Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2009

Suara Malaikat

Diantara marinir-marinir AS yang berperang melawan Jepang pada PD II, ada seorang pemuda berusia 21 tahun, Kopral William Devers, yang menyatakan dirinya atheis. Tak satupun argument, kutipan Alkitab atau paksaan dari teman-teman marinirnya atau pendeta tentara yang dapat menggoyahkannya. Selama kompi Mayor Satu menghadapi Jepang, sejumlah unit terbunuh dan pendeta tentara terluka. Dalam kesakitan yang amat sangat,pendeta itu memanggil Devers, “ Di kantongku sebelah kiri…ambillah..kumohon… Semalam aku bermimpi. Dalam mimipi malaikat menampakkan diri dan mengatakan bahwa Aku harus membuatmu mengambil Alkitab ini. Ambillah nak, kumohon.” Devers memasukkan ALkitab itu ke dalam kantongnya untuk memuaskan orang yang terluka itu.

20 menit kemudian, pasukan Kopral Devers tertangkap oleh patroli Jepang, dan sebelumnya dia mengetahui apa yang telah terjai, dia tergeletak ditanah, pikirannya menghadapi kegelapan, pasti dia sedang sekarat. Ketika dia sadar, dia merasakan luka tembak di dadanya, tidak ada darah.

Peluru menembus ke dalam Alkitab yang dibawanya di dalam kantong, bersarang di kitab Mazmur, yang berbunyi demikian, :
“Walau seribu orang rebah disisimu, dan sepuluh ribu disebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.”

James Pruitt (Chicken Soup)

Senin, 06 Juli 2009

Andy

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?" "Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta." "Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah´pulang sekolah?" "Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa, paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong Bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan! Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ......?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami. Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta....Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut, ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ...'

"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar.!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ...."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ..kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut didepan Gereja. Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan.apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran... Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?" "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andy terisak. "Apa katanya ?" Ayah Andy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu.

"Apa yang dia katakan?" "Dia berkata kepada puteraku.." Ujar sang Ayah "Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."

Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita didalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa. kecuali dengan Tuhan."

Selasa, 14 April 2009

NEXT LEVEL

Dear Friend,

perpisahan sungguh menyakitkan, tapi dari sana kita belajar untuk bertumbuh semakin dewasa dan melompat ke tingkat yang lebih tinggi.

Tanggal 9-11 April kemarin adalah retret terakhirku di Pemuda Mawar Sharon. Tema yang diangkat adalah History Maker. Well, mungkin tentang History Maker saya share di lain waktu. Karena kali ini yang saya share untuk pembaca JINS sekalian kali ini adalah NEXT LEVEL.

Pemuda Gereja Mawar Sharon adalah salah satu komunitas yang paling on fire di bumi ini (lebay mode: ON). Sungguh, belum pernah saya menemui satu gereja di mana anak-anak mudanya giat, berapi-api, dalam Tuhan dan sangat luar biasa. Api mereka begitu besar, begitu berkobar sehingga sudah menjadi dampak bagi semua orang di sekeliling mereka.

Wow... Pemuda Mawar Sharon, suatu komunitas di mana saya bertumbuh. Suatu komunitas di mana saya lahir baru dan radikal dalam Tuhan. Dan suatu komunitas di mana saya memberikan pelayananku.

Teman-teman yang berapi-api, pelayanan yang seru dan menyenangkan, komunitas yang luar biasa.... Sungguh ini semua sangat menyenangkan bagiku. Saya ingin tumbuh dan berbuah di sana.. tapi..

Suatu hari tepatnya enam bulan lalu, tiba-tiba saya dibisikkan oleh Tuhan kata-kata ini "next level...". Mulanya saya tidak menyadari maksudnya ini. Dan kemudian Tuhan semakin memperjelas dengan kata "Pro-M". Mungkin maksudnya menyuruh saya pindah ke Pro-M.

Pro-M adalah professional muda, komunitas setingkat di atas pemuda tempat bernaung orang-orang yang sudah kerja (semacam itulah).

Dan selama enam bulan saya bergumul. Puncak-puncaknya, pada retret kemarin. Di mana saya harus menetapkan pilihanku untuk tetap di pemuda atau melompat ke level yang lebih tinggi, Pro-M.

Waktu retret, ibadah dan sesi demi sesi berlangsung. Saya benar-benar merasakan lawatan Tuhan yang luar biasa untuk pemuda. Banyak jiwa dimenangkan, banyak keterikatan dibebaskan. Lahir pemuda-pemuda yang luar biasa. Dan dari belakang (saya seorang soundman, selalu berdiri di meja sound belakang), saya bisa melihat betapa luar biasanya pemuda-pemuda Mawar Sharon. Sungguh! Satu pengalaman yang tidak terlupakan.

