Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesempatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2009

5 Langkah Menjadi Pemenang


(disadur dari khotbah kebaktian umum I Gereja Mawar Sharon 18 Oktober 2009)

Baca Yesaya 41:10
"janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."

Banyak pebisnis-pebisnis di dunia ini yang bangkrut. Apalagi di saat-saat krisis melanda seperti ini. Semakin banyak perusahaan yang terpuruk keadaannya dan akhirnya tidak eksis lagi. Namun berbeda dengan saya. Sebuah perusahaan yang dimulai dari modal 25 miliar hingga dalam waktu 3 tahun saja perusahaan saya bisa meraup keuntungan mencapai 250 miliar. Banyak orang mulai bertanya pada saya, apa rahasia kunci kesuksesan saya. Apakah saya memang beruntung? Atau apakah saya harus memalsu laporan keuangan saya untuk menghindari pajak berlebih sehingga profit yang kuperoleh lebih besar? Jawabannya tidak. Karena saya hanya melakukan 5 langkah kesuksesan dalam hidupku.

1. Jangan takut

Banyak orang di dunia ini takut untuk maju dan melangkah. Karena ketakutan itulah akhirnya apa yang mereka impikan dan cita-citakan tidak akan pernah terjadi. Ya itu, karena mereka takut untuk melangkah.

Tuhan berkata, "Jangan takut, karena Aku menyertaimu". Yap, Allah menyertai kita. Allah yang kita sembah Allah yang hidup dan luar biasa. Ia menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Dan bila AlLlah yang sehebat itu menyertai kita, masih perlukah kita takut?

Takut itu lumrah. Tapi kita tidak boleh membiarkan ketakutan menguasai kita sehingga mengekang kita untuk maju. Takut seperti itu akan membuat kita mempunya losing mentality. Kalah sebelum perang. Ingat! Kalahkan ketakutan dengan kuasa penyertaan Tuhan.

2. Jangan bimbang

Setelah kita tidak takut, langkah berikutnya yang mungkin akan terjadi adalah kita bimbang. Bimbang adalah suatu kondisi hati di mana kita menganggap kekuatan musuh kita adalah seimbang dengan kekuatan kita. Kita menganggap masalah kita sama besarnya dengan kekuatan kita. Sehingga ketika kita mau maju, ada sedikit keragu-raguan dalam hati kita.

Apa yang Tuhan katakan tentang ini?
"Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu." Karena Ia Allah yang Maha besar, mengapa kita harus meragukan kemampuanNya untuk membawa kita kepada kemenangan.

Bimbang tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan bisa men-downgrade kembali menjadi sebuah ketakutan. Andalkan Tuhan, percayalah Ia adalah Allah kita.

3. Teguhkan hatimu

Setelah Anda tidak bimbang dan takut, berikutnya adalah meneguhkan diri. ALlah bekata, ".. sebab Aku akan menolong engkau."

Menolong di sini artinya sudah bukan dengan kekuatan kita sendiri lagi. Ada tangan-tangan Allah yang menopang kita agar tidak jatuh. Ia membantu kita menyelesaikan setiap permasalahan dengan serius sampai ke akar-akarnya. Hanya saja kita perlu untuk meneguhkan hati kita untuk agar Tuhan tetap menolong kita.

Meneguhkan hati juga berarti teguh pada janji dan perintah Tuhan. Dalam dunia ini yang banyak tipu daya, kita harus tetap teguh untuk hidup lurus di hadapanNya. Contohnya, jangan pernah memalsukan laporan pajak atau pun suap menyuap, hiduplah lurus.

4. Tangan Tuhan memegang tangan kita

Setelah kita tidak takut, tidak bimbang dan kita sudah meneguhkan hati kita, barulah Tuhan menggandeng tangan kanan kita.

Tuhan memegang tangan kanan kita dari belakang untuk memberi support bagi kita.
Tuhan memegang tangan kanan kita dari samping kita untuk menyertai kita.
Tuhan memegang tangan kanan kita dari depan untuk membantu kita meraih kemenangan.
Dan setelah kita meraih kemenangan, Tuhan menjabat tangan kanan kita dan berkata, "Congratulations!"

Tangan Tuhan yang memegang tangan kita selalu tangan kanan, karena tangan kanan lebih kuat. Tuhan sayang kita dan Ia ingin menolong kita dengan sebaik-baiknya juga.

5. Raih kemenangan

Tangan Tuhan membantu kita meraih kemenangan. Matius 6:33 berkata, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Dan untuk mencari Kerajaan Allah itu, tidak lain adalah harus dengan kuasa Allah sendiri dalam rupa Roh Kudus untuk menolong kita menemukan KerajaanNya. Barulah setelah kita menemukan Kerajaan Allah, semuanya akan ditambahkan kepada kita termasuk profit, berkat-berkat lainnya, kesehatan dan jaminan kehidupan.

Sobat JINS, manusia makhluk lemah. Ia takkan bisa maju kalau mengandalkan kekuatan sendiri. Satu-satunya cara adalah mengandalkan Tuhan dan meraih kemenangan itu bersama-sama dengan Tuhan.

Ingat!
Jangan takut karena Allah menyertai kita.
Jangan bimbang karena Ia adalah Allah kita.
Teguhkan hatimu, karena Ia akan menolongmu.
Setelah teguh, tangan Tuhan yang akan memegangmu.
Untuk meraih kemenangan, kita perlu dukungan Tuhan karena kita ini manusia.

Jadi, sobat JINS, siap untuk meraih kemenangan hari ini?

Senin, 12 Oktober 2009

Kuasa Manusia


Mazmur 37 : 34-40

(35,36) "Aku melihat seorang fasik yang gagah sombong, yang tumbuh mekar seperti pohon aras Libanon; ketika aku lewat, lenyaplah ia."

Setiap tahun majalah TIME menetapkan 100 nama orang paling berpengaruh di dunia. Uniknya, nama-nama itu berubah terus. Mereka yang tahun lalu jadi paling berpengaruh, bisa jadi tahun ini tidak lagi. Kejayaan manusia bisa sirna dalam hanya hitungan bulan. Salah satu contoh yang ektrem tampak ketika Tim Russert ditetapkan sebagai jurnalis paling berpengaruh pada TIME edisi Mei 2008. Namun baru sebulan kemudian, RUssert meninggal dunia karena serangan jantung. Betapa fana kekuasaan manusia!

Pemazmur sadar benar akan keringkihan manusia. Seorang bisa saja sangat kuat kuasanya seperti pohon aras Libanon yang kayunya terkenal paling kokoh, paling kuat, tak tergoyahkan sebagai kayu jati. Orang paling berkuasa ini bisa memakai kuasanya untuk menindas kaum lemah. Atau, pamer kuasa dan fasik. Tidak percaya Tuhan karena mengandalkan kemampuan diri. Namun orang semacam ini bisa dengan mudah dilenyapkan Tuhan. Kuasa manusia di bawah kuasa ALlah. Sebaliknya orang yang jujur dan tulus hati akan diteguhkan oleh kuasa Tuhan. Mungkin orang itu di mata manusia tidak terlihat istimewa. Orang biasa-biasa saja. Tetapi naungan kuasa Allah membuat mereka bisa luput dari pengaruh kuasa orang fasik (ayat 40).

Kita tengah hidup di kelompok masyarakat yang gila kuasa. Dari panggung politik sampai ruang rapat gereja, orang berebut mencari kuasa! Bahkan tak jarang dengan cara licik. Betapa bodohnya! Karena Allah akan melenyapkan orang yang tegar tengkuk dan sombong. Lebih baik kita serahkan diri kita untuk dikuasai Tuhan dan biar Tuhan yang mempengaruhi hidup kita.

Jumat, 28 Agustus 2009

Mengapa Beruang Tumbuh Besar?


Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dgn sabar ditepi sungai deras, waktu itu memang tidak sedang musim ikan.

Sejak pagi ia berdiri disana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air.
Namun,tak satu juga ikan yg berhasil ia tangkap. Setelah berkali-2 mencoba, akhirnya..hup .. ia dpt menangkap seekor ikan kecil.
Ikan yang tertangkap menjerit-2ketakutan, si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."
"Mengapa ?: tanya beruang.
"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-2 gigimu," rintih sang ikan.
" Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.
"Begini saja,tolong kembalikan aku ke sungai, setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar, di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku utk memenuhi seleramu." kata ikan.
"Wahai ikan, kau tahu kenapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang "Mengapa," ikan balas bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena aku tidak pernah menyerah walau sekecil apapun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan !" jawab beruang sambil tersenyum mantap. "Ops !" teriak sang ikan.
Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap :"Ohhhh... andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu ..!!!?.
Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita.

Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan;....
Disaat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; ....
Di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; ....
Dan dalam kondisi terburukpun selalu ada kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita....

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita Baca Artikel Lainnya :
Anda Spesial !
Biarkan Tuhan Menilaimu
Pelayan yang baik hati
menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi kesempatan yang besar.

Jumat, 21 Agustus 2009

Tidak Cukup Kuat


Dalam film Kung Fu Panda, penjaga penjara merasa tersinggung ketika utusan Master Shifu memintanya memperketat penjagaan. Ia merasa penjaranya sudah sangat kuat: seribu penjaga, dan hanya satu tahanan, Tai Lung. Belum lagi sistem keamanan yang sangat canggih. Namun, sebuah celah kecil yang luput dari perhatiannya berhasil dimanfaatkan Tai Lung untuk lolos. Dengan kelihaiannya, penjahat itu melumpuhkan para penjaga dan mendobrak sistem keamanan penjara lalu meloloskan diri.

