Rabu, 10 Desember 2008

Work

Suatu hari Brenda dengan muka lesu dan gundah mengajak seorang sahabatnya untuk bertemu. Ia sedang galau dan gelisah. Karena ia kini sedang terlibat di antara dua pilihan yang sulit.


Brenda bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Gajinya lumayan dan fasilitas yang ia dapatkan tidak buruk. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha kecil sebagai sampingan di luar jam kerjanya.


Tapi beberapa hari yang lalu Brenda diberi tawaran yang sangat menarik oleh seorang pemilik supermarket. Ia akan didudukkan pada jabatan manager dengan banyak fasilitas. Gaji yang akan diterimanya sudah pasti dua kali lipat dari gajinya sekarang. Ia juga akan mendapatkan sebuah mobil yang akan menjadi miliknya bila ia bekerja empat tahun.


Hanya saja... pekerjaan baru menuntutnya berada di kota kecil sedangkan usaha dan bisnisnya baru saja mulai berkembang hari-hari ini. Brenda benar-benar bingung. Ia harus memilih bisnisnya atau pekerjaan baru dengan segudang tawaran menggiurkan?


Kemudian ia mulai mencurahkan semua pergumulannya pada sahabatnya. Sahabatnya mendengarkan dengan penuh sabar dan mendengarkan sampai selesai.


Sahabat Brenda hanya menatap mata Brenda dalam-dalam lalu berkata, "Brenda sayang, sekarang, apa tujuanmu bekerja? Jawablah dahulu baru kamu akan bisa memilih pekerjaan mana yang cocok buatmu."


Sekarang bayangkan Anda berada di dalam dua pilihan yang sulit, katakanlah, memilih di antara dua pilihan yang sangat menguntungkan Anda di mana hanya boleh salah satu saja yang Anda ambil. Bila Anda menjadi Brenda, mana yang akan Anda pilih?


Sulit?


Baiklah, seperti kata sahabat Brenda, "Apa tujuanmu dalam bekerja?" Sudahkah Anda memikirkan tujuan Anda dalam bekerja? Apakah tujuan Anda dalam bekerja? Uang? Karir? Materi? Atau bahkan pasangan hidup?


Di Alkitab dijelaskan soal perihal bekerja. Dalam perumpaan tentang talenta (Matius 25:14-30) dikatakan, hamba yang tidak mengembangkan talentanya akan dihukum. Alias, manusia yang tidak bekerja tidak akan berkenan kepada Allah juga.


Bekerja berbicara soal pelayanan kita kepada Tuhan. Apapun bentuk pekerjaanmu, selama itu halal dan berkenan pada Tuhan, kita sudah melayaniNya. Kita tidak harus hidup selibat, ataupun pelayanan di gereja, ataupun menjadi seorang full timer di gereja baru disebut melayani Tuhan. No! Bekerja di dunia sekuler juga melayani Tuhan!


Lantas kalau bekerja adalah melayani Tuhan, apa tujuannya dalam melayani Tuhan? Ada 3 hal tujuan dalam melayani Tuhan:


1. Untuk membalas kebaikan kasihNya.
Melayani sama saja dengan membalas kebaikan Tuhan. Ia sudah mati di kayu salib demi menyelamatkan Anda dan saya, mengapa kita masih perhitungan denganNya? Kita tidak akan bisa membalas budi pada Tuhan. KasihNya terlalu besar! Tapi kita bisa melayaniNya dengan sepenuh hati kita.


2. Untuk kemuliaan Tuhan di muka bumi.
Masyurkan namaNya di seluruh bumi, buat seluruh bumi menjadi muridNya. Dalam bekerja, usahakan selalu memancarkan pribadi Yesus dalam setiap perbuatan kita (Matius 5:16). Buat semua teman-teman kita menjadi terberkati dan bukan dirugikan. Pancarkan kasih Yesus supaya setiap orang melihat besarnya Allah dalam diri kita.