Dan di salah satu sesi saya menangis dalam hati. Seruku, "Tuhan, lihatlah anak-anakMu yang luar biasa ini. Masih banyak di antara mereka yang belum tergembalakan dengan baik. Tuhan, kalau boleh, ijinkanlah saya untuk tetap di pemuda."

Tapi anehnya, sepertinya Tuhan tidak mendengar doa-doaku. Ia tidak menjawab apa-apa... Seolah Ia hanya berkata, "Fokus dulu sama History Maker. Jangan bingungkan masalah itu." Tapi, jujur saja, 3 hari di retret pemuda benar-benar membuatku sangat berat meninggalkan pemuda.

Saya terus bergumul dan bergumul, minta agar kalau bisa saya tetap di pemuda. Dan akhirnya...

Akhirnya jawaban yang saya tunggu datang juga. Hari Minggu kemarin, lewat seorang hamba Tuhan di tempat yang tidak terduga Tuhan Yesus memberikan jawabanNya. Dan sedihnya, Tuhan memintaku untuk pindah ke Pro-M, dan meninggalkan pemuda. (Singkat ceritanya seperti itu).

Wuihh.... berattt.. sedih... Mungkin sobat JINS tidak pernah merasakan sedihnya meninggalkan sebuah "rumah".
Sebuah tempat di mana kamu lahir baru, tumbuh dan dibesarkan, dengan orang tua dan kakak-kakak yang luar biasa.
Di mana kamu sudah membagikan keceriaan, kesedihan, kebersamaan bersama-sama...
Di mana semua anggota keluarga sudah mengenalmu dan kamu sudah mengenal mereka.
Mereka tidak pernah mendiskriminasikan siapa dirimu, dan menerimamu apa adanya.
Sebuah keluarga di mana kamu melihat banyak adik-adik rohanimu yang masih kecil-kecil dan belum tergembalakan dengan baik..

Dan kini.. saya harus meninggalkan mereka semua.

Ya Tuhan, berat. Sungguh berat. Tapi inilah suatu level yang lebih tinggi. Next level, tingkat yang lebih tinggi. Suatu pembaharuan. Suatu kematian yang mendahului kebangkitan. Dan saya percaya akan janji Tuhan, janji yang akan membawaku ke suatu tingkatan rohani yang lebih tinggi.

Finally, I deicate this writing to:

Livi : You are a super mom, a great sheperd and a amazing friend. Tetep jadi luar biasa ya di pemuda..

Untoro, Bernike, Dika, Mike, Indri, Janet, Yonathan, Sandy dan segenap keluarga P11 :
What can I say... All I can do is just cry leaving you all. Because I love you so much!! You're even closer than my real family....

Yosafat, Siok Long, Lauren, Henry, Johan, dan semua rekan-rekan Praise & Worship Pemuda Pusat :
Man.. you're so AMAZING!!! Benar-benar, luar biasa!!! Api kalian luar biasa! Tidak akan pernah menyesal mempunyai saudara sepelayanan kalian. Rekan-rekan soundman, terus ciptakan harmonis yang luar biasa ya! Nanti gw inspeksi mendadak loh... Heheh...

Beldwin, Romano :
Wah meskipun udah sering berantem gara-gara salah paham, tidak ada yang mau ngalah, dan banyak alasan-alasan lainnya, tetep kalian adalah kakak-kakak rohaniku yang luar biasa. Aku belajar banyak dari kalian. Dan here I am now... Jump to next level. Thengkiuuuu banget atas bimbingannya..

dan semua pemuda-pemuda lainnya :
Keep On Fire!! God Bless You!! You're AMAZING!! Tetep radikal dalam TUHAN ya....

Jumat, 06 Maret 2009

Putri Daun

Suatu ketika ada seorang putri kerajaan yang sangat cantik. Meskipun masih kecil, ia sangat cantik dan berbakat. Sayangnya, ia tidak begitu disukai karena ia sangat kejam dan semena-mena. Setiap perintahnya harus dituruti, karena kalau tidak, ia akan merajuk pada ayahnya dan orang yang tidak mengabulkan keinginannya akan dihukum mati.

Suatu hari, ayahnya (raja di kerajaan itu) mengundang seorang yang bijak yang baru turun dari gunung. Raja itu sangat sedih melihat perlakuan anaknya dan meminta orang bijak itu untuk mengubah tabiat putrinya yang buruk itu. Orang bijak itu berpikir sejenak dan kemudian menyanggupinya.

Di suatu pagi yang cerah, orang bijak itu mengajak sang putri berjalan-jalan di sebuah taman yang rindang. Mereka bersenda gurau. Putri itu sangat menghormati orang bijak itu karena ia begitu baik pada putri itu. Lalu sampailah mereka kepada sebuah pohon kecil yang masih berupa tunas di tengah-tengah taman.

Orang bijak itu memetik satu helai daunnya dan memberikannya pada putri, "Putri, coba makanlah daun ini."

