Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik.Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepada hadirin,"Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian,tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?"Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya.Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting.Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya.Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.- Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial...!!!Senin, 08 September 2008
Nilai Uang dan Nilai Manusia
Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik.Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepada hadirin,"Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian,tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?"Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya.Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting.Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya.Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.- Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial...!!!Jumat, 05 September 2008
Behind the Song: Janjimu S'perti Fajar
"JanjiMu s'perti fajar pagi hari....yang tiada pernah terlambat bersinar....
cintaMu s'perti sungai yang mengalir....
dan kutahu betapa dalam kasihMu.........."
Demikian lirik dari reff lagu "JanjiMu Seperti Fajar".
Hampir semua umat Kristen dari berbagai denominasi Gereja bisa menyanyikannya. Saya ingat, suatu kali dalam pelayanan kunjungan ke Rumah Sakit, kami menyanyikan lagu-lagu penghiburan dari kamar ke kamar, untuk menguatkan dan memberi pengharapan kepada pasien-pasien yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
Ada seorang pasien yang meminta lagu JanjiMu Seperti Fajar dinyanyikan. Pasien ini menderita kanker stadium lanjut dan sudah sangat lemah. Kerabat keluarga yang dikasihi mengelilinginya, dan bersama-sama kami menyanyikan lagu ini. Tak terasa airmata menetes. Rasa haru yang dalam begitu kuat menguasai kami, dan kasih Bapa terasa dicurahkan atas pasien itu.
Teman-teman juga pasti mengalaminya saat menyanyikan lagu ini. Ada kekuatan baru yang dilimpahkan ke atas setiap yang menyanyikannya. Yang jelas...banyak orang diberkati, tapi nggak banyak yang tahu siapa penulis lagu ini. Penasaran ???
Untuk itu, saya sengaja meminta kepada songwriter, Afen, untuk menuliskan story behind the song. Apa yang dialaminya, sehingga lagu yang sangat powerful ini tercipta. Original lho. From the deepest heart of songwriter "JanjiMu Seperti Fajar".......
Nama saya Afen Hardianto.
Saya tinggal di Malang bersama dengan istri dan 2 anak saya yang perempuan 6 tahun dan yang laki-laki 4 tahun. Saya berpacaran dengan istri saya sejak duduk dibangku SMA. Pada masa kita masih pacaran hubungan kita ditentang oleh keluarga istri saya. Tetapi kita tetap berpacaran sampai akhirnya kita mendapatkan restu untuk menikah. Tanpa saya sadari ternyata saya menyimpan kepahitan dari akibat hubungan kami yang dulunya ditentang.
Dan kepahitan itu saya simpan dan pupuk dan saya bawa di pernikahan sampai menyebabkan hubungan saya dengan istri menjadi kurang harmonis di tahun-tahun awal pernikahan kami. Kemudian masuklah pihak ke tiga yang semakin memperkeruh keadaan rumah tangga kami. Dan rumah tangga saya semakin amburadul.
Saya menolak dan menganggap istri saya sebagai penghalang kebahagiaan saya, sehingga saya membenci istri saya. Rasa cinta terhadap istri sudah tidak ada lagi, yang ada adalah kebencian yang menumpuk. Saya selalu menyakiti hati istri saya, walaupun istri saya tidak membalas tetapi saya semakin menyakitinya.