3. Untuk tetap hidup.
Tanpa bekerja, siapa yang dapat hidup. Alkitab berkata, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Kita beriman tapi kita tidak pernah benar-benar turun tangan, apalah gunanya? Dengan bekerja kita akan tetap hidup. Dan dengan kehidupanlah kita akan bisa bekerja. Dunia orang mati tidak akan bisa melayani Tuhan


Alkitab mengupas banyak sekali tentang pekerjaan. Mulai dari kewajiban, pelayanan, hingga kemuliaan namaNya. So, suatu hari bila Anda dihadapkan lagi pada situasi tentang pekerjaan yang harus Anda pilih, ingatlah akan tujuan Anda bekerja, bukalah Alkitab Anda dan tanya Tuhan yang sejelas-jelasnya. Biarkan Tuhan yang menjadi panutan dalam jalan Anda karena pekerjaan Anda toh akan demi kemuliaanNya suatu hari nanti.

Jadi, apa tujuan Anda bekerja?

Senin, 08 Desember 2008

Kiat Sukses Ala Tiger Woods

10 kiat sukses ala Tiger Woods:


1. Pengharapan untuk menang.
Tanamkan dalam dirimu, kalau kamu adalah seorang pemenang.

2. Percaya diri.
Biarkan lawanmu tahu kalau dirimu tangguh dan tak ada keraguan sedikitpun.


3. Bekerja, berlatih, bekerja lebih giat lagi, berlatih lebih semangat lagi.
Bahkan ketika ada di puncak kesuksesannya, dia masih terlihat memukul bola di malam hari.


4. Bertingkahlakulah seperti seorang pemenang.
Bagian ini membuat bagian penyemangat dirimu lebih dominan.


5. Punya selera. Jangan mencarinya, tetapi kamu akan mengenalnya ketika kamu melihatnya.
Kamu tidak perlu mencari ketenaran. Tetapi ketika itu datang kepadamu, kamu tahu bagaimana cara merawatnya.


6. Tahu selalu ada ruang untuk bertumbuh.
Menjadi yang terbaik bukan berarti kamu tidak bisa lebih baik lagi.


7. Bergaul dengan para pemenang.
Mereka mengerti akan tekanan dan situasi yang dialami yang mana yang akan kamu alami kemudian.


8. Posisikan dirimu pada situasi di mana kamu bukan seorang yang sukses di sana.
Susah memang, tapi akan tetap membuatmu membumi.


9. Hargai dan lindungi waktu luangmu dan lakukan apa yang kamu sukai.
Kedisiplinan dari seorang pemenang butuh sebuah rem untuk alasan keamanan dari waktu ke waktu.


10. Ingat kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Di suatu tempat dan di suatu waktu, seseorang akan membantumu - jangan lupa balas budi.

Kamis, 04 Desember 2008

New entry - new agenda

Yeah... tak terasa 22 hari lagi kita akan menginjak tahun 2009 nih. 22 hari itu cepet lohhh... Tak terasa malam hari kita menutup mata, begitu buka eh tau tau udah keesokan hari. Udah hitungan hari nih menyongsong 2009.

Sudah siap-siap
membesihkan kamar? Sudah siap membuang barang-barang usang yang udah ketinggalan jaman di tahun 2008? Atau barang-barang usang tersebut masih disimpan sampai tahun depan sampai membusuk?

Yak, mulai hari ini sudah boleh beres-beres. Pemberesan hati dengan orang-orang yang pernah disakiti, pemberesan hati dengan orang-orang yang pernah menyakiti, dan terutama pemberesan hati dengan Tuhan. Buang semua sampah-sampah hati.

Setelah semua barang usang disingkirkan, setelah ruangan hati menjadi lebih lapang, kini saatnya mengisinya dengan perabotan baru (baca: agenda baru). Tahun 2009, apa saja yang ingin Anda capai. Apakah cita-cita Anda bisa diwujudkan dalam tahun ini? Apakah di tahun 2009 Anda menarget sesuatu yang lebih tinggi? Apakah ada yang harus Anda kerjakan dan selesaikan di tahun baru ini?