Zefanya menubuatkan kehancuran Niniwe. Saat itu, menurut Life Application Study Bible, Niniwe merupakan pusat kebudayaan, teknologi, dan keelokan di Timur Dekat. Perpustakaan dan gedung-gedung megah menghiasi kota, sistem imigrasi yang canggih mengairi perkebunan yang menghampar permai, perbentengannya diperkokoh dengan 1500 menara. Kota itu beria-ria dan tentram, sikap yang menggambarkan kepongahan dan kesembronoan, dilandasi rasa aman yang palsu. Mirip dengan penjaga penjara tadi, ia merasa paling unggul, tiada tanding, baik dalam kekayaan maupun kedigdayaan. Namun sekitar sepuluh tahun setelah nubuatan ini, Niniwe benar-benar rata dengan tanah, hancur karena kecongkakannya.

Nubuatan ini mengingatkan agar kita waspada terhadap zona nyaman: kesuksesan kita seperti kekayaan, kepandaian atau kekuasaan. Jangan sampai kita terlena sehingga merasa diri kita paling hebat, paling unggul dan tidak memerlukan Tuhan, bahkan merendahkan orang lain. Bukankah "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati"? (Yakobus 4:6)

Minggu, 26 Juli 2009

Bergerak

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan). ”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “ChaNge”. Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Ditengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.” Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak. Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!” Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak. Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan? Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main ………… ”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu …..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya. …”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang……. ..”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan) , tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah. Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa
depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras. Ia bisa menilai “gila” nya orang di sana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasa sama dengan mereka, ia pun protes. “Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila.
Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu
mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat.” Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana. Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, Jadi omong kosong perubahan akan datang.
Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak. Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinny a hanya berwacana saja. Wacana yang kosong akan destruktif.

“Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.”

Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!

“Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.”

Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural. Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.

Manusia pemenang adalah manusia yang responsif. Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah :

“Winners take action…they simply get up and do what has to be done…”.

Selamat bergerak!

Rhenald Kasali

Kamis, 09 Juli 2009

Be Ee Je

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca satu artikel bagus mengapa ada orang yang sukses dan ada orang yang gagal. Beberapa waktu juga saya pernah menulis sebuah artikel tentang orang cenderung berkelit dari kenyataan ketika ia gagal dalam memperoleh sesuatu. Sebenarnya, ada banyak prinsip dan sikap hidup yang menentukan sukses tidaknya seseorang. Salah satunya adalah belajar tidak menyalahkan.

Di sini JINS mau membagi tiga sikap diri yang bisa menyeret seseorang menjadi pecundang, tidak berhasil dan memiliki gambar diri yang salah. Ingat, kesuksesan ditentukan oleh citra diri yang baik, karakter-karakter yang membangun dan lingkungan yang mendukung. Ketiga sikap diri yang meruntuhkan ini disebut BEJ (Blame, Excuse, Justify)

Blame

Blame artinya menyalahkan. Manusia cenderung menyalahkan orang lain apabila tujuannya tidak tercapai, outcome yang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau pun kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika seseorang miskin, ia mulai menyalahkan lingkungannya, negaranya yang miskin, presidennya yang tidak becus dan lain sebagainya. Ia bahkan pula menyalahkan orang tuanya, keluarganya yang tidak kaya, mengapa orangtuanya tidak kaya dan sebagainya.

Berhentilah menyalahkan! Tidak ada gunanya! Siapapun atau apapun yang Anda salahkan itu tidak ada gunanya! Tidak akan membuatmu jadi kaya sekejap! Coba lihat ke dalam dirimu sendiri. Berapa besar persentase faktor kegagalan dalam diri Anda bila dibandingkan dengan faktor luar? Bahkan kita pun jangan terlalu menyalahkan diri kita sendiri atas apa yang kita lakukan.

Excuse

Alasan. Alasan dan alasan. Selain menyalahkan, manusia juga cenderung beralasan. Contoh paling sederhana adalah misalnya kita terlambat ke kantor, kita pasti beralasan mulai dari rumah jauh, jalanan macet, telat bangun dan sebagainya.

Dalam konteks kesuksesan dalam mencapai impian, misalnya.. "Saya kan masih muda, belum punya modal, belum berpengalaman," atau "Saya kan sudah pensiun, jadi saya tidak kuat lagi." Sesuatu hal yang menyedihkan adalah yang mereka katakan adalah KEBENARAN. Memang benar yang mereka katakan adalah kebenaran, tapi sikap diri seperti ini TIDAK ADA GUNANYA! Satu-satunya manfaat dari Excuse ini adalah menghentikan dia menjadi kaya, mencegahnya melakukan take action untuk menjadi lebih baik.

Justify

Pembenaran. Ketika ada orang lain yang lebih sukses dari dia, dia bilang, "O.. terang aja. Dia kan anak orang kaya," atau "Dia kan disekolahkan di luar negeri, pinter bahasa Inggris". Atau ketika dia melihat orang yang dulunya anak kurang berada yang sekarang sukses dia bilang, "O.. terang aja, dia meski anak orang miskin tapi koneksinya luas, orangnya ulet. Makanya dia bisa kaya." Tapi begitu ditanya, "lha kalau kamu kenapa?" dan dia jawab, "Lah saya kan anak orang menengah, makanya daya juangnya juga menengah dan setengah-setengah." Sobat JINS, coba lihat alasannya...

Lihat ketiga ciri di atas. Ketika orang macam ini tidak berhasil, dia akan selalu TELL STORY, dan dia menceritakan BEJ.

Lalu bagaimana cara agar tidak BEJ?

Salah satu kebiasaan orang sukses adalah selalu BELAJAR dalam segala hal, bukan menyalahkan. Ketika dia belum berhasil, dia selalu bertanya, apa yang sudah saya pelajari, apa yang bisa membuatku lebih sukses, lebih hebat dan lebih berkualitas, lebih maju, dan lebih-lebih lainnya.
Mungkin bila suatu ketika Anda belum berhasil dan Anda bertemu dengan orang yang lebih berhasil daripada Anda, daripada BEJ, sebaiknya ganti pertanyaan Anda dengan "Apa yang bisa kupelajari dari orang ini?" Tanyakan ini pada diri Anda setiap hari dan hidup Anda akan menjadi lebih baik dan lebih dekat pada kesuksesan.

Minggu, 03 Mei 2009

Ehud

Hakim-hakim 3 : 13-30
"Ehud"

Sobat JINS, awal minggu ini JINS mau membahas tentang seorang pahlawan Israel yang mungkin tidak terlalu terkenal bernama "Ehud". Di kisah Hakim-hakim di atas, karena kesembronoan bangsa Israel sehingga menimbulkan murka Allah, maka Allah menghukum mereka di bawah penjajahan raja Moab bernama Eglon.

Tapi karena kebaikan dan belas kasih Allah, akhirnya Allah mengirimkan seorang penyelamat bernama Ehud. Siapakah Ehud sebenarnya? Mari kita kupas satu per satu siapa Ehud ini sehingga dia disebut-sebut pahlawan, dan hikmah apa yang bisa dipetik dari kisahnya.

Singkat cerita, Ehud adalah seorang yang biasanya membawa upeti kepada raja Moab. Ia kemudian ditugaskan oleh Allah untuk membunuh raja Moab dan membebaskan bangsa Israel. Ia seorang yang kidal tapi cerdik. Akhirnya setelah membunuh raja Moab, bangsa Israel pun hidup bebas delapan puluh tahun lamanya. Di sini moral ceritanya bukan kita diajarkan untuk membunuh orang yang tidak kita suka. Tetapi di baliknya ada lebih banyak moral lagi.

Kurir

Pekerjaan Ehud hanya seorang kurir. Ia bukan pengusaha, bukan prajurit, bukan pekerjaan-pekerjaan elit lainnya. Ia hanya seorang kurir (coba bayangkan tukang susu atau pak pos di rumah). Bukan pekerjaan yang bagus! Tapi Tuhan tetap memakai ia luar biasa. Dan dalam misinya, Tuhan tidak mengubahkan dia menjadi orang lain. Ia tetap sebagai kurir, namun dengan pekerjaannya itu ia bisa melaksanakan perintah Tuhan.

Intinya, Tuhan tidak pernah mengubah kita menjadi seseorang yang lain. Tuhan selalu mempergunakan apa yang kita miliki dan melipatgandakannya. Ingat 5 roti dan 2 ikan untuk makan ribuan orang? Yap, Tuhan selalu punya cara untuk mempergunakan apa yang kita miliki untuk kemuliaan kerajaanNya. Tuhan tidak pernah mengubah kita menjadi orang lain untuk menjalankan misiNya.

So, siapapun Anda sekarang, apapun pekerjaanmu, jangan minder. Jangan risih. Apabila kita siap, Tuhan akan menggunakan kita tidak jauh-jauh dari apa yang kita kerjakan sehari-hari.

Kidal

Jaman itu, kidal berarti tidak mempunyai satu keahlian yang khusus. Kidal berarti memakai tangan kiri untuk setiap kebiasaan yang dilakukan oleh tangan kanan pada umumnya. Dan di jaman itu, orang kidal dianggap orang yang biasa-biasa saja, tidak mempunyai keahlian khusus. Begitu pula orang-orang menganggap Ehud waktu itu. Ehud dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja.