Putri itu menerimanya dan memakannya. Belum sempat mengunyah, ia segera membuangnya dari mulutnya. "Yuckk!! Apa ini!? Pahit sekali!! Cih cih!! Belum pernah aku merasakan daun sepahit ini!?" Sambil menyeka mulutnya dan beberapa kali meludah, ia menginjak-injak daun itu.

"Apa yang akan putri lakukan terhadap pohon yang menghasilkan daun pahit ini putri?" tanya orang bijak itu.

"Aku akan mencabutnya sampai ke akar-akarnya dan kemudian mematah-matahkannya menjadi beberapa bagian," seru putri itu.

"Mengapa?" tanya orang bijak itu lagi, tenang.

"Karena," jawab putri itu, "pohon sekecil ini saja sudah menghasilkan daun sepahit ini. Apalagi kalau besarnya nanti. Wuih... Bisa-bisa kepahitannya mempengaruhi satu taman!!"

"Putri," kata orang bijak itu tenang, "sadarkah tuan putri seperti daun itu? Putri sekecil ini saja sudah bersikap kejam dan tidak bijaksana. Apalagi kalau sudah besar nanti dan jadi ratu? Apa orang lain tidak akan berpikiran hal yang sama dengan apa yang putri pikirkan sekarang terhadap pohon kecil ini? Rakyat akan mematah-matahkan putri dan menghancurkanmu sebelum putri tumbuh dewasa."

Putri itu terdiam dan berpikir. Dan sejak saat itu putri itu mengubah semua tabiatnya yang buruk. Ia menjadi seorang putri yang ramah, manis dan disenangi siapapun. Sampai suatu hari akhirnya ia menjadi seorang ratu yang bijaksana, menggantikan ayahnya dan kerajaannya hidup makmur.

Senin, 05 Januari 2009

Point of No Return

Aku berdiri di sebuah atap sebuah gedung yang tinggi di sebuah sore hari. Cuaca sangat dingin. Memang sekarang sedang musim dingin di sini. Napasku tersengal-sengal. Maklum, aku baru saja berlari lewat tangga darurat dari kamarku di lantai dua puluh lima menuju atap lantai empat puluh.

Cuaca sangat dingin. Memang belum turun salju, tapi aku bisa melihat asap keluar dari napasku yang tersengal-sengal.

Aku berhenti sebentar. Lalu kumulai dengan langkah pertama. Tap.. tap.. tap.. aku makin cepat. Cepat dan cepat. Aku kemudian berlari. Berlari sekuat tenagaku dan sebisa yang aku dapat. Aku sudah mantap. Hatiku tidak akan tergoyahkan lagi. Istriku meninggalkanku, usahaku yang kurintis selama ini bankrut, teman-temanku meninggalkanku. Aku kesepian. Aku bosan. Tapi tidak akan lama lagi. Karena sebentar lagi ini semua akan berakhir.

Dan di ujung gedung aku melompat dengan mantap.

Ah... betapa senangnya sebentar lagi aku akan meninggalkan semua rasa sakit ini. Aku terjun dengan mantap, tanpa keraguan sedikitpun. Aku melesat... terus dan terus ke bawah. Sebentar lagi, pikirku.

Di lantai tiga puluh, aku melihat seorang nenek tetanggaku. Ia sedang menyiram bunga di jendela sambil sesekali menciuminya. Sekilas, aku melihat wajah yang sangat bahagia terpancar di wajahnya. Bagaimana bisa? Padahal seingatku baru saja minggu lalu ia ditinggalkan suaminya untuk selamanya.

Aku terus meluncur ke bawah.

Di lantai dua puluh lima tempat aku tinggal, aku melihat lewat jendela kamarku sendiri. Dan... What the...!! Sahabatku yang sekamar denganku sedang menciumi celana dalamku. What the....! Apa?!? Padahal selama ini dia sangat kuhormati, sangat kupercaya dan sangat kukagumi! Mengapa!? Apa selama ini dia menyembunyikan siapa dia sebenarnya???

Aku terus meluncur ke bawah.

Di lantai sembilan belas, aku melihat seorang anak kecil sedang asyik bermain basket. Ia memantul-mantulkan bola ke tembok dan menangkapnya kembali... di atas sebuah kursi roda. Yap, anak itu baru saja kehilangan kedua kakinya karena kecelakaan. Padahal ia hampir saja mendapatkan beasiswa basket. Herannya... ia tersenyum.

Di lantai lima belas dengan cepat aku melihat dua orang suami istri yang sedang bertengkar. Sampai si suami memukuli istrinya!! Aku pengen berteriak mencegah, tapi tubuhku terus meluncur ke bawah. Padahal pasangan itu terlihat selalu akur dan romantis di mana pun mereka berada.