Tapi pertanyaan terpenting adalah: Apakah Anda sudah merencanakannya? Atau jangan-jangan terpikirkan pun belum pernah? Ayo, tinggal hitungan hari lagi. Bila Anda tidak berencana mulai sekarang, nanti tahun 2009 juga akan Anda jalani dengan biasa-biasa saja. Tidak ada satu perasaan greget yang penuh semangat. Dan Anda sudah pasti akan membuang waktu satu tahun lagi.

Langkah-langkah menyiapkan new entry 2009:

1. Berdoa
Awali segala sesuatu dengan berdoa. Tanya pendapatnya Tuhan apakah Ia sudah menyiapkan rencana-rencana khusus untuk tahun depan. Minta penyertaannya dalam planning ini. Jangan kerja sendiri, minta penyertaan Roh Kudus juga.

2. Beres-beres
Masih ada ganjalan? Masih ada kepahitan? Masih ada masalah dengan orang yang dikasihi? Masih ada permusuhan dengan sesama? Mengapa tak coba untuk membereskan semua ini mulai dari sekarang? Datangi orang-orang yang Anda benci/yang membenci Anda. Dalam hati, berdoa dan berkatalah kepada Tuhan kalau Anda sudah memaafkannya. Atau dengan terus terang meminta maaf kepada orang itu. Sesudah itu buatlah satu komitmen dalam diri Anda kalau Anda sudah benar-benar memaafkan orang itu atau Anda tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.

3. Tulis agenda
Ambil secarik kertas (sebaiknya buku).. Pejamkan mata Anda sejenak. Bayangkan apa yang Anda inginkan untuk terwujud di tahun depan. Pikirkan rencana-rencana yang harus Anda realisasikan tahun depan. Pastikan rencana Anda masih "membumi". Jangan terlalu mengkhayal. Yang pasti-pasti saja.
Kemudian, tarik napas panjang. Buka mata Anda. Hembuskan. Dan mulai tulis harapan-harapan Anda di atas kertas atau buku. Selesai? Simpan baik-baik kertas/buku itu. Buka lagi tahun depan.

4. Buat komitmen
Buat komitmen-komitmen yang Anda ingin realisasikan di tahun depan seperti berhenti merokok, menelepon nenek setiap Minggu pagi, hemat dalam belanja baju, fitness dua kali sehari, dan sebagainya. Usahakan patuhi komitmen Anda. Buat satu perubahan dalam hidup Anda. Masakan Anda mau hidup seperti ini sampai tua?

5. Berdoa lagi
Tanyakan kepada Tuhan apakah Ia berkenan dengan rencana-rencana yang sudah Anda buat. Parameternya sangat sederhana. Bila Anda memiliki perasaan damai sukacita, maka Tuhan berkenan. Bila Anda bimbang dan ragu dalam kepastiannya, berarti ada yang perlu diubah.

Sudah? Lihat lagi dan review lagi apa yang sudah Anda tulis. Mulai hari ini juga, Anda harus mulai merealisasikannya. Jangan tunda-tunda lagi. Menunda adalah salah satu dari rencana Iblis untuk menjauhkan hidup Anda dari perubahan. So, mulailah 2009 dengan agenda yang baru. Pikirkan dan lakukan mulai dari SEKARANG. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?

Menilai Penampilan

Seorang wanita paro baya yang berpakaian tidak begitu rapi turun dari kereta api di Boston bersama dengan suaminya. Mereka berjalan malu-malu di depan kantor rektor. Sekertaris rektor itu memberitahu kalau mereka tidak layak untuk bertemu dengan rektor Universitas Harvard, bahkan ia juga meledek mereka dengan berkata mereka bahkan tak layak untuk di Cambridge.

"Kami mau bertemu dengan rektor," kata pria paro baya itu.

"Beliau sibuk," jawab si sekertaris ketus tanpa melihat kepada pasangan suami-istri tersebut.

"Kami akan tunggu," jawab wanita itu.