Saya tidak mempedulikan anak saya, dan saya pun sibuk dengan keegoisan saya sendiri. Yang dilakukan istri saya hanya berdoa dan berpuasa, bahkan saat ia mengandung anak kami yang ke 2, ia berpuasa Ester untuk saya. Istri saya menutupi segala keadaan yang terjadi dalam rumah tangga kami dari keluarganya. Ia berpegang pada firman Tuhan di Amsal 21:1 : “jika hati raja-raja ada didalam genggaman tangan Tuhan, apalagi hati seorang Afen”
Tetapi saya tetap tidak memperdulikannya sampai pada akhirnya saya menyuruh istri saya untuk pergi dan saya antarkan istri dan anak saya pulang ke rumah orang tua istri saya. Dan orang tua istri saya pun menerima mereka dan juga menghendaki perpisahan ini dan megharapkan akan berujung pada perceraian. Saat itu istri saya berkata kepada saya, ini bukan akhir dari segalanya. Setelah saya meninggalkan istri dan anak saya, saya berpikir saya akan menjalani hidup saya yang baru. Tetapi pada suatu malam pada saat saya sendiri Tuhan mengingatkan saya pada anak saya yang pertama, saya tiba-tiba merasakan rindu dan kangen sekali pada anak saya itu. Waktu itu anak saya masih berusia 1,5 tahun. Hati saya hancur dan saya menangis.
Saya berkata kepada Tuhan :
“ Tuhan apakah akhir dari hidupku akan seperti ini, saya yang dari dulu (SMP) sudah melayani Tuhan sebagai pemain musik tetapi apakah rumah tanggaku akan berakhir dengan perceraian?”
Tiba-tiba Tuhan memberikan melodi kepada saya lagu : "JanjiMu Seperti Fajar", dimana rencana saya lagu ini akan saya simpan untuk saya pribadi. Tetapi pada saat pendeta saya mau rekaman, pendeta saya kekurangan 1 lagu dan ia bertanya kepada saya, apa saya mempunyai lagu. Dengan malu-malu saya tunjukkan lagu JanjiMu Seperti Fajar kepadanya.
Saya benar-benar tidak menyangka lagu tersebut ternyata menjadi berkat bagi banyak orang, termasuk saya dan keluarga. Dan singkat cerita Tuhan memulihkan keluarga saya. Istri, dan anak-anak saya juga sudah kembali bersatu dengan saya. Bahkan anak ke 2 saya yang dulu saya tolak dan lahir secara premature tanpa saya dampingi juga lahir dalam keadaan yang normal dan sehat. Dan setelah keluarga saya kembali bersatu, saya juga baru mengetahui bahwa pada saat keluarga saya berantakan setiap hari istri saya menuliskan kata-kata iman di sebuah buku.
Didalam tulisannya tersebut istri saya mengatakan :
Suamiku Afen pasti dikembalikan Tuhan padaku, keadaan ini adalah baik bagiku karena pasti ada anugerah besar bagiku,
suamiku Afen adalah suami yang takut akan Tuhan,
suamiku Afen adalah suami yang mengasihiku,
semua ini mendatangkan kebaikan bagiku karena Tuhan pembelaku ada di pihakku.
Dan sekarang saya benar-benar merasakan pemulihan yang Tuhan kerjakan di dalam hidupku, bahkan saya juga tidak menyangka bahwa lagu JanjiMu Seperti Fajar menjadi lagu terbaik Indonesian Gospel Music Award 2006, menjadi theme song sebuah sinetron dengan judul yang sama, dan Tuhan memelihara hidup kami sekeluarga juga melalui lagu tersebut.
Terima kasih Tuhan Yesus Memberkati.
(from Afen Hardianto)
....wow...sungguh testimony yang mengharu biru.
Teman-teman pasti lebih dikuatkan lagi ya. Nggak pernah menyesal ikut Yesus, karena di dalam Yesus nggak ada tuh yang namanya dead end. Selalu ada jalan keluar. Selalu ada pengharapan yang baru. Pengharapan yang tidak pernah sia-sia. Kalau Afen (especially his wife) mengalami jalan keluar, kita juga akan mengalami jalan keluar. Because our destiny is being more than a conquerer !!!
Selamat ber juang !!!
Perpisahan
Tuhan yang memberikan, Tuhan juga yang akan mengambilnya suatu hari nanti. Mungkin itulah yang terjadi padaku. Sejak kecil saya dibesarkan oleh ibu saya. Ayah saya bekerja di luar kota yang jauh. Saya tiga bersaudara, mempunyai seorang kakak perempuan dan adik perempuan. Tidak ada laki-laki di rumah kecuali saya sendiri. Sejak kecil saya tinggal bersama ibu, kakak dan adik perempuan saya, bahkan kedua ekor anjing di rumah kami juga betina. Sebenarnya saya punya dua orang kakak laki-laki, tetapi keduanya sudah meninggal ketika usia mereka masih muda.
Sebagai seorang anak lelaku, sejak kecil saya ingin sekali mempunyai seorang koko (sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Cina), seorang kakak yang bisa mendengarkan ceritaku, bermain bersamaku, bisa berbagi denganku. Kalau saya sedang ada masalah dengan "cinta monyet" saya, ia bisa membantuku dan memberi masukan-masukan. Saya ingin mempunyai seorang kakak yang bisa mengarahkanku, membimbingku sekaligus menjadi temanku.
Saya memang tak pernah memintanya pada Tuhan. Tapi Tuhan tahu isi hatiku. Tahun 2006 silam, saya (entah bagaimana caranya) saya dekat dengan seorang teman saya. Waktu itu saya baru saja putus dengan pacar saya. Tak lama kemudian ia putus juga dengan pacarnya. Mungkin merasa senasib, kami pun berteman dekat. Di sisi lain, kami juga sama-sama sedang mempersiapkan diri untuk sebuah kontes. Wah, jadi semakin sering bertemu.
Saya juga tidak tahu, sejak kapan saya menganggapnya sebagai seorang koko bagiku. Orangnya benar-benar seperti figur seorang kakak yang saya rindukan selama ini. Setiap saya ada masalah, ia selalu menjadi seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Ketika saya sedang mengalami musibah, ia yang menolongku. Bahkan seringkali saya ngambek seperti seorang adik yang marah kepada kakaknya, ia selalu yang mengajak berdamai duluan. Sungguh, di hadapannya saya baru menyadari betapa saya seperti seorang anak kecil yang tidak dewasa.
Sahabatku (yang juga kokoku) tampak begitu dewasa. Kadang-kadang saya begitu iri dengan apa yang dipunyainya. Segala kepeduliannya, kebaikannya, benar-benar tidak seperti apa yang selama ini saya alami dengan teman-teman saya yang lain. Sungguh saya menemukan figur seorang kakak yang sebenarnya di dalamnya.
Dalam hatiku saya berpikir, selama dua puluh tiga tahun saya hidup, saya belum pernah merasakan seorang kakak, dan kini saya puya satu! Siapa lagi kalau bukan Tuhan yang memberi?
Ia juga yang mengajakku untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Ia yang mengajariku berdoa, untuk taat kepada Yesus. Ia memberikan secercah pengharapan di saat saya sedang sumpek-sumpeknya dengan masalah. Orangnya juga punya sebuah bisnis sendiri. Pelayanan menjadi pemusik di gereja. Wah, pokoknya kokoku yang satu itu hebat banget deh!
Namun tampaknya ada seseorang yang tidak suka dengan kedekatan kami dan Tuhan. Ialah Iblis. Ia mulai memanfaatkan kelemahan-kelemahanku untuk masuk ke dalam celah hatiku dan mengintimidasi kami. Mulailah yang namanya percekcokan dan masalah. Kami mulai bosan satu sama lain. Bahkan (dengan jujur saya tuturkan di sini) saya ada rasa iri hati padanya. Setiap kali saya bertemu dengannya, ada perasaan tidak nyaman. Seperti "saya kalah darinya", "dia bukan apa-apa" dan "dia meremehkanmu". Perasaan itu menggangguku setiap kali saya mau berbicara padanya. Sehingga setiap tindakan yang dilakukannya selalu menuai kritik dan sinis dari saya.
Lama kelamaan, entah kenapa (apa mungkin karena tindakanku yang semakin hari semakin seperti anak kecil), ia mulai menjauhiku. Kami sudah jarang bersama lagi. Kalau ada masalah, saya lebih suka berbagi dengan teman saya yang lain ketimbang dia. Begitu pula dengannya. Kami jarang lagi bersama. Bahkan cenderung ada hawa permusuhan setiap kami mengobrol.
Kami sudah tidak pernah lagi berlatih bersama (kami berdua keanggotaan gym yang sama). Kami tidak pernah berdoa bersama lagi. Pokoknya setiap kali kami mengobrol selalu ada perasaan yang mengganjal dalam hati. Saya sendiri pun tidak tahu apa itu!
Dua bulan saya bergumul dengan Tuhan. Tuhan mulai menunjukkan mengapa hal itu bisa terjadi. Tidak langsung saya menyadari kalau kesalahannya ada padaku. Saya selalu menyalahkan sahabat saya itu. Tapi Tuhan itu benar-benar baik. Hari demi hari Ia mulai menunjukkan siapa sebenarnya saya di hadapan teman saya itu.
Saya benar-benar seperti seorang anak kecil yang tidak dewasa sama sekali. Merengek, memaki, menggantungkan solusi masalahku pada temanku itu, meminta perhatiannya, menuntut dan menghakimi ia. Benar-benar tindakan yang sangat murahan!! Dan tindakan seperti itu yang saya lakukan pada seseorang yang sangat saya kasihi. Saya malu sekali ketika saya diingatkan Tuhan.
Saat itu saya mulai bertanya, "Apakah saya salah, Tuhan?" Tuhan menjawab, "Sejak kecil kamu mendambakan figur seorang kakak. Kini kamu sudah merasakannya. Dan kini Aku mau kamu menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Terpaksa saya harus memisahkan kalian untuk sementara."
Mulanya saya kira Tuhan hanya main-main. Tapi sejak itu hubunganku dengan temanku itu semakin merenggang. Bahkan saya menjadi lebih kekanak-kanakan daripada biasanya ketika bertemu dengannya! Saya memang seorang keparat! Tapi saya tidak bisa menghentikan sifatku yang kanak-kanak (mengkritik dan menunjukkan sikap bermusuhan)! Saya mau tapi tidak bisa!! Saya tidak bisa mencegah mulut dan sikap keparatku ini!!
Saat saya mulai menyadari kesalahan saya, semuanya sudah terlambat. Terlalu terlambat! Ia sudah menutup hatinya untukku. Ia tidak memberikan kesempatan lagi kepadaku. Ia memang tidak menjauh, tapi ada sesuatu yang menghalangi kami untuk seperti dulu lagi. Perasaan gengsi, sungkan, malu selalu menghinggapi diriku ketika saya ingin membuka pembicaraan.
Pemisahan ini juga semakin ditunjukkan Tuhan dengan pembelahan sel persekutuan tempat dulu kami bertumbuh. Kami dipisahkan 'secara paksa' oleh Tuhan.
Malam itu hatiku hancur. Hancur lebur tak bersisa. Saya menangis dan menangis. Tidak terhitung berapa banyak air mata yang saya kuras. Selama dua puluh tiga tahun saya hidup dan belum pernah mempunyai seorang 'kakak' yang akhirnya saya punya satu. Ternyata ini juga kandas. Persahabatan saja kandas, apalagi kalau saya membina rumah tangga suatu hari nanti. Saya takut! Takut! Mungkin benar apa yang dikatakan sahabat saya, "Kalau kamu begini terus, kamu tidak akan pernah bisa berteman dengan siapapun." Apalagi berumah tangga!, tambahku.
Saya menangis dan menangis. Menangisi diri saya yang bodoh dan tidak dewasa. Saat semuanya sudah terlanjur, saya baru menyadarinya dan sudah terlambat untuk kembali. Oh Tuhan, mengapa Engaku seperti ini padaku??
Suatu malam Tuhan menjawabku dengan suara yang audible. Ia berkata dengan lembut, "Sudah saatnya kamu tumbuh dewasa. Dan kamu akan lebih cepat tumbuhnya kalau kamu tidak bersama Romano lagi." Ia mengambil seorang yang sangat berharga di kehidupanku hanya untuk menjadikanku lebih dewasa.
Blogger terkasih, kadang-kadang Tuhan harus bertindak 'kejam' untuk membawa kita ke level yang lebih tinggi. Sudah pasti kita akan merasakan sakit dan pahit, tapi Tuhan tidak membiarkan kita. Ia senantiasa merangkul kita dan membantu kita dalam melewati proses itu. Sama seperti 'saya' yang diajar Tuhan untuk lebih dewasa. Mungkin juga 'saya' telah memberhalakan sahabatnya sehingga ia diingatkan.
Amsal 17:17 - suatu hubungan adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan yang memberinya dan Tuhan juga bisa mengambilnya suatu hari nanti. Jadi, apapun anugerahmu, berhati-hatilah untuk jangan sampai kamu memberhalakannya. Jaga baik-baik kemurnian hatimu.
Tuhan memberkati.
Rabu, 03 September 2008
Shopping
Kepada Anna,Saya baru saja berbelanja untuk Natal. Tapi sepertinya saya harus keluar untuk berbelanja lagi. Karena saat ini saya kehabisan KEHORMATAN. Karena saat ini saya seringkali menghabiskan KATA-KATA saya dengan boros dan sia-sia. Saya ingin meminta maaf kepada semua orang-orang yang telah kusakiti.
Saya juga mau menukarkan satu dus MALU yang kubeli (yang semuanya busuk) dengan satu dus PERCAYA DIRI. Saya dengar itu lebih murah dan juga lebih menyehatkan ketika dikonsumsi secara rutin. Dan sementara kasir mengepak barang saya, saya melihat-lihat ke rak baju KESABARAN kalau-kalau ada ukuran yang cocok denganku.
Oh iya, saya juga harus membeli gaun KESABARAN saya dengan model yang baru. Yang lama sudah kekecilan. Tetangga saya memakai model itu dan ia tampak begitu cantik. Seorang pramuniaga memberitahuku, tidak mengapa kalau gaun itu kekecilan. Di sana ada penjahit yang bisa memperbaiki INTEGRITAS. Punyaku semakin menciut dan kalau tidak segera dijahitkan maka akan habis.
Hampir saja lupa yang terpenting: BELAS KASIH. Kalau saya melihat barang langka ini (dalam ukuran atau warna apapun) pasti saya beli berapapun harganya! Saya pernah kehabisan beberapa kali dan sering merasa malu karena kehabisan barang ini.
Saya tidak tahu mengapa saya bisa menghabiskan banyak waktu untuk belanja kali ini. Padahal jumlah belanjaanku tidak sebanyak belanjaku kemarin, bahkan lebih murah dibandingkan kemarin (dengan kepuasan dobel tentunya).
Dan belanjaku kali ini saya tidak perlu membawa dompet dan kartu kredit, karena semuanya gratis. Hanya saja butuh waktu untuk mencarinya.
Es Krim
Suatu siang saya membawa Jimmy, putra saya yang paling kecil yang masih berumur 5 tahun ke sebuah restoran. Saya mengajaknya makan siang karena ia memperoleh nilai rapor yang bagus. Makanan yang dipesan pun terhidang di atas meja dan saya meminta Jimmy untuk memimpin doa sebelum makan."Tuhan, terimakasih Jimmy ucapkan untuk makananannya. Bapa sungguh baik dan akan lebih baik lagi apabila Jimmy mendapatkan tambahan lagi segelas es krim. Amin", Jimmy menutup doanya yang sederhana.
Mendengar doa Jimmy, seorang wanita yang duduk di meja sebelah tertawa terpingkal-pingkal. "Anak-anak jaman sekarang, doanya tidak benar! Tidak tahu caranya berdoa. Masa minta es krim??" celetuknya.
Mendengar itu, putraku berkata padaku sambil terisak, "Apa Jimmy salah, Pa? Apa Tuhan nanti marah sama Jimmy?" Saya langsung mengusap air matanya dan berkata padanya dengan lembut, meyakinkan ia kalau Tuhan tidak akan marah dan doanya sudah benar.
Tiba-tiba seorang pria setengah baya mendekati meja kami. "Nak, paman berani menjamin kalau doamu tadi sangat luar biasa!" ujarnya sambil tersenyum.
"Sungguh?" tanya Jimmy.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum. Sambil berbisik (supaya tidak didengar wanita itu) ia berkata, "Sayang sekali tante itu tidak pernah meminta es krim kepada Tuhan. Padahal terkadang es krim bisa mendinginkan pikiran dan baik untuk hati kita."
Akhirnya, setelah makan siang berlalu, saya memesankan satu gelas sundae untuk Jimmy. Putra saya memandangi es krim itu sejenak sebelum melakukan sesuatu yang saya ingat sampai sekarang. Sambil memegang es krimnya ia berjalan ke arah wanita itu dan memberikannya pada wanita itu. Dengan senyum yang lebar ia berkata, "Tante, ini Jimmy kasih es krim. Kadang-kadang es krim baik untuk hati kita dan hati Jimmy sudah baik."
Blogger terkasih, bukan doa yang benar yang diperhatikan oleh Tuhan melainkan doa orang benar. Bukan sikap benar yang diperhatikan Tuhan, melainkan apa kata hati kita saat itulah yang diperhitungkan. Dengan Tuhan kita tak mungkin berbohong karena apapun isi hati kita Ia selalu tahu.
Mulailah berdoa dengan hati yang benar, hati yang murni dan tertuju hanya kepadaNya. Hati yang tulus, yang tidak dibuat-buat dan hati yang memandang padaNya itulah yang didengar Tuhan. Tuhan memberkati!
Selasa, 02 September 2008
Filter
Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?""Tunggu beberapa menit," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan meberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test."
"Triple filter Test?"
"Benar," kata Socrates. "Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test."
Filter petama adalah KEBENARAN. "Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?"
"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."
"Baik," kata socrates. "Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"
"Tidak, malah sebaliknya..."
"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada sattu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"
"Tidak, sama sekali tidak."
"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar , buruk dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"
Itulah mengapa Socrates adalah filsuf besar dan sangat terhormat. Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang Anda kasihi.
Paulus, rasul dari Yesus kristus mengatakan, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap di dengar, semua yang disebut kebajikan dan patus dipuji, pikirkanlah semuanya itu... Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." (Filipi 4:8-9)
sumber: Warta Mawar Sharon
Senin, 01 September 2008
Pelajaran: Nama
Waktu saya masih duduk di semester tiga bangku kuliah, dosen mata kuliah Budi Pekerti saya memberikan kami kuis dadakan. Katanya, nilai kuis itu akan menjadi patokan kelulusan bagi kami semua.Saya mengerjakan soal itu satu per satu. Semua soal bisa kujawab dengan baik kecuali soal nomor terakhir: "Siapa nama seorang ibu yang biasa menyapu dan membersihkan kampus?" Kupikir ini semacam gurauan di atas kertas lembaran kuis.
Saya memang sering melihat ibu itu. Rambutnya panjang dan perawakannya tidak terlalu tinggi, berumur sekitar 50 tahunan, tapi... mana kutahu siapa namanya? Saya mengembalikan kertas kuis tersebut dengan jawaban kosong pada soal terakhir.
Sesaat sebelum kelas dibubarkan, seorang teman saya bertanya apakah soal terakhir juga diperhitungkan. "Jelas", jawab dosen saya tegas. "Di dalam masyarakat dan dunia kerja, kalian semua akan menemui banyak orang. Semua orang berharga dan harus diperlakukan sama. Mereka layak mendapat perhatian dan hormat, bahkan mungkin hanya sekedar menyapa 'Selamat pagi' ".
Saya tidak akan lupa akan pelajaran tersebut. Saya juga belajar kalau setiap tindakan kecil kita, baik itu hanya sekedar bertegur sapa atau menundukkan kepala sedikit, akan membuat orang lain merasa lebih dihargai. Istilahnya: memanusiakan orang-orang yang seringkali dianggap tidak berharga. Saya juