasted time.

  • Ideas won't work unless ' I ' do.

  • My mind is like a parachute...it functions only when open.

  • The 10 commandments are not a multiple choice.

  • The pursuit of happiness is the chase of a lifetime! It is never too late to become what I might have been.

  • Life is too short to wake up with regrets. So love the people who treat you right. Forget about the one's who don't. Believe everything happens for a reason. If you get a second chance, grab it with both hands. If it changes your life, let it. Nobody said life would be easy, they just promised it would be worth it.

  • Friends are like balloons; once you let them go, you might not get them back. Sometimes we get so busy with our own lives and problems that we may not even notice that we've let them fly away. Sometimes we are so caught up in who's right and who's wrong that we forget what's right and wrong. Sometimes we just don't realize what real friendship means until it is too late. I don't want to let that happen so I'm gonna tie you to my heart so I never lose you.

Minggu, 01 Juni 2008

KAWAN & CINTA

Satu hari CINTA & KAWAN berjalan dalam kampung...

Tiba-tiba CINTA terjatuh dalam telaga...
Kenapa?? Kerena CINTA itu buta...

Lalu KAWAN pun ikut terjun dalam telaga...
Kenapa?? Kerena ... KAWAN akan buat apa saja demi CINTA !!

Di dalam telaga CINTA hilang...
Kenapa? Kerena... CINTA itu halus, mudah hilang kalau tak dijaga, sukar dicari apa lagi dalam telaga yang gelap...

Sedangka n KAWAN masih mencari-cari dimana CINTA & terus menunggu..
Kenapa ?? Karena ... KAWAN itu sejati & akan kekal sebagai KAWAN yang setia...

so, hargailah KAWAN kita ....

Walau kita punya couple , sahabat still paling setia.
Walau kita punya harta banyak , sahabat still paling berharga.........