Selama berjam-jam, sekertaris itu mengacuhkan mereka, berharap mereka akan bosan dan pulang. Tapi mereka tetap di sana. Sekertaris itu menjadi agak jengkel dan akhirnya memutuskan untuk memanggil rektor (meskipun dia ragu-ragu). "Mungkin setelah bertemu pak rektor mereka akan pulang," dia memberitahu pak rektor. Dan rektor itu pun setuju. Ia kemudian berjalan keluar ruangannya dan dengan raut wajah yang tegas (baca: tidak ramah) ia mendatangi pasangan suami istri yang memakai pakaian kusut dan setelan rumahan yang tak rapi.

Sang istri memberitahu rektor, "Kami mempunyai seorang anak laki-laki yang pernah kuliah di sini. Ia sangat mencintai Harvard. Ia bahagia di sini. Tapi setahun lalu ia meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sekarang saya dan suami saya meminta dengan hormat, dapatkah Anda membuatkan sebuah memorial atau tugu sederhana untuk anakku?"

"Bu," jawab rektor dengan ketus, "Kita tidak bisa begitu saja membangun sebuah tugu untuk orang-orang yang pernah masuk Harvard dan kemudian meninggal. Tempat ini akan kelihatan seperti pemakaman!"

"Oh bukan, Anda salah paham!" jawab sang istri cepat, "Kita bukan mau sebuah tugu. Kita mau sebuah gedung di universitas kami dinamai nama anak kami. Kita yang akan memberi Harvard sebuah gedung baru, maksud kami, membangunkan."

Rektor itu mengamati wanita itu dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Seorang wanita dengan baju lusuh dan setelan rumah. Kemudian jawabnya, "Sebuah gedung? Pernahkah Anda berpikir berapa uang yang akan dihabiskan untuk membangun sebuah gedung? Untuk membangun sebuah Harvard yang mewah seperti ini kita menghabiskan tujuh setengah juta dolar!!!" ujarnya sambil mengejek.

Untuk beberapa saat, wanita dan suaminya itu terdiam. Rektor itu merasa senang karena akhirnya menemukan cara untuk mengusir mereka.

Sang istri berpaling kepada suaminya, "Cuma segitukah untuk membangun sebuah universitas? Mengapa tak terpikir dari dulu saja kita membangun satu?" Rektor itu bingung dan tidak mengerti.

Dan begitulah Tuan dan Nyonya Leland Standford pergi ke Palo Alto, California dan mereka membangun sebuah universitas dengan nama anak mereka. Sebuah memorial yang tidak dianggap oleh Harvard.

Moral dari kisah ini yaitu jangan menilai seseorang dari penampi....? .. Lan!! Seratus, anak-anak!

Rabu, 03 Desember 2008

Panggung Sandiwara

Masih ingat dengan lirik lagu Nike Ardilla "Dunia ini... panggung sandiwara yang harus kita mainkan." Well, topik ini masih sangat mengusikku. Setelah beberapa hari yang lalu saya menulis "Topeng", kini saya ingin memperdalam lagi dengan tulisan ini.

Mengutip dari blog seorang teman yang menuliskan tentang "Topeng" juga, saya sangat terinspirasi oleh tulisannya. Tapi kini "panggung sandiwara" yang saya tuliskan di sini agak berbeda dengan persepsi om Udin.

Lalu, tentang apa panggung sandiwara di sini?

OK, bayangkan Anda pernah mempunyai seorang sahabat (bisa pacar, bisa sahabat. Tapi yang di sini saya ambil contoh sahabat). Dengannya, Anda bisa dekkkeeeeeettttt sekali. Anda bercerita banyak ke dia. Mulai dari keluarga, teman, sampai ke permasalahan Anda. Anda bahkan sudah berbagi rahasia pribadi diri Anda dengannya. Anda percaya dengannya. Anda begitu menghargainya. Anda sangat menghormatinya seolah Anda tidak pernah bersahabat begitu dekat sebelumnya dengan orang lain.

Begitu pula dengannya. Dia juga sering mengatakan kepada Anda, "Kamulah sahabatku." Dan juga dia sudah membawa Anda lebih mengenal ke dalam kehidupan pribadinya. Dia sering meminta saran Anda dan sering menelepon Anda.