Tapi Tuhan beda. Ia mempergunakan ke"biasa-biasa"an Ehud untuk rencanaNya. Lihat saja bagaimana Ehud menempa pedang pendek dan menyembunyikan ke pangkal pahanya. Karena ia kidal, ia tidak ketahuan ketika ada pemeriksaan masuk ke rumah peranginan raja Moab. Ia dengan mudah menusuk dengan tangan kirinya sedangkan musuhnya tidak waspada dengan tangan kirinya.

Di jaman Daud, pasukan elit khusus raja semuanya kidal. Karena prajurit kidal akan membuat prajurit normal dengan tangan kanan kesulitan bertahan sehingga serangan akan mudah masuk. Jadi, kidal adalah anugerah. Kelemahan kita akan dipakai Tuhan luar biasa! Asalkan kita mau dengan baik-baik mendengarkan suaraNya.

Cerdik

Meskipun Ehud hanya seorang kurir yang kelihatannya tidak berpendidikan tinggi, ia cerdik. Di firman Tuhan sudah dikatakan kalau kita harus tulus seperti merpati dan cerdik bagai ular. Lihatlah bagaimana Ehud menyembunyikan pedang pendeknya, bagaimana ketika ia melarikan diri; bagaimana ketika ia mengabarkan misinya sukses dengan meniupkan sangkakala.

Dengan kesemuanya itu, kelemahannya, pekerjaannya, Ehud dipakai Tuhan luar biasa! Ia mampu menyelesaikan misi Tuhan dengan menggunakan semua yang ia punyai. Hingga akhirnya bangsa Israel terbebas delapan puluh tahun lamanya berkat jasanya. Wow...

Sobat JINS, percayakah bahwa Tuhan akan mempergunakan kita seperti Ia mempergunakan Ehud? Ia akan memakai apa yang ada di dalam diri kita dan bukan apa yang tidak kita punyai untuk kemuliaanNya. Ia akan menggunakan kelemahan kita untuk menjadikan sesuatu yang kuat. Ia hebat dan luar biasa karena apapun yang diberikan kepada kita tidak akan sia-sia.

So, sobat JINS, mulai hari ini janganlah rendah diri akan segala kekuranganmu. Minta Tuhan singkapkan apa yang menjadi rencanaNya sehingga semua kelemahan kita jsutru akan menjadi kekuatan kita. Seperti Ehud.

Kamis, 23 April 2009

1000 : 1

Bacaan : Kejadian 40

Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya (Kejadian 40:23)

Salah satu dialog dalam film "Dumb and Dumber" yang masih saya ingat adalah ketika Lloyd Christmas menyatakan cinta kepada Mary Swanson. Mary menolak. Lloyd tidak menyerah. Ia bertanya, berapa banyak kesempatan yang ia miliki untuk mendapat cinta Mary. Lalu wanita itu menjawab: seribu banding satu. Anehnya, Llyod justru bersorak gembira mendengarnya. "Itu berarti saya masih memiliki kesempatan, kan?"katanya.

Begitulah seorang yang optimis. Ia akan berfokus pada kesempatan yang ada, sekecil apa pun kesempatan itu. Karenanya ia akan selalumempunyai pengharapan; tidak akan patah arang dalam kesusahan.

Yusuf juga seorang yang optimis. Ia tidak putus berharap, pun ketikaia berada dalam penjara. Ia menolong juru minuman dengan menafsirkan mimpinya. Lalu ia berpesan, "Ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini" (ayat 14). Kesempatan yang Yusuf miliki itu memang tidak besar, buktinya si juru minuman kemudian melupakannya (ayat23). Namun, justru dari kesempatan kecil tersebut, Yusuf mengawali kisah suksesnya di Mesir.

Mungkin saat ini kita tengah berada dalam "penjara kesulitan". Dan kesempatan yang kita miliki untuk keluar dari situ begitu kecil. Jangan berkecil hati. Jangan menyerah. Teruslah berusaha. Lakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Ingatlah bahwa dari kesempatan kecil itu tidak jarang tersedia jalan yang lebar bagi kesuksesan. Seperti yang Yusuf alami -RY

KESEMPATAN SEKECIL APAPUN ITU MENUNJUKKAN MASIH ADANYA HARAPAN

Senin, 06 April 2009

Think Positive And Be Optimistic

For as he thinks in his heart, so is he (Ams 23:7a)
'Kita adalah sebagaimana apa yang kita pikirkan'


Pikiran adalah medan peperangan yang sesungguhnya. Menang kalah suatu pertempuran ditentukan oleh pikiran seseorang. Hasil akhir selalu ditentukan oleh bagaimana seseorang memandang tantangan yang ada didepannya. Kalau seseorang selalu memikirkan kekalahan maka dia sudah kalah sebelum bertempur. Dan tak perlu diragukan dia pasti akan benar-benar mengalami kekalahan pada akhirnya.

Tapi orang yang optimis berbeda. Dia selalu percaya bahwa ada jalan keluar untuk suatu masalah. Maka dia tidak akan menyerah dan dengan pertolongan Tuhan pasti akan keluar sebagai pemenang. Pasti begitu.

MEMENANGKAN PEPERANGAN DENGAN CARA PANDANG

Apapun peperangan itu. Masalah keuangan, masalah pekerjaan, karir, teman hidup, konflik keluarga atau apapun juga. Hasil akhir akan ditentukan dari bagaiman cara pandang kita. Kalau kita berpikir negatif dan gagal maka kegagalanlah yang akan kita terima. Sebaliknya pikiran yang positif akan membuat kita kreatif. Dan dengan inspirasi dan pertolongan dari Tuhan, ada kemenangan besar yang tersedia dibalik masalah-masalah itu.

'Dibalik pertempuran besar ada kemenangan yang besar'. 'Semakin berat masalah yang hadapi, semakin besar pula kemuliaan yang Tuhan sediakan'.

Kalau kita membaca kitab Bilangan pasal 13 kita menemui ciri-ciri orang negatif dari 10 orang pengintai yang dikirim Musa ke Tanah Perjanjian. Orang-orang yang negatif biasanya suka komplain, menggerutu, menyalahkan orang lain, takut menghadapi tantangan dan tidak mau susah. Menyerah sebelum berusaha.

MENJAUHI PENULARAN PENYAKIT NEGATIF

Professor Meyer Feldberg, Dekan Columbia Business School yang terkenal itu mengatakan: 'Saya perlu dikelilingi oleh orang-orang yang berpikir positif. Orang-orang yang negatif menyedot dan menghabiskan energi saya'.

Orang-orang yang negatif bukan saja menghancurkan dirinya sendiri tapi juga membuat capek orang-orang disekelilingnya. Itulah yang dilakukan oleh 10 pengintai di Bilangan 13. Mereka juga mempengaruhi dan melemahkan orang lain untuk bersama-sama memboikot suatu visi yang baik.

Itu sebabnya orang-orang yang negatif kumpulnya juga dengan mereka mereka yang punya penyakit yang sama.

Ok kita harus menjauh dari orang-orang seperti ini.

Kita perlu bergaul dengan orang-orang seperti Caleb dan Joshua. Orang-orang yang berani mengklaim janji Allah dengan bekerja keras dan berpikiran positif. Caleb berkata: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! " Wuiiih. Lelaki yang sangat optimis. (Ini baru tipe pria yang perlu dicari oleh anda-anda yang masih single dan available).

MENYEMBUHKAN POLA PIKIR NEGATIF

Lalu bagaimana kalau kita sudah mulai terjangkit penyakit negatif ini? Pertama kita harus ingat bahwa kita adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi. Tinggalkan rasa minder dan mengasihani diri sendiri. Mungkin ada trauma pengalaman yang membuat kita bersikap selalu pesimis dan negatif. Ijinkan Tuhan mengangkat self-esteem yang sudah terlanjur turun begitu rendah. Pandang Yesus dan sadari bahwa kita telah Dia
angkat menjadi pewaris Kerajaan Surga bersama-sama denganNya.

Kedua kita harus ingat bahwa Allah kita tidak lagi tertidur saat ini. Firman Tuhan katakan Dia tidak pernah tertidur dan tak pernah terlelap (Maz 121:4). Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia pasti menyertai kita dalam pertarungan- pertarungan kita. Dan bila Tuhan beserta kita, siapakah lawan kita? Tidak ada. Kemenangan pasti
dipihak kita.

Ketiga. Biasakan untuk tetap optimis sekalipun kemenangan anda belum terjadi. Penundaan atau delay adalah latihan untuk memiliki mental yang kuat. Orang yang cengeng mudah menyerah ketika menemui kegagalan. Orang positif melihat kegagalan sebagai persiapan untuk kemenenagan yang lebih besar.

Ketika Caleb memasuki tanah Kanaan dia sudah berusai 80 tahun. Tapi dengan berani dia minta porsi bagian dia dan dengan tanpa takut dia ganyang raksasa raksasa di Kanaan seperti orang sedang makan kerupuk. Dia sikat semua !

Bagaimana dia menjadi begitu berani dan kuat? Karena penundaan selama 40 tahun tidak membuat dia lemah. Sebaliknya dia semakin lapar akan kesuksesan dan keberhasilan.

Bagaimana dengan anda dan saya?

Senin, 02 Maret 2009

Life is Unfair (2)

Seringkali kita merasa bahwa hidup kita tidak adil. Itu karena sesuatu yang terjadi tidak seperti apa yang kita mau. Kita tidak terima. Kita menolak kenyataan itu dan merasa dunia tidak adil kepada kita.

Pola pikir seperti ini sangat tidak sehat dan dapat menghancurkan kita dari dalam. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita bisa mengubah pola pikir ini dengan cepat menjadi sesuatu yang dapat membangun.

1. Bangun dan sadarlah.
Pandangi diri Anda di cermin dan katakan pada diri Anda sendiri, "Hellooo.... Dunia terus berputar dan tidak pernah berhenti. Kalau saya tidak suka dengan kehidupanku yang sekarang, maka saya harus menciptakan kehidupan di mana saya bisa bahagia tinggal di dalamnya." Daripada menyalahkan orang lain, cobalah bertanya pada diri Anda sendiri, salah Anda di mana, pilihan Anda apa, apa yang bisa membahagiakan Anda. Mengeluh adalah jalan buntu. Putar balik, pikirkan solusi dan ambil tindakan.

2. Bekerja sama.
Dalam bekerja Anda mempunyai visi, misi dan tujuan. Bicarakan tentang itu semua, bukan tentang 'keadilan'. 'Keadilan' itu subjektif. Coba pandang segi 'keadilan' dari kacamata orang lain. Jangan lupa kalau orang lain yang bekerja bersama-sama dengan Anda juga mempunyai visi, misi dan tujuan.
Daripada memandang sesuatu dengan
win-lose solution, sebaiknya kita mencari win-win solution. Bantu orang lain untuk mencapai apa yang mereka inginkan juga. Maka mereka dan dunia akan menyukaimu.

3. Berpikir dengan otak, bukan dengan perasaan.
Banyak orang yang sukses memikirkan rencana dengan otaknya. Merencanakan dan menyusun strategi dengan otak, bukan perasaan. Contoh kalau bos Anda marah-marah, bukan berarti bos sedang marah kepada Anda. Bisa saja banyak faktor yang membuat ia jadi 'mendidih'.
Perasaan negatif bisa mengarahkan Anda pada suatu kesimpulan yang salah dan ketakutan yang tidak semestinya. Perasaan dan pandangan negatif dapat menghambat jalan kita, sebaliknya perasaan positif bisa membuat jalan kita menjadi lebih mulus dan dekat pada kesuksesan.
Contohnya bila melihat bos marah-marah, orang yang berpikiran positif akan langsung bertanya, "Ada apa bos? Ada yang salah? Apa yang bisa kubantu untuk menyelesaikannya?", sebaliknya orang yang berpikiran negatif akan merasa dirinya telah berbuat sesuatu yang salah.

4. Hitung berkat, bukan kemalanganmu.
Orang sukses selalu melihat dan merebut setiap kesempatan yang ada di dekat mereka. Penggerutu dan pengeluh adalah orang 'buta' yang tidak bisa melihat kesempatan di dekat mereka. Mereka tidak pernah keluar dari masa kanak-kanak mereka. Mereka masih saja memiliki konsep anak-anak tentang 'keadilan': Ketika mereka masih kecil, ibu memotong dua bagian roti sama besar untuk dibagikan pada mereka dan saudaranya. Itu keadilan bagi mereka!
Dan seperti anak-anak, mereka mengharapkan bos mereka membagi gaji sama rata! Mereka tidak peduli tentang 'kemampuan' dan 'prestasi' yang beragam.
Jadi mulai sekarang, mulailah menghitung berkat Anda. Anda akan melihat kalau dunia lebih indah dan rumput di halamanmu lebih hijau.

5. Memberi dan bukan menerima.
Orang yang masih kanak-kanak akan hanya menunggu dunia mengabulkan semua keinginan mereka, dan bila tidak, mereka hanya akan menangis, frustasi dan menyesali. Sebaliknya seseorang yang sudah tumbuh dewasa akan menyadari kalau tidak semua rencananya akan berjalan mulus. Mereka berusaha menghindari resiko, tetapi bila tidak mungkin dihindari, mereka akan melaluinya dan tumbuh semakin dewasa lagi.

Sebagai epilog, ini ada beberapa Pesan Dalai Lama (Tenzin Gyatso)

Ketika kamu kalah, petik pelajaran darinya.
Jangan biarkan sedikit gesekan menghancurkan persahabatanmu.
Nilailah kesuksesanmu dari apa yang kamu korbankan untuk mendapatkannya.
Ketika kamu sadar kamu salah, langsung perbaiki.
Mendapatkan cinta yang besar dan penghargaan yang mewah berarti siap menghadapi konsekuensi yang besar pula.
Ingat kalau tidak mendapatkan apa yang kita inginkan terkadang merupakan keberuntungan tersendiri.
Ikuti "3R": Respect self, respect others, responsibility for all your actions.
Hiduplah dengan baik dan berharga. Suatu hari ketika kamu tua, dan ketika kamu melihat ke belakang, kamu akan bisa tersenyum dan puas akan kehidupanmu.

Tuhan memberkati.

Minggu, 15 Februari 2009

Walk 2 More Miles

(Thanks to Patsy. Your story really inspires! Cepet balek Indo ya....)

7 pm. Interview kerja hari itu berjalan lancar. Aku lega. Ternyata ketakutanku selama ini, bahwa si calon Boss itu akan galak, tidak terjadi. Ini membuktikan (sekali lagi) bahwa ketakutan kita bukan berarti kenyataan :)

Matahari masih ada - dan sangat terik - padahal ini sudah waktunya makan malam. Aku belum begitu lapar dan berjalan santai di sepanjang West Terrace menuju rumah dan menikmati apapun yang bisa disajikan alam pada waktu itu. Panas. Cahaya. Udara segar.

Lalu tiba-tiba...

Seorang pria paruh baya dari arah berlawanan berjalan menghampiriku.

Aku langsung teringat peristiwa pemerkosaan di Sydney yang dilakukan orang Australia terhadap international students dari China. Gadis itu diperkosa, jatuh dari balkon apartemennya dalam keadaan telanjang, dan mati. Berita ini menggemparkan semua orang termasuk aku dan beberapa anak Indonesia di sini yang mulai bertukar ilmu tentang teknik melindungi diri yang jitu. Kita berdiskusi tentang efektifitas gas air mata, alat yang bisa nyetrum (aku lupa namanya. Ada yang bisa bantu?), dan kalau semua tidak mempan, kita bisa menggunakan tendangan 'maut' tepat 'sasaran' yang diajarkan di sinetron-sinetron Indonesia.

"Sorry,"

Ups. Orang itu ternyata sudah didepanku! Jantungku berdebar kencang. Aku menatapnya curiga. Dia memakai kaos putih tipis dan celana pendek biru untuk lari. Juga sepatu olahraga. Badannya lumayan kurus. Tangan kanannya memegang kertas putih sementara tangan satunya memegang sebuah benda hitam....

Apa itu pistol?


Agh... ternyata kamera :) Dia hanya turis! Kenapa aku harus takut?

Aku menjawabnya,

"Yes... Is there anything I can help you with?"

"Do you know where is the Bus Stop for J1 ?"

Ok... biarkan aku berpikir sebentar. J1. Aku tahu J1. Dulu aku tinggal di Lockleys dan selalu naik bus itu. Tapi, Bus Stop-nya di mana ya? Kepalaku celingak-celinguk muka belakang mencari petunjuk... tapi tetap saja blank.

"Can I borrow your map?"

Dia meminjamkan kertas putih lusuh yang dipegangnya. Aku menelusuri nama jalan-jalan yang tertulis di sana dan akhirnya ingatanku berfungsi kembali. Hmmm... membuktikan juga bahwa perempuan itu BISA membaca map.

"Do you know where it is?" Dia bertanya kembali. Kasihan, kelihatannya dia tersesat dan sama sekali tidak tahu jalan pulang.

"Yes... I know where it is. You can go straight ahead there and turn right at the first corner."

"And then?"

"Oh... you can just walk along the street and find the bus stop."

"Thank you." Jawabnya sekalipun masih kelihatan bingung. Hmm... apa penjelasanku kurang jelas ya? Akh, sudah ah, bukan urusanku. Tinggalkan saja dia.

"Walk two miles..."

Heh? Tiba-tiba Suara itu berbicara di hatiku. Aku diam. Jangan-jangan aku salah dengar. Tapi kemudian kalimat yang sama muncul lagi dengan lembut,

"Walk two miles..."

Mendengarnya, aku memutuskan untuk membantu pak turis menemukan bus stop yang dia cari. Dia sebenarnya sudah berjalan pergi melewatiku sambil kebingungan mencari first corner yang kubilang tadi. Aku segera berbalik arah dan berusaha mengejarnya,

"Uhm... I can walk with you until you find the bus stop."

Dia menoleh lalu terperangah.

"Oh really...??" Ada yang berubah di raut wajahnya, dari yang khawatir seakan tiba-tiba melihat sebuah pengharapan baru.

"Thank you... thank you... thank you..."

Aku nyengir aja liat dia terlalu berterima kasih karena bantuanku. Hihi... emang kebanyakan turis tersesat kayak gitu.

"Well, I knew how it feels. I've lost too many times when I first came here."

"Uhm... where do you from?" tanyanya.

"Indonesia." Jawabku bangga :)

3 menit kemudian...

Kita terus berbincang sampai akhirnya tiba di bus stop yang dia cari. Orang Perancis itu masih dan terus berterima kasih karena aku sudah mau repot-repot mengantarkannya. I just wished him for a good holiday in Adelaide lalu berjalan pergi. Kembali ke arah West Terrace menuju rumah.

Matahari masih bersinar terik. Mobil-mobil sepanjang West Terrace tetap melaju kencang seperti biasanya. Langkahku pelan tapi santai. Aku tahu, aku baru saja berjalan dua mil untuk orang itu. Sebenarnya tugasku hanya sebatas memberi petunjuk arah saja, tapi aku memilih untuk menawarkan bantuan lebih dan membantu dia sampai di tujuannya. Sebuah tawaran yang sebenarnya tidak wajib untuk dilakukan tapi tetap kulakukan untuknya. Dan itu sungguh, percaya padaku, membawa sukacita tersendiri!

Setelah kejadian itu, entah apa hubungannya, tiba-tiba saja aku bisa lebih menikmati hal-hal kecil yang Tuhan sudah berikan. Bersyukur ada pohon di pinggir jalan. Masih ada udara untuk dihirup. Bunga berwarna-warni yang kelihatan dari etalase florist yang aku lewati. Dan langit biru yang terbentang luas untuk mengingatkanku betapa besar Tuhanku.

Aku akhirnya sadar. Tuhan selalu berjalan 2 mil bersama kita. Dia selalu memberi lebih. Dia sebenarnya bisa saja hanya menciptakan bumi ini sebagai tempat seadanya untuk ditinggali manusia. Tapi, kenapa Tuhan tetap menciptakan langit biru dengan awan putih? Kenapa Dia ciptakan pohon dengan bentuk unik seperti itu? Kenapa daunnya harus hijau dan batangnya harus cokelat? Kenapa matahari terlihat berubah warna kalau sudah mau terbenam? Kenapa ada pelangi? Kenapa di dalam laut harus ada terumbu karang yang indah? Kenapa Tuhan harus ciptakan bunga? Kenapa bentuk binatang berbeda-beda dan lucu-lucu? Kenapa harus ada gunung dan pantai? 'Kan sebenarnya manusia juga gak begitu perlu semua keindahan itu selama dia bisa tetap hidup di bumi.

But He is great! He adds beauty in everything He has given us. Sebuah keindahan yang sangat detil. Dia memberi lebih - jauh lebih banyak - dari apa yang sebenarnya sudah cukup untuk kita terima. Iya, Dia selalu berjalan dua mil untuk kita dan bersama kita.

Sebenarnya, berjalan dua mil itu bisa dimulai dengan hal-hal yang praktis dan sederhana. Kita bisa menelepon teman yang curhat lewat sms (padahal kita bisa respon sama dia lewat sms juga), bantu nenek-nenek nyeberang jalan sambil bawain tasnya yang berat (jadi ingat mata pelajaran PPKN jaman dulu :p), menyapa orang duluan dan memberkati mereka dengan senyum kita (asal jangan senyum melulu nanti dia lari ketakutan), membantu merapikan kursi selesai makan di restoran, membuang bekas kantong makanan fast food tanpa membiarkan pelayan yang membersihkannya, uhmm apalagi ya? Pasti banyak! Hanya saja, sayang sekali, terlalu sering kita masih egois untuk melakukannya. Apalagi melakukannya bagi orang lain dan mereka yang tidak kita kenal.

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah 'berjalan dua mil' untuk orang lain? Kalau pernah, ayo share di sini ;) Kalau belum, let's walk our own 'two miles' together :)

Jesus loves you!

Selasa, 27 Januari 2009

Kronos dan Kairos

Apa itu kronos dan kairos? Kedua kata ini berasal dari bahasa Yunani dan dua-duanya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "waktu". Dalam bahasa Yunani, waktu dibedakan menjadi dua: "kronos" dan "kairos". Lalu, apa perbedaan di antara keduanya?

Kronos adalah waktu yang berjalan, sifatnya kuantitatif dan sekuensial. Contohnya adalah detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu dan seterusnya. Kronos bisa diartikan pengertian waktu secara umum.

Kairos adalah momen yang tepat, momen yang spesial. Sifatnya hanya sesaat dan kualitatif. Artinya waktu singkat di mana sebuah momen berharga atau langka terjadi.

Hari ini JINS mau membahas tentang waktu Tuhan (God's kairos).

Kita sering mendengar, "Aku ga punya banyak waktu nih!" atau "Aku ga punya waktu untukmu." Waktu, adalah sesuatu yang hanya berjalan maju dan tidak bisa ditarik mundur tidak peduli seberapa hebat dirimu. Kronos terus berjalan maju. Dan di dalam kronos, Tuhan memberikan kairos-kairos kepada kita. Kairos tersebut berkata soal kesempatan. Mungkin itu kesempatan untuk menginjili orang lain, kesempatan untuk lebih maju, promosi dan titik balik yang akan mengubahkan hidupmu. Tapi sayangnya, seringkali kita kelewatan kairos-kairos yang diberikan Tuhan tersebut.

Beberapa waktu lalu tetangga saya sedang sekarat di rumah sakit. Saudaranya kemudian memanggilku agar aku mendoakan dia. Saya menyanggupi tetapi saat itu saya sedang sibuk dengan urusan-urusanku yang lain sehingga saya terus menunda. Seminggu kemudian, saya menerima kabar kalau tetanggaku sudah meninggal dunia.

Langsung saya berlutut dan memohon ampun pada Tuhan. Saya baru saja menyia-nyiakan sebuah kairos berharga (sangat berharga) yang diberikan Tuhan padaku dan saya sangat menyesal. Orang itu meninggal tanpa punya kesempatan mengenal Yesus dan itu hanya gara-gara saya terlalu sibuk?!?

Sobat JINS, berapa banyak dari kita yang sering bertindak bodoh seperti saya waktu itu? Ada kesempatan singkat (kairos) yang akan mengubahkan hidup kita maupun hidup orang lain. Tapi sudah berapa banyak yang sudah kita lewatkan?

Lalu bagaimana cara agar kita tidak melewatkan kairos-kairos itu? Dekat denganNya hanya satu-satunya cara. Ingat! Kairos itu bisa lewat seseorang di antara kita bahkan dari orang yang tidak kita sukai. Belajar peka dengan suara Tuhan, minta hikmat dari padaNya dan pandai melihat peluang.

Sobat JINS, hari ini sudah menginjak tanggal 28. Sudah hampir satu bulan berlalu dari tahun 2009 ini. Sudah berapa banyak kairos yang kamu manfaatkan? Dan berapa kairos yang kamu lewatkan? Mulai detik ini, kenallah Tuhan lebih lagi dan manfaatkan setiap kairos yang Tuhan beri. Mumpung kita masih muda, belajarlah dari pada kesalahan dan terus semangat! Pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Hiduplah dirimu dengan sesuatu yang positif. Tuhan memberkati.

Kamis, 04 Desember 2008

New entry - new agenda

Yeah... tak terasa 22 hari lagi kita akan menginjak tahun 2009 nih. 22 hari itu cepet lohhh... Tak terasa malam hari kita menutup mata, begitu buka eh tau tau udah keesokan hari. Udah hitungan hari nih menyongsong 2009.

Sudah siap-siap
membesihkan kamar? Sudah siap membuang barang-barang usang yang udah ketinggalan jaman di tahun 2008? Atau barang-barang usang tersebut masih disimpan sampai tahun depan sampai membusuk?

Yak, mulai hari ini sudah boleh beres-beres. Pemberesan hati dengan orang-orang yang pernah disakiti, pemberesan hati dengan orang-orang yang pernah menyakiti, dan terutama pemberesan hati dengan Tuhan. Buang semua sampah-sampah hati.

Setelah semua barang usang disingkirkan, setelah ruangan hati menjadi lebih lapang, kini saatnya mengisinya dengan perabotan baru (baca: agenda baru). Tahun 2009, apa saja yang ingin Anda capai. Apakah cita-cita Anda bisa diwujudkan dalam tahun ini? Apakah di tahun 2009 Anda menarget sesuatu yang lebih tinggi? Apakah ada yang harus Anda kerjakan dan selesaikan di tahun baru ini?

Tapi pertanyaan terpenting adalah: Apakah Anda sudah merencanakannya? Atau jangan-jangan terpikirkan pun belum pernah? Ayo, tinggal hitungan hari lagi. Bila Anda tidak berencana mulai sekarang, nanti tahun 2009 juga akan Anda jalani dengan biasa-biasa saja. Tidak ada satu perasaan greget yang penuh semangat. Dan Anda sudah pasti akan membuang waktu satu tahun lagi.

Langkah-langkah menyiapkan new entry 2009:

1. Berdoa
Awali segala sesuatu dengan berdoa. Tanya pendapatnya Tuhan apakah Ia sudah menyiapkan rencana-rencana khusus untuk tahun depan. Minta penyertaannya dalam planning ini. Jangan kerja sendiri, minta penyertaan Roh Kudus juga.

2. Beres-beres
Masih ada ganjalan? Masih ada kepahitan? Masih ada masalah dengan orang yang dikasihi? Masih ada permusuhan dengan sesama? Mengapa tak coba untuk membereskan semua ini mulai dari sekarang? Datangi orang-orang yang Anda benci/yang membenci Anda. Dalam hati, berdoa dan berkatalah kepada Tuhan kalau Anda sudah memaafkannya. Atau dengan terus terang meminta maaf kepada orang itu. Sesudah itu buatlah satu komitmen dalam diri Anda kalau Anda sudah benar-benar memaafkan orang itu atau Anda tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.

3. Tulis agenda
Ambil secarik kertas (sebaiknya buku).. Pejamkan mata Anda sejenak. Bayangkan apa yang Anda inginkan untuk terwujud di tahun depan. Pikirkan rencana-rencana yang harus Anda realisasikan tahun depan. Pastikan rencana Anda masih "membumi". Jangan terlalu mengkhayal. Yang pasti-pasti saja.
Kemudian, tarik napas panjang. Buka mata Anda. Hembuskan. Dan mulai tulis harapan-harapan Anda di atas kertas atau buku. Selesai? Simpan baik-baik kertas/buku itu. Buka lagi tahun depan.

4. Buat komitmen
Buat komitmen-komitmen yang Anda ingin realisasikan di tahun depan seperti berhenti merokok, menelepon nenek setiap Minggu pagi, hemat dalam belanja baju, fitness dua kali sehari, dan sebagainya. Usahakan patuhi komitmen Anda. Buat satu perubahan dalam hidup Anda. Masakan Anda mau hidup seperti ini sampai tua?

5. Berdoa lagi
Tanyakan kepada Tuhan apakah Ia berkenan dengan rencana-rencana yang sudah Anda buat. Parameternya sangat sederhana. Bila Anda memiliki perasaan damai sukacita, maka Tuhan berkenan. Bila Anda bimbang dan ragu dalam kepastiannya, berarti ada yang perlu diubah.

Sudah? Lihat lagi dan review lagi apa yang sudah Anda tulis. Mulai hari ini juga, Anda harus mulai merealisasikannya. Jangan tunda-tunda lagi. Menunda adalah salah satu dari rencana Iblis untuk menjauhkan hidup Anda dari perubahan. So, mulailah 2009 dengan agenda yang baru. Pikirkan dan lakukan mulai dari SEKARANG. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?

Minggu, 30 November 2008

Chow Yun Fat

Chow Yun Fat, bintang film Asia yang paling panas saat ini di Hollywood. Sejak film perdananya tahun 1980 dan sampai hari ini, ia sudah membintangi puluhan film-film yang meledak di pasaran dan juga mengantongi berbagai penghargaan dari seluruh dunia. Aktingnya yang keren dan hebat menjadikan Chow sebagai salah satu aktor termahal Asia yang sukses di bilangan Hollywood.

Chow Yun Fat dilahirkan di sebuah keluarga miskin di pedesaan. Ibunya seorang pembantu rumah tangga dan petani sayur, sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh di perusahaan minyak. Masa kecilnya, Chow tinggal di sebuah rumah yang bahkan listrik pun tak ada. Setiap siang ia selalu membantu ibunya berjualan teh dan sore harinya ia mencangkul di sawah. Usia 10 tahun, mereka sekeluarga pindah ke Kowloon dan di usia 17 tahun Chow harus putus sekolah.

Setelah ia putus sekolah, ia mulai bekerja. Mulai dari bellboy di hotel, tukang surat, penjual kamera keliling dan supir taksi. Ada satu kisah unik yang merupakan awal kesuksesannya ketika ia bekerja sebagai seorang bellboy di sebuah hotel.

Suatu hari, sebuah mobil Rolls-Royce berhenti di hotelnya tempat ia bekerja. Pemilik mobil itu meminta Chow untuk mencuci mobilnya. Saat itu, Chow masih belum tahu kalau mobil yang sedang ia cuci itu mobil mewah. Ia hanya berpikir kalau itu adalah sebuah mobil yang sangat keren dan iseng-iseng ia mencoba menaikinya, berpura-pura sebagai orang yang sedang memiliki mobil itu. Tanpa terduga, atasannya melintas dan melihatnya. Ia langsung memarahi dan memaki-maki Chow. "Kamu ini siapa? Tahu diri donk derajat dan statusmu. Kamu tak akan bisa menaiki mobil ini seumur hidupmu!"

Chow memang sadar kalau ia telah melanggar peraturan, tapi makian bosnya menimbulkan satu gelora di dalam dirinya untuk terus maju. Akhirnya di akhir era tahun 1979-an, ia mengikuti casting film dan tahun 1980 ia main di salah satu film paling laris saat itu, The Bund.

Setelah sukses film pertamanya, karirnya terus menapak dan naik. Salah satu filmnya yang paling terkenal di Indonesia adalah "God of Gambler". Hayoo... siapa sih yang ngga tau film itu?? Dan film-film berikutnya sampai ia masuk ke pasar Hollywood di tahun 1998-an. Hingga hari ini, ia menjadi salah satu aktor Asia termahal.

Dan dengan kesuksesannya, uangnya dan karirnya, ia bukan hanya naik Rolls-Royce, tapi juga membelinya! Dan bahkan ia mengoleksi beberapa mobil mewah di bawah kerajaan bisnisnya yang besar di Hongkong. Hohohoho... Jangan sampai cemoohan orang lain menjatuhkan kita. Tapi jadikan itu sebagai cambuk untuk maju. Fokus pada talenta yang kita miliki, jalani dengan sungguh-sungguh dan berjuang sekuat tenaga untuk mengejar mimpi kita.

Kalo Chow saja lahir dari keluarga seorang petani bisa jadi orang besar, apalagi kita yang belum jatuh sampai tergeletak.

Kamis, 20 November 2008

Parasut

Charles Plumb, seorang lulusan dari US Naval Academy, menjadi pilot ketika perang Vietnam. Setelah tujuh puluh lima pertempuran, pesawatnya tertembak jatuh. Plumb sendiri melompat dari pesawat dengan sebuah parasut. Ia kemudian mendarat di wilayah musuh, ditangkap dan dipenjara selama enam tahun sebelum kemudian meloloskan diri. Sekarang ia mengajar di salah satu perguruan tinggi dan membagi pengalamannya.

Suatu hari ketika Plumb dan istrinya sedang makan di restoran, ia dikejutkan oleh tepukan di bahunya. "Plumb? Anda Plumb kan? Penerbang jet Kitty Hawk yang di Vietnam itu kan? Bukannya pesawatmu ditembak jatuh?" seorang pria tua berseru kaget. "Bagaimana Anda tahu?" tanya Plumb. "Aku orang yang menyiapkan dan membungkus parasutmu."

Plumb terkejut. "Kurasa parasutnya bekerja," jawab Plumb, "Kalau parasutnya rusak atau sobek mungkin aku tak akan di sini hari ini."

Malam harinya Plumb tidak bisa tidur. Ia terus menerus memikirkan tentang orang tua itu. Secara samar ia mulai menggambarkan, seorang pemuda dengan seragam tentara, topi putih dan celana panjang cut brai. Ia kemudian membayangkan setiap harinya mungkin saja ia sering berpapasan dengannya tetapi hampir tidak pernah menyapanya, memberinya salam. Itu karena orang itu hanyalah seorang "pembantu" dan Plumb sendiri adalah penerbang pesawat tempur.

Plumb kemudian membayangkan kalau pemuda itu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memeriksa satu per satu parasut itu kalau-kalau ada yang berlubang, dengan hati-hati melipatnya agar tidak sobek, dan benda-benda di tangannya adalah suatu benda yang sangat berarti di saat-saat yang tidak terduga. Para penerbang itu tidak tahu kapan mereka membutuhkannya.

Dan satu pertanyaan sederhana ditujukan oleh Plumb kepada mahasiswa-mahasiswanya, "Siapa yang melipat parasutmu?"

Sobat JINS, Plumb juga mengatakan, parasut yang dipersiapkannya ketika terjun bukan hanya parasut fisik. Dia juga harus menyiapkan parasut-parasut lainnya seperti parasut mental, parasut emosional, dan parasut rohaninya. Supaya ketika ia mendarat di wilayah musuh, ia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Pertanyaannya, siapakah yang melipat parasut-parasut itu untuk kita?

Lihatlah sekelilingmu. Akan ada banyak orang (bisa itu teman, saudara, keluarga, orang asing) yang melipatkan parasut-parasut itu bagimu. Kenali mereka dan hargai mereka. Usahakan dirimu menjadi seorang pelipat parasut bagi orang lain. So, siapakah yang melipat parasutmu hari ini?

Minggu, 16 November 2008

Gubuk yang Terbakar

Ada seorang korban kapal karam terdampar di pulau terpencil yang tak berpenghuni. Setiap hari ia berdoa meminta kepada Tuhan supaya ia diselamatkan. Ia memandang horison, berharap-harap kalau ada pertolongan. Ia juga membangun sebuah gubuk kecil dari kayu-kayu berukuran kecil untuk melindunginya dari cuaca dan menyimpan sedikit barang-barangnya. Tapi suatu hari ketika ia kembali dari mencari makanan, ia mendapati gubuknya terbakar. Semuanya habis. Semua barang-barangnya habis terbakar. Ia lalu berteriak dengan marah kepada Tuhan, "Tuhan, mengapa ini semua terjadi?"

Keesokan harinya, ia dibangunkan oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang menyelamatkannya. "Bagaimana kalian bisa menemukan pulau ini?" tanya orang itu. "Kita melihat tanda asap yang dibuatmu."

Tak ada di dunia ini yang namanya "kebetulan". Semua sudah direncanakan oleh Tuhan dan (boleh percaya boleh tidak) semua rencana yang disiapkan Tuhan itu bukan rancangan kejahatan. Segala sesuatu yang kita alami sudah digariskan dan ujung-ujungnya pasti baik.

Ada satu cerita yang lain. Seorang temanku terlambat naik kereta untuk ke kota lain. Pertamanya, ia mengeluh dan kesal karena sudah menghabiskan uang untuk tiket. Keesokan harinya ketika ia membaca koran ia baru tahu kalau kereta yang seharusnya ditumpanginya mengalami kecelakaan.

Ada juga seorang karyawan yang telat masuk ke kantornya gara-gara mengantar anaknya sekolah. Tak berapa lama kemudian, WTC dibom dan ia luput dari musibah.

Hey man, tak ada yang namanya kebetulan itu. Semuanya memang kelihatannya mengesalkan dan menyebalkan awal mulanya. Tapi percayalah kalau semua ini merupakan rancangan Allah yang luar biasa dan hebat yang meluputkan kita dari musibah-musibah besar.

So, bila hari ini kamu merasa kesal dengan tempat kerjamu, jangan! Karena bukan suatu kebetulan Allah menempatkanmu di sana. Bukan suatu kebetulan juga kamu lahir di bumi ini. Bila kamu kesal dengan hal-hal kecil yang kamu lewatkan, maka kamu seharusnya bersyukur akan sebuah hal besar di mana kamu akan diluputkanNya.

Senin, 13 Oktober 2008

Layakkah Aku?

Sejak kecil aku suka dengan musik. Satu-satunya hal yang kusukai ketika aku sedang kesepian dan tidak ada kerjaan adalah mendengarkan musik. Well... mendengarkan musik saja. Aku tidak bisa bermain musik apapun. Mungkin karena orang tua tidak memberi kesempatan ketika aku masih kecil (lagian, les musik itu kan mahal).

Aku sering sekali iri melihat teman-temanku bisa bermain gitar, piano dan alat musik lainnya (terutama gitar). Aku ingin sekali bisa bermain musik, sesuai dengan apa yang biasanya kudengar. Aku ingin belajar, tetapi alat musiknya saja aku tidak punya

Beranjak dewasa, hingga sekarang saya berumur dua puluh dua tahun saya baru diberi kesempatan untuk bermain musik. Dengan uang yang kukumpulkan dari hasil kerjaku aku menabung dan membeli sebuah gitar butut. Bukan gitar bermerek dan gitar bagus.

Dari nol aku belajar untuk bermain gitar. Berlatih setiap malam dan setiap pagi. Meskipun kadang-kadang permainanku sangat menyebalkan dan mengganggu, itu tidak menyurutkan semangatku. Ibaratnya pucuk dicinta ulam tiba. Ada beberapa teman yang membantuku untuk bermain gitar. Sisanya, belajar sendiri. Bahkan aku pernah tertidur dengan memeluk gitar. hehe...

Dari nol, enam bulan kemudian aku dipercaya menjadi seorang pemain musik di persekutuan doa tempat aku bernaung. Wow... Dalam tugas perdanaku, aku grogi sekali. Aku bahkan bertanya kalau-kalau Tuhan salah menunjuk pemain musik sedangkan di persekutuanku masih banyak yang lebih jago ketimbang aku.

Aku malu, aku takut salah... Aku tidak layak. Siapakah aku ini hingga baru enam bulan aku belajar bermain gitar (benar-benar dari nol) sudah dipercaya oleh Tuhan untuk bermain di persekutuanku?

Wow... Tuhan sungguh luar biasa!! Membayangkan hal ini saja tidak pernah dalam pikiranku kalau suatu hari aku akan bermain di persekutuan doaku. Aku memang tidak pernah meminta, tetapi aku tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik kepadaku. Dan dalam hati aku berjanji dengan sepenuh hati aku tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Tuhan berikan padaku.

Sobat JINS, bila Anda merasa tidak mampu dalam sesuatu, yakinlah suatu hari Tuhan akan membukakan jalan bagimu. Penantian selama dua puluh tiga tahun ini dijawab Tuhan dengan luar biasa! Ia tidak akan pernah membiarkan seseorang yang mempunyai talenta tersia-siakan. Ia akan selalu membukakan jalan baginya.

Jumat, 05 September 2008

Perpisahan

Tuhan yang memberikan, Tuhan juga yang akan mengambilnya suatu hari nanti. Mungkin itulah yang terjadi padaku.

Sejak kecil saya dibesarkan oleh ibu saya. Ayah saya bekerja di luar kota yang jauh. Saya tiga bersaudara, mempunyai seorang kakak perempuan dan adik perempuan. Tidak ada laki-laki di rumah kecuali saya sendiri. Sejak kecil saya tinggal bersama ibu, kakak dan adik perempuan saya, bahkan kedua ekor anjing di rumah kami juga betina. Sebenarnya saya punya dua orang kakak laki-laki, tetapi keduanya sudah meninggal ketika usia mereka masih muda.

Sebagai seorang anak lelaku, sejak kecil saya ingin sekali mempunyai seorang koko (sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Cina), seorang kakak yang bisa mendengarkan ceritaku, bermain bersamaku, bisa berbagi denganku. Kalau saya sedang ada masalah dengan "cinta monyet" saya, ia bisa membantuku dan memberi masukan-masukan. Saya ingin mempunyai seorang kakak yang bisa mengarahkanku, membimbingku sekaligus menjadi temanku.

Saya memang tak pernah memintanya pada Tuhan. Tapi Tuhan tahu isi hatiku. Tahun 2006 silam, saya (entah bagaimana caranya) saya dekat dengan seorang teman saya. Waktu itu saya baru saja putus dengan pacar saya. Tak lama kemudian ia putus juga dengan pacarnya. Mungkin merasa senasib, kami pun berteman dekat. Di sisi lain, kami juga sama-sama sedang mempersiapkan diri untuk sebuah kontes. Wah, jadi semakin sering bertemu.

Saya juga tidak tahu, sejak kapan saya menganggapnya sebagai seorang koko bagiku. Orangnya benar-benar seperti figur seorang kakak yang saya rindukan selama ini. Setiap saya ada masalah, ia selalu menjadi seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Ketika saya sedang mengalami musibah, ia yang menolongku. Bahkan seringkali saya ngambek seperti seorang adik yang marah kepada kakaknya, ia selalu yang mengajak berdamai duluan. Sungguh, di hadapannya saya baru menyadari betapa saya seperti seorang anak kecil yang tidak dewasa.

Sahabatku (yang juga kokoku) tampak begitu dewasa. Kadang-kadang saya begitu iri dengan apa yang dipunyainya. Segala kepeduliannya, kebaikannya, benar-benar tidak seperti apa yang selama ini saya alami dengan teman-teman saya yang lain. Sungguh saya menemukan figur seorang kakak yang sebenarnya di dalamnya.

Dalam hatiku saya berpikir, selama dua puluh tiga tahun saya hidup, saya belum pernah merasakan seorang kakak, dan kini saya puya satu! Siapa lagi kalau bukan Tuhan yang memberi?

Ia juga yang mengajakku untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Ia yang mengajariku berdoa, untuk taat kepada Yesus. Ia memberikan secercah pengharapan di saat saya sedang sumpek-sumpeknya dengan masalah. Orangnya juga punya sebuah bisnis sendiri. Pelayanan menjadi pemusik di gereja. Wah, pokoknya kokoku yang satu itu hebat banget deh!

Namun tampaknya ada seseorang yang tidak suka dengan kedekatan kami dan Tuhan. Ialah Iblis. Ia mulai memanfaatkan kelemahan-kelemahanku untuk masuk ke dalam celah hatiku dan mengintimidasi kami. Mulailah yang namanya percekcokan dan masalah. Kami mulai bosan satu sama lain. Bahkan (dengan jujur saya tuturkan di sini) saya ada rasa iri hati padanya. Setiap kali saya bertemu dengannya, ada perasaan tidak nyaman. Seperti "saya kalah darinya", "dia bukan apa-apa" dan "dia meremehkanmu". Perasaan itu menggangguku setiap kali saya mau berbicara padanya. Sehingga setiap tindakan yang dilakukannya selalu menuai kritik dan sinis dari saya.

Lama kelamaan, entah kenapa (apa mungkin karena tindakanku yang semakin hari semakin seperti anak kecil), ia mulai menjauhiku. Kami sudah jarang bersama lagi. Kalau ada masalah, saya lebih suka berbagi dengan teman saya yang lain ketimbang dia. Begitu pula dengannya. Kami jarang lagi bersama. Bahkan cenderung ada hawa permusuhan setiap kami mengobrol.

Kami sudah tidak pernah lagi berlatih bersama (kami berdua keanggotaan gym yang sama). Kami tidak pernah berdoa bersama lagi. Pokoknya setiap kali kami mengobrol selalu ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Saya sendiri pun tidak tahu apa itu!

Dua bulan saya bergumul dengan Tuhan. Tuhan mulai menunjukkan mengapa hal itu bisa terjadi. Tidak langsung saya menyadari kalau kesalahannya ada padaku. Saya selalu menyalahkan sahabat saya itu. Tapi Tuhan itu benar-benar baik. Hari demi hari Ia mulai menunjukkan siapa sebenarnya saya di hadapan teman saya itu.

Saya benar-benar seperti seorang anak kecil yang tidak dewasa sama sekali. Merengek, memaki, menggantungkan solusi masalahku pada temanku itu, meminta perhatiannya, menuntut dan menghakimi ia. Benar-benar tindakan yang sangat murahan!! Dan tindakan seperti itu yang saya lakukan pada seseorang yang sangat saya kasihi. Saya malu sekali ketika saya diingatkan Tuhan.

Saat itu saya mulai bertanya, "Apakah saya salah, Tuhan?" Tuhan menjawab, "Sejak kecil kamu mendambakan figur seorang kakak. Kini kamu sudah merasakannya. Dan kini Aku mau kamu menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Terpaksa saya harus memisahkan kalian untuk sementara."

Mulanya saya kira Tuhan hanya main-main. Tapi sejak itu hubunganku dengan temanku itu semakin merenggang. Bahkan saya menjadi lebih kekanak-kanakan daripada biasanya ketika bertemu dengannya! Saya memang seorang keparat! Tapi saya tidak bisa menghentikan sifatku yang kanak-kanak (mengkritik dan menunjukkan sikap bermusuhan)! Saya mau tapi tidak bisa!! Saya tidak bisa mencegah mulut dan sikap keparatku ini!!

Saat saya mulai menyadari kesalahan saya, semuanya sudah terlambat. Terlalu terlambat! Ia sudah menutup hatinya untukku. Ia tidak memberikan kesempatan lagi kepadaku. Ia memang tidak menjauh, tapi ada sesuatu yang menghalangi kami untuk seperti dulu lagi. Perasaan gengsi, sungkan, malu selalu menghinggapi diriku ketika saya ingin membuka pembicaraan.

Pemisahan ini juga semakin ditunjukkan Tuhan dengan pembelahan sel persekutuan tempat dulu kami bertumbuh. Kami dipisahkan 'secara paksa' oleh Tuhan.

Malam itu hatiku hancur. Hancur lebur tak bersisa. Saya menangis dan menangis. Tidak terhitung berapa banyak air mata yang saya kuras. Selama dua puluh tiga tahun saya hidup dan belum pernah mempunyai seorang 'kakak' yang akhirnya saya punya satu. Ternyata ini juga kandas. Persahabatan saja kandas, apalagi kalau saya membina rumah tangga suatu hari nanti. Saya takut! Takut! Mungkin benar apa yang dikatakan sahabat saya, "Kalau kamu begini terus, kamu tidak akan pernah bisa berteman dengan siapapun." Apalagi berumah tangga!, tambahku.

Saya menangis dan menangis. Menangisi diri saya yang bodoh dan tidak dewasa. Saat semuanya sudah terlanjur, saya baru menyadarinya dan sudah terlambat untuk kembali. Oh Tuhan, mengapa Engaku seperti ini padaku??

Suatu malam Tuhan menjawabku dengan suara yang audible. Ia berkata dengan lembut, "Sudah saatnya kamu tumbuh dewasa. Dan kamu akan lebih cepat tumbuhnya kalau kamu tidak bersama Romano lagi." Ia mengambil seorang yang sangat berharga di kehidupanku hanya untuk menjadikanku lebih dewasa.

Blogger terkasih, kadang-kadang Tuhan harus bertindak 'kejam' untuk membawa kita ke level yang lebih tinggi. Sudah pasti kita akan merasakan sakit dan pahit, tapi Tuhan tidak membiarkan kita. Ia senantiasa merangkul kita dan membantu kita dalam melewati proses itu. Sama seperti 'saya' yang diajar Tuhan untuk lebih dewasa. Mungkin juga 'saya' telah memberhalakan sahabatnya sehingga ia diingatkan.

Amsal 17:17 - suatu hubungan adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan yang memberinya dan Tuhan juga bisa mengambilnya suatu hari nanti. Jadi, apapun anugerahmu, berhati-hatilah untuk jangan sampai kamu memberhalakannya. Jaga baik-baik kemurnian hatimu.

Tuhan memberkati.

Rabu, 03 September 2008

Shopping

Kepada Anna,

Saya baru saja berbelanja untuk Natal. Tapi sepertinya saya harus keluar untuk berbelanja lagi. Karena saat ini saya kehabisan KEHORMATAN. Karena saat ini saya seringkali menghabiskan KATA-KATA saya dengan boros dan sia-sia. Saya ingin meminta maaf kepada semua orang-orang yang telah kusakiti.

Saya juga mau menukarkan satu dus MALU yang kubeli (yang semuanya busuk) dengan satu dus PERCAYA DIRI. Saya dengar itu lebih murah dan juga lebih menyehatkan ketika dikonsumsi secara rutin. Dan sementara kasir mengepak barang saya, saya melihat-lihat ke rak baju KESABARAN kalau-kalau ada ukuran yang cocok denganku.

Oh iya, saya juga harus membeli gaun KESABARAN saya dengan model yang baru. Yang lama sudah kekecilan. Tetangga saya memakai model itu dan ia tampak begitu cantik. Seorang pramuniaga memberitahuku, tidak mengapa kalau gaun itu kekecilan. Di sana ada penjahit yang bisa memperbaiki INTEGRITAS. Punyaku semakin menciut dan kalau tidak segera dijahitkan maka akan habis.

Hampir saja lupa yang terpenting: BELAS KASIH. Kalau saya melihat barang langka ini (dalam ukuran atau warna apapun) pasti saya beli berapapun harganya! Saya pernah kehabisan beberapa kali dan sering merasa malu karena kehabisan barang ini.

Saya tidak tahu mengapa saya bisa menghabiskan banyak waktu untuk belanja kali ini. Padahal jumlah belanjaanku tidak sebanyak belanjaku kemarin, bahkan lebih murah dibandingkan kemarin (dengan kepuasan dobel tentunya).

Dan belanjaku kali ini saya tidak perlu membawa dompet dan kartu kredit, karena semuanya gratis. Hanya saja butuh waktu untuk mencarinya.

Senin, 04 Agustus 2008

If Life Is So Short - The Moffats

Inspirasi ini kudapatkan ketika sedang memutar mp3 lagu-lagu lawas kesukaanku. Lagu ini pernah dipopulerkan oleh sekelompok anak muda yang menamakan dirinya "The Moffats". Lirik lagunya sebenarnya sangat mendalam dan (lagi-lagi) topik postingan hari ini tentang singkatnya sebuah kehidupan.

"
Isn't it funny how time seems to slip away so fast
One minute you're happy, the other you're sad"

Waktu sangat cepat berputar. Sadarkah Anda kalau waktu tidak menunggu? Waktu terus berjalan... Bila Anda tidak menggunakan waktu sebaik-baiknya, kalau waktu itu sudah berlalu, barulah Anda menyesal.
Waktu tidak bisa diputar kembali. Dan saking cepatnya waktu itu berlalu, seolah-olah kemarin kita baru bersukaria karena suatu hal yang menggembirakan dan hari ini kita bersedih karena hal yang lain.


"But if you give me one more chance
To show my love for you is true I'll stand by your side your whole life through"

Selalu berikan kesempatan kepada orang lain untuk mencintai dan mengasihi Anda. Sebaliknya, berusahalah untuk mencintai dan mengasihi orang lain. Bila waktu itu sudah "habis" tidak ada kesempatan lagi untuk merasakan kehangatan cinta dan kasih itu.


"
If life is so short
Why don't you let me love you
Before we run out of time
If love is so strong
Why won't you take the chance
Before our time has gone
If life is so short, if life is so short
"

Cintailah orang lain selama kita masih ada waktu. Ingat, kehidupan di dunia ini sangat-sangat singkat. Berikan yang terbaik kepada Tuhan dan sesama kita. Teruslah menjadi berkat bagi orang lain. Jangan sia-siakan kehidupan di bumi ini yang hanya sebentar ini. Berbuatlah hanya yang terbaik untuk orang-orang.


"
Love is a word that explains how I feel for you
And when you're in my arms, all my dreams come true "

Carilah paling tidak seseorang yang bisa Anda cintai. Bisa orang tua Anda, pasangan Anda, pacar Anda, sahabat Anda atau saudara Anda. Berikan perhatian lebih kepadanya. Buat dia merasa spesial. Buat dia merasa dicintai. Buat dia berharga memiliki Anda. Buat dia bangga mempunyai teman seperti Anda.


"
And when you're not around
You can't hardly see
These tears that I'm crying now are for you to be with me "

Seringkali aku menangis sendiri di kamar ketika merasakan kesepian. Sepertinya, orang-orang yang kita cintai dan kasihi tidak merespon kita. Padahal kita sudah berkorban banyak hal untuk mereka tetapi mereka seolah-olah hanya menanggapi kita dengan dingin, sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tapi optimislah! Mereka akan merasakan ada sesuatu yang "hilang" ketika suatu hari kita tidak berada di sisi mereka.


Kehidupan di dunia ini sangat singkat. Singkat bukan berarti kita tidak bisa memberikan yang terbaik kepada mereka. Tetapi dalam waktu kehidupan yang singkat ini kita harus bersemangat dan memberikan yang terbaik, dan hanya yang terbaik, kepada orang-orang di sekeliling kita dan terutama Tuhan kita.

Tuhan memberkati!