Di lantai sepuluh, aku melihat seorang yang baru saja dikhianati sahabatnya sendiri sehingga ia harus dipecat dari pekerjaannya. Tapi yang aku lihat bukan orang yang sedang depresi. Orang itu malah tertawa, sambil memetik gitar dan bernyanyi!

Apa-apaan ini? Mengapa mereka semua masih bisa bergembira? Bukankah mereka baru saja dihajar oleh kekejaman dunia ini? Mengapa malah ada yang terlihat sempurna di luar ternyata mereka pada dasarnya rapuh di dalam? Mengapa? Padahal... masalah mereka tak kalah berat dibanding masalahku.

Dan dalam waktu sekian detik, aku seperti melihat kelebatan kilasan kenangan masa laluku. Di mana aku masih bisa mencari pekerjaan baru, melihat kenanganku yang paling indah dengan istriku dan menyelesaikan semuanya dengan baik-baik.

Ya Tuhan, aku menyesal.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Minggu, 14 Desember 2008

Bercakap-cakap dengan Yesus di Atap

Malam itu malam yang sangat dingin. Baru saja hujan deras di Surabaya. Cuaca sangat dingin dan angin yang bertiup dinginnya sangat menusuk.

Aku berdiri di atas atap sebuah gedung lantai dua belas. Karena di Surabaya jarang ada gedung pencakar langit, pemandangan kota di malam hari terlihat dengan jelas dan sungguh indah. Aku bisa melihat kendaraan yang lalu lalang di bawahku. Aku bisa menghirup udara dan bau tanah yang masih segar. Dan di atap itu gelap dan tidak ada siapapun, kecuali aku dan Yesus.

Kami bersandar di sebuah tembok pembatas dan memandangi seluruh kota yang gemerlap di malam hari. Aku menoleh pada Yesus. Pandangannya masih menerawang jauh. Aku bisa melihat wajahNya yang cerah dan tersenyum melihat kota Surabaya ini.

"Aku punya impian," kata Yesus tiba-tiba, "Aku rindu seluruh kota ini dipakai untuk kemuliaan BapaKu."

Aku menoleh pada Yesus. Aku hanya diam.
"Masih banyak orang-orang di kota ini yang belum mengenal Aku dan BapaKu. Ada juga yang sok kenal saja... tapi Aku kenal mereka semua."

Aku memandang ke kejauhan, melihat kendaraan yang lalu lalang di bawah. Saat itu aku menyadari bahwa kita, manusia, begitu kecil. Kalau dilihat dari lantai dua belas saja sekecil ini, apalagi Bapa yang memandang dari langit sana. Tapi hebatnya, Bapa mengenal kami satu per satu.

"Yesus," kataku, "memangnya kota ini bukan milikmu?"

Yesus menoleh padaku. SenyumNya sangat menawan dan menarik. KataNya, "Bukan. Dunia ini bukan milikKu. (Matius 4:8-9)"

Sepi lagi.

Iseng-iseng aku melongok turun ke bawah. Jantungku serasa seperti melorot ke bawah. Perutku langsung jadi mules. Perasaan takut bercampur gentar ketika melihat betapa tingginya posisi saat ini aku berada. Bukannya aku takut ketinggian, tapi membayangkan jatuh dari lantai dua belas... wuih!

Aku menoleh lagi pada Yesus. Tiba-tiba entah kenapa aku jadi teringat akan ketika Yesus dicobai Iblis; ketika Ia disuruh melompat dari atap sebuah Bait Allah. Apa perasaan Yesus saat itu? Takut ketinggian? Atau kuatir kalau malaikat tidak menatang Dia?

"Tidak," jawab Yesus tiba-tiba, "Aku tidak takut ketinggian dan Aku yakin malaikatKu akan menatangku. Hanya Aku tidak mau tunduk kepada Iblis. (Matius4:6-7)"

Whew... padahal aku hanya berandai-andai dalam pikiranku, tapi ternyata Yesus bisa membaca pikiranku. Ia mengerti semua isi hatiku.

"Lalu, apa yang Engkau harapkan pada kota ini?" tanyaku.

Yesus menoleh lagi padaku dengan senyumnya yang luar biasa manis. "Aku menghendaki seluruh kota ini menjadi muridKu dan bukan hanya mengenalKu. Murid adalah seorang yang mau diajar dan dibentuk. Murid adalah seorang yang mau menerima proses dari sebuah jalan menuju kemuliaan. Aku tidak mau warga kota ini bersantai-santai dan tertidur. Setiap dari mereka harus bangun dan berjaga-jaga untuk mempersiapkan kedatanganKu yang kedua kali."

"Lalu, apakah aku sudah Kau akui sebagai muridmu, Tuhan?" tanyaku.

Yesus hanya tersenyum.

*Sebuah coret-coret dari inspirasi yang kudapat - pengalaman pribadi bersama Yesus di atap Empire Building. Thank you Lord for your presence there that night.*

Senin, 17 November 2008

Akhir yang Indah

Kisah hidup Ovi kecil sangat miris untuk dibayangkan. Ia dilahirkan disebuah desa yang sangat jauh dari keramaian saat itu. Keluarga bekerja keras membanting tulang demi membeli sebungkus susu bubuk dan pada saat itu sangat susah didapat bahkan harganya sangat mahal untuk ukuran keluarga itu.

Waktupun sangat cepat berlalu, Ovi kecil pergi ke sekolah minggu dengan baju jahitan sang mama. Ovi sebenarnya malu mengenakan baju yang dijahit oleh mamanya, karena kain bajunya didapat dari sisa-sisa kain jahitan tetangganya. Tapi namanya anak kecil tidak menjadi masalah besar untuk anak seumurnya. Ovi kecil seorang anak yang sangat pemalu, sehingga membuat dirinya sulit untuk bergaul dan tidak banyak memiliki banyak teman. Hari-harinya ia lewati bersama sang nenek yang sangat setia menjaganya ketika kedua orang tuanya bekerja diladang.
Ovi kecil sangat disayang oleh keluarganya, akan tetapi ketika usianya menginjak 7 tahun semua mulai berubah. Ovi kecil tidak mengerti ketika kakinya dipukul menggunakan rotan oleh ibunya. Suatu hari, ovi yang baru berusia 7 tahun diminta oleh ibunya untuk mengangkut air dari sungai yang berada tepat dibelakang rumah kira-kira 50m. Dengan tergesa-gesa, Ovi yang sedang bermain-main dengan anak tetangganya berlari kerumah setelah mendengar mamanya memanggil berulangkali. Setelah sampai dirumah Ovi langsung dipukul oleh mamanya. 

“Ma, kenapa Ovi dipukul? Ovi kan cuma bermain dengan Ani sebentar…” 
Tak sanggup berkata lagi karena kesakitan ovi hanya menangis.

“Mama kan sudah panggil Ovi berkali-kali, kalau dipanggil harus cepat-cepat datang! Memangnya telingamu kamu letakkan dimana??!!”

Waktu terus berputar, ketika usia Ovi mulai beranjak dewasa. Memang, sangat butuh perjuangan bagi hidup Ovi, ketika ia ingin melanjutkan pendidikan. Dana untuk mebiayai sekolahnya saja tidak ada, karena kakaknya Joseph sedang duduk dibangku SLTP kelas 2. Akan tetapi Ovi bersikersas ingin terus bersekolah.

Suatu hari ketika Ovi pergi ke gereja. Hari itu Pendeta berkotbah tentang hal kekuatiran. Dan ada satu ayat yang melekat dihati Ovi yakni Filipi 4:13 “segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekutan kepadaku”. Inilah permulaan perjuangan Ovi yang sesungguhnya. Ketika imannya mulai ditempa, kehidupannya perlahan-lahan diubahkan oleh Tuhan. Ketika ia mulai mempelajari Alkitab, sifat pemalunya diubahkan. Hikmat dan kepintaranpun ia terima dari Tuhan, sehingga sekolahnya digratiskan. Dirumah, Ovi sangat akrab dengan kakaknya Joseph, setiap sore Ovi selalu dibantu kakak lelakinya memasak.

“Kak, gimana disekolah hari ini?” 

Ovi mencoba bertanya kepada kakaknya yang sangat pendiam. 

“Baik-baik aja”.
Bulan desember tahun 2002, merupakan bulan yang sangat berarti bagi Ovi. Inilah pertama kalinya ia bergabung dalam  persekutuan pemuda gerejanya. Bersama sang kakak Joseph, ia berada digereja sepanjang hari itu untuk mendekorasi gereja karena sebentar malam akan diadakan perayaan Natal Yesus Kristus kaum muda gerejanya. Dalam hati, Ovi menyimpan tanya “ Kok aneh ya, kakak tumben-tumbennya ga pemalu. Ikut ngedekor gereja bareng teman-teman yang lain. Trus rajin banget lagi”.
Dalam hati, Ovi terus bertanya. Memang tidak biasanya Joseph mengeluarkan kalimat-kalimat yang lucu sehingga membuat sahabat-sahabat gerejanya tertawa.
“Seph, makan apa kamu hari ini? Kok dari tadi aku dengar kamu tuh ngomong terus! Ga ada matinya?” ejek Irwan salah seorang temannya.
“ ih kalian ini bisa aja. Memang aku jarang-jarang mau ngomong dengan bahasa manusia” teman-temannya kembali menertawakan omongannya.
lho beneran, jangan diketawain. Inikan mau akhir tahun, siapa tau tahun depan kita ga sama-sama lagi dan siapa tau aku akan pergi jauh”.
Sambil tersenyum kecil sahabat-sahabatnya berlalu darinya.
Natal telah berlalu, tahun baru yang seharusnya menjadi sebuah pesta yang menyenangkan dan sangat meriah didesanya Ovi, namun ia harus melewati tahun baru dirumah sakit. Joseph harus dirawat dirumah sakit karena menderita penyakit malaria. Sebelumnya setelah Natal Joseph sempat mengeluhkan sakit kepalanya yang sangat luar biasa sakitnya kepada Nela kakak tertua mereka. 

“ Kakakmu terserang malaria tropica, sekarang ia tidak bisa melihat lagi. Kondisinya pun sangat lemah dan dia sudah tidak sadar lagi.”
Otot-otot tubuh Ovi langsung lemah mendengarkan perkataan sang Mama.
“ Tuhan……. Akankah secepat ini Engkau memanggil kakak? Tuhan….. berikan kekuatan buat kami semua menghadapi semua ini.” Itulah yang ada dalam pikiran ovi setelah mengetahui kalau kakaknya sudah tidak sadarkan diri. Ovi seakan-akan tidak percaya akan apa yang terjadi karena baru kemarin Joseph bersama Nela kekota untuk berobat, akan tetapi kondisinya sudah sangat lemah. Baru kemarin Ovi membuat makanan spesial untuk kakaknya dan Joseph sangat lahap menyantap makanannya, dan baru kemarin Joseph berkata ke Ovi, “De, kamu harus rajin belajar. Jangan seperti kakak ini yang harus putus  ditengah  jalan, tapi kakak berhenti sekolah tadi karena kakak kasihan sama Ayah bekerja sendirian dikebun. Tahun depan kakak akan mencari kerja dan kakak janji akan membiayai sekolahmu sampai kamu masuk kuliah nanti. Ya??” 
Ovi semakin sedih ketika mengingat perkataan kakaknya. Tak berapa lama Ovi dan Mamanya berangkat kekota menggunakan angkot. Sesampainya dirumah sakit, Ovi terdiam didepan kamar yang bertuliskan ruang isolasi. Dalam keadaan yang sangat menekan ini, Ovi yang saat itu berusia 15 tahun mencoba untuk tegar. Ovi selalu berdoa meminta mujizat dari Tuhan. Dalam hening malam dirumah sakit, Ovi menatap wajah kakaknya terbaring tak sadarkan diri, tepat jam 12 malam Joseph mengeluarkan kata-kata.

“Ovi, kamu dimana?” 
Ovi kaget mendengar suara kakaknya yang terdengar sayup-sayup namun terus memanggil namanya. 

“ Kenapa Kak? Kakak udah sadar ya? Kakak mau apa?”

“ Vi, Malaikat-Malaikat Tuhan lagi menari dan bernyanyi di atas awan. Pakaian mereka sangat berkilau. Aku mau ikut mereka, nanti kamu yang jagain Mama, Papa, dan ponakan-ponakan kita ya. Kamu harus menjadi orang yang sukses terutama untuk Tuhan.” 
Ovi mulai mengerti kalau kakaknya akan meninggalkan mereka untuk selamanya. Dengan berlinang air mata ia terus mendengarkan perkataan kakaknya yang lagi bercerita dengan Tuhan Yesus dalam alam bawah sadarnya.

Malam minggu itu Ovi sangat lelah, sehingga ia malas untuk mengikuti ibadah Persekutuan pemuda dan remaja. Ovi tidur lebih awal, jam 7 malam ia sudah tidur. Jam 9 malam ia terbangun dan sulit untuk tidur lagi, akhirnya ia memilih untuk berbaring diatas sofa sambil menonton. Sekitar jam 9:30 nya ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu rumah.
“ Ovi, tolong bereskan rumah...”, bapak itu terdiam.
< kenapa pak?” 

“ Joseph telah dipanggil Tuhan, jam 9 tadi…” 

Langsung saja Ovi yang tadinya berdiri lansung terduduk mendengar kata-kata dari bapak itu. Selang beberapa waktu, sekitar 3 jam jenasah Joseph sudah terbaring terbujur kaku dihadapan warga desa yang datang melayat pada malam itu. 
Tiga tahun telah berlalu, Ovi sudah berhasil menyelesaikan pendidikan SMA dikota. Ketika Ovi mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, orang tua Ovi terutama mamanya kurang setuju dikarenakan tidak ada biaya. Ovi mencoba untuk menenangkan dirinya dan terus berdoa mencari jalan keluar dari Tuhan, Ovi juga berpuasa dan berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik dalam kehidupannya. 
“ Tuhan, semua memang mustahil bagiku. Tapi bersama Engkau tidak ada satupun yang mustahil. Aku sudah sampai disini, ini semua karena Engkau. Buat kuat dan mampuku tapi karena Engkau.” Setelah beberapa argumentasi dengan orang tuanya, akhirnya Ovi diijinkan kuliah juga oleh kedua orang tuanya.
Sambil mempersiapkan kuliah, Ovi mengikuti kegiatan sebuah gereja yang sangat bersemangat dalam pelayanan.
Selama beberapa bulan bergabung dikomunitas gereja itu, kehidupan Ovi terus diubahkan. Semangat pelayanan terus bertumbuh seperti ayat Alkitab Roma 12:11. 
Kehidupan Ovi penuh dengan sukacita. Apalagi sekarang keadaan ekonomi keluarganya mulai pulih, kuliahnya hampir selesai dan pelayanannya terus menerus dipakai oleh Tuhan secara luar biasa sebagai seorang penyanyi dan pencipta lagu rohani. Bersama rekan-rekan gerejanya, mereka melakukan pelayanan didaerah, luar daerah bahkan luar kota.

Selama setahun, banyak jiwa diselamatkan. Banyak orang percaya kepada Tuhan melalui kesaksian hidup anak muda dimana Ovi beribadah.

Begitu pula dengan kehidupan asmaranya. Ovi yang diam-diam ditaksir oleh Chandra akhirnya menerima Chandra sebagai kekasihnya.

Sudah hampir setahun Ovi menjalin kasih bersama Chandra, keluarga dan teman-teman sepelayanan mereka sangat mendukung pelayanan dan jalinan kasih Ovi dan Chandra. Acara pertunanganan pun dilaksanakan, dan semua kerabat menghadiri acara tersebut, akan tetapi seusai acara pertunangan itu, Ovi tiba-tiba terjatuh. 

“ Ovi, kenapa? sayang… kamu baik-baik aja kan?” 

Chandra langsung memapah tubuh Ovi yang tiba-tiba sangat lemah. 

“ Aku baik-baik aja, mungkin aku hanya lelah, mempersiapkan acara ini. Aku cuma perlu istirahat.”

Dua hari sudah Ovi terbaring lemah dirumah. Dan dengan setia Hendra datang menemani Ovi. Malam itu perasaan Ovi sangat kacau, tubuhnya melemah seiring berputarnya jarum jam.

“ Tuhan……”  dengan penuh kesakitan Ovi merintih dalam doanya. “ Tuhan…. Tuhan… apa yang Engkau ijinkan terjadi dalam hidupku ini? Jika Engkau mau aku kembali padaMu saat ini, aku minta waktu sebentar, masih banyak pelayanan yang belum selesai. Beri waktu untukku Tuhan.” 

Keesokkan paginya Ovi merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Lalu ia memutuskan ke Dokter tanpa ditemani siapapun. Setelah selesai pemeriksaan, dokter menatap iba kepada Ovi. 
“ Dok, apa yang membuat saya cepat lelah dan sakit bagian tulang belakang saya?”
Dokter terdiam, lalu mengeluarkan kata-kata, 
“ Mbak, saya minta maaf kalau saya harus mengatakan yang sebenarnya, sudah banyak pasien yang datang dengan keluhan yang sama. Tapi, percaya akan mujizat saja mbak. Karena anda mengidap kanker tulang belakang stadium akhir……” ucap dokter dengan hati-hati. 

Bagai tersambar petir dan dengan hati yang sangat berat, Ovi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan pemeriksaan. Meskipun keadaannya seperti itu, Ovi masih mampu untuk mensyukuri keadaannya.

Dengan sisa kekuatan yang ada pada dirinya dan Tuhan memang baik menyertai hari demi hari yang dilewati untuk melakukan pelayanannya yang dipakai Tuhan secara luar biasa dan ia menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan. Pelayanannya benar-benar menjadi berkat.
Malam itu...
“ Sayang… aku sangat mengasihi kamu, seutuhnya aku ingin menjadi pendamping hidupmu.”
Kata-kata Ovi semakin membuat Chandra bingung. Tapi akhirnya Ovi menerima Chandra.

Pagi itu, Ovi duduk dimeja kerjanya mengambil buku catatan pelayanannya yang tebal. Buku itu berisi program dan jadwal pelayanannya yang sangat padat. Hingga 3 tahun pelayanannya setelah ia benar-benar bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, ia menatap foto keluarganya yang sudah dipenuhi kasih karunia Allah, melihat buku hariannya dari kecil dan mendapati foto Joseph kakaknya yang telah dipanggil oleh Tuhan ketika berumur 18 tahun. Betapa ia butuh perjuangan yang sangat besar untuk bisa menyelesaikan pendidikan sampai pada saat ia dipakai sebagai pelayan Tuhan secara luar biasa. 
“ Tuhan….. terimakasih” ucapnya berkali-kali.

Hari itu, Ovi mengunjungi seluruh keluarganya begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Dengan tertatih-tatih ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Dirumahnya akan diadakan ibadah yang menjadi rutinitas gereja. Ovi mandi, dan pada malam itu ia memakai gaun terindah yang ia miliki, seakan-akan ia tahu jikalau inilah saatnya ia dipanggil oleh Bapa disurga. Sebelum ia keluar dari kamar, ia membereskan semua pakaian-pakaiannya. Semua buku-buku dibiarkan berada diatas meja dan ada sebuah tulisan dalam secarik kertas, 

“ mudah-mudahan bisa menjadi berkat! Amin.” 

Ovi keluar dari kamanya dan langsung menjadi sorotan keluarganya.

“ Vi, mau pesta dimana? Kok pakai gaun?”  tanya mamanya. 

“ Ovi mau pesta disurga Ma. (hehehehehe… sambil tersenyum kecil).” 

Ovi tersenyum sambil menahan sakit dan ia berusaha untuk terlihat bugar.

“ Lho, yang, kamu kok pakai gaun? Kamu terlihat tambah cantik deh…” 
Chandra memuji kekasihnya yang sangat cantik malam itu.

Jemaat dan kerabatnya sudah berkumpul dirumah. Ibadah juga sudah dimulai. Ovi kelihatan tidak tenang karena tubuhnya sangat kesakitan selama ibadah, dia mengikuti ibadah antara sadar dan tidak. Ketika ia dimintai untuk mnenyampaikan kesaksiannya Ovi langsung teesadar.

“ Shalom… puji Tuhan. Saya bersyukur malam ini sangat tepat diadakan ibadah dirumah kami, karena ini terakhir saya akan beribadah. Saya akan pulang dan kepulangan saya…..” Banyak jemaat yang tidak mengerti dengan ucapannya. “ Sekarang sangat tepat, program saya sudah selesai dalam pelayanan, keluarga saya sangat diberkati dan diberi damai sejahtera. Chandra yang sangat mengasihi saya, semoga Tuhan memberi kekuatan buat dia…”
setelah selesai berkata-kata, Ovi terduduk diatas sofa.
Dalam hatinya ia berdoa… “ Tuhan….. sudah selesai. Ambillah aku, bawaku menghadapMu. Aku sudah siap.”

Tiba-tiba tubuh Ovi rebah diatas sofa dengan penuh kedamaian, sambil memegang tangan kanan kekasihnya Chandra. Chandra kaget melihat kondisi kekasihnya yang terbujur kaku didepannya. Chandra tidak percaya akan semua perkataan kekasihnya diakhir-akhir perjumpaan mereka kalau ia akan pulang kerumah Bapa disurga, kenyataan yang terjadi membuat Chandra belum bisa percaya kalau Ovi telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. 
“ Sebenarnya Ovi sakit apa Ma?” Tanya Chandra kepada mamanya Ovi. 
“ kami juga tidak tahu, karena selama ini dia sangat sibuk dengan pelayanannya, dan dia tidak ada mengeluh sakit kecuali waktu dia sakit kemarin.” 
Nela keluar dengan membawakan sebuah hasil pemeriksaan yang mengatas namakan Joy Lovirismas dengan hasil yang sangat mengejutkan yaitu ‘kanker tulang’

Kepergian Ovi benar-benar meninggalkan kenangan yang indah. Ia meninggalkan cinta dan kasih kepada orang-orang sekitarnya. Meninggalkan karya yang terindah dari Tuhan untuk umat manusia melalui syair dan bait demi bait lagu ciptaannya. Meninggalkan harapan bagi Chandra yang ingin menjadi pendamping hidupnya. Ovi memang sudah pulang lebih awal kerumah Bapa, namun teladan dirinya benar-benar menjadi berkat bagi orang-orang yang mengenal dirinya. 

Kepergian Ovi bukan akhir dari pelayanan anak-anak Tuhan. Kepergiannya di usia 24 tahun memang sangat disayangkan, akan tetapi itulah rencana Tuhan dalam setiap kehidupan manusia. Orang akan tahu betapa besarnya pekerjaan seseorang ketika ia sudah tidak ada dalam lingkup itu. Tuhan punya rencana yang sangat besar dalam setiap pribadi manusia. Ketika Tuhan mau memakai seseorang untuk menjadi pelayananNya, Tuhan tidak melihat latar belakang seseorang untuk dipakai secara luar biasa. Akan tetapi Tuhan melihat betapa besar kemauan dan kesiapan seseorang untuk mau dipakai. Akhir yang indah sebuah kehidupan bukan saja ketika kita sukses sampai tua dan tidak bisa apa-apa lagi, tapi ketika kita sukses mempertahankan iman kita kepada Tuhan sampai dimana Tuhan mau.

Inilah akhir yang indah bagi Ovi….

(thanks for Tata Novelti for this article)
(Bagi teman-teman yang mau nyumbang tulisannya bisa diemail ke jesusinspires@gmail.com)