Paling tidak untuk sekian waktu dia membantu Anda. (Topengnya KEREN SEKALI!!! Wajah aslinya saja sampai tidak kelihatan!)

Tapi kemudian, seolah tidak ada angin tidak ada petir, tiba-tiba saja hujan (halah...). Maksudnya tiba-tiba saja dia meninggalkan Anda, menjauhi Anda, tidak menyapa Anda lagi, begitu sombong, begitu dingin. Ketika Anda berpapasan dengannya, seolah dia tidak melihat. Ketika Anda menyapanya, dia cuma tersenyum kecut. Ketika Anda berusaha menanyakan "Ada apa di antara kita?" atau "Aku salah apa?", dia hanya menjawab, "Tidak apa-apa" atau "Kamu koq kek anak kecil aja" dan menjawab seolah tidak ada apa-apa di antara kalian.

Kemudian Anda mulai instropeksi dan bertanya-tanya, sebenarnya Anda salah apa. Anda mulai melihat ke dalam diri Anda dan mulai menelaah satu per satu latar belakang yang mungkin menghalangi persahabatan kalian. Dan Anda menemukan sesuatu. Satu jawaban yang cukup memuaskan diri Anda.

Dia sudah tidak ada kepentingan lagi denganmu. Manisnya dah habis. Sisa sepahnya saja. Mana bisa dimakan lagi? Ya apa boleh buat, buang aja deh...

Hey, man!! Saya adalah salah satu dari sekian milyar manusia yang sangat sangat sangat menjunjung tinggi namanya PERSAHABATAN itu! Saya sangat sangat sangat menghargai seorang sahabat (sejenis maupun lawan jenis) dan saya akan memberikannya yang terbaik. Dan saya akan sangat marah dan kecewa kalau ada oknum-oknum yang memanfaatkan ajang yang namanya "PERSAHABATAN" hanya untuk "disedot manisnya" saja.

Memang dunia ini panggung sandiwara! Semua dari kita adalah pemerannya. Ada protagonis ada antagonis. Ada yg tulus ada yang palsu. Mau "manis"nya seseorang? Gampang, tinggal tepe-tepe aja (tepe itu tebar pesona, red). Begitu orang itu terjerat, sedotttt... Manisnya hilang, di-lepeh (bahasa Indonesianya: dibuang) saja! Apa yang manusia lihat kan cuma 'topeng'.

Inilah yang kurasakan ketika saya menulis "Topeng" dan "Panggung Sandiwara" ini. Saya belajar untuk menanggalkan topeng saya dan menunjukkan wajah asliku. Cuma saya juga harus siap dengan wajah teman-temanku yang mungkin akan menanggalkan topengnya. Nggak boleh kabur ya... Hehe..

Sobat JINS, ingat-ingatlah hal ini. Pakai topeng, sah-sah saja. Banyak teman, dapat promosi dan sebagainya. Toh manusia melihat topeng dan rupa. Cuma ingat satu hal. Tuhan melihat hati. Ia bahkan tidak terpengaruh sama sekali dengan segala macam topeng yang kita kenakan.

Dunia ini panggung sandiwara, yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura... Tapi tak peduli di pentas manapun Anda main, pastikan sutradaranya Yesus ya. Peace!!

Selasa, 02 Desember 2008

Burung Hantu dan Elang

Udah lama ga nulis dongeng... Hari ini nulis ahh....
Suatu hari, karena suatu hal, seekor elang berhutang budi pada seekor induk burung hantu. Untuk membalas budinya, burung elang tersebut akan menjanjikan satu hal kepada si burung hantu.

"Apa yang kamu minta, burung hantu?" tanya elang.

"Satu hal kecil saja. Jangan makan anak-anakku lagi," jawab induk burung hantu itu.

"Oh itu bukan masalah. Bagaimana aku bisa mengenali kalau itu anakmu?" tanya burung elang.

"Gampang. Anak-anakku adalah burung paling imut di dunia. Mereka paling lucu dan berbulu. Dan mereka sangattttt... imut," jawan burung hantu.

"OK," jawab burung elang dan mereka berpisah.

Suatu malam ketika si elang terbang dalam perjalanan pulang, ia merasa lapar. Kemudian ia melihat ke bawah ke dahan sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi. Di sana ia melihat beberapa ekor anak burung (tanpa pengawasan induknya) sedang tidur. Karena lapar yang tidak tertahankan akhirnya ia turun.

Pikirnya dalam hati, "Burung hantu memintaku jangan makan anaknya. Mudah-mudahan ini bukan sarangnya."

Ia mengamat-amati anak-anak burung yang sedang tidur itu. Kemudian pikirnya lagi, "Jelek, tidak imut, tidak lucu, matanya besar-besar dan agak botak. Pasti deh ini bukan anaknya burung hantu." Dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung memakan anak-anak burung itu. Setelah kenyang, ia kemudian terbang pulang.

Tak lama kemudian induk burung hantu pulang dengan membawa sejumlah makanan untuk anak-anaknya. Tapi alangkah terkejutnya kalau semua anak-anaknya sudah hilang. Yang tinggal hanya bulu-bulu dan bekas darah.

Sobat JINS, setiap orang tua pasti menganggap anaknya paling lucu, paling imut dan paling hebat sedunia. Tapi kadang-kadang kita tidak perlu mengatakannya kepada orang lain. Terkadang terlalu memuji anak sendiri juga tidak baik bagi anak kita, bahkan bisa mencelakakan anak itu sendiri. Mungkin bagi mereka yang belum punya anak, ada baiknya kita juga jangan terlalu memuji anak rohani atau sahabat-sahabat kita. Pujian baik untuk dilakukan, tapi apabila terlalu sering dilakukan akan kelihatan murahan dan bisa-bisa mencelakakan orang tersebut.

So, hati-hati dalam melontarkan satu pujian.

Senin, 01 Desember 2008

Waktu

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.


Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri.


Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja. Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.


Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, "Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi." Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.


"Halo?" suara ibunya membangunkannya.


"Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu," kata Jack "tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku."


"Oh tidak, Jack," kata ibunya, "Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal."


"Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini." kata Jack.


Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.


Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser. Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey...


Jack terdiam sejenak.


"Kotak emas di ujung meja itu hilang!" seru Jack.


Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. "Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab 'Pokoknya berharga deh'."


Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.


Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu... Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat.


Jack membaca surat itu, "Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki." Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu.


Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya, "Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser."


"Yang ia hargai dariku adalah... waktuku." serunya perlahan.


Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. "Mengapa?" tanya Janet, sekertarisnya.

"Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku," kata Jack, "dan Janet, terima kasih untuk waktumu."


Sobat JINS, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.


Sobat JINS, sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka?


Di sini JINS punya cerita. Beberapa waktu lalu saya sedang mengalami pergumulan yang luar biasa. Dan saat itu saya sedang dalam kondisi depresi dan bingung. Saya butuh teman saat itu, benar-benar butuh! Dan ketika saya menelepon salah seorang sahabat saya, ia mengatakan kalau ia sibuk dan tidak punya waktu untuk saya. Wah, kebayang donk rasanya seperti apa. Ia hanya berkata, "Saya sibuk. Lagi kumpul sama teman-teman (emang saya bukan temannya?). Sori yah".


Dalam sekian detik saya marah terhadap sahabatku itu. Selalu begitu, sibuk ini dan itu. Padahal saat itu saya cuma butuh teman bicara. Seolah dia adalah orang penting yang tidak bisa diganggu di tengah pekerjaannya.


Untunglah malam itu saya "diselamatkan" oleh seorang sahabat saya yang lain yang punya waktu untukku. Padahal sahabat saya yang lain itu tidak kalah sibuknya dengan temanku itu. Dan ada satu slogannya sangat menginspirasiku, "Sesibuk-sibuknya aku, selalu ada waktu buatmu bro." Wooooowww....

Wow... Thanks bro untuk waktumu!! Meskipun cuman sebentar, tapi bagiku kamulah berkat yang luar biasa hari itu. Kalau aku orang tua itu, kamulah yang akan kuberikan "kotak emasku".


(Special thanks for Beldwin for his time... Value your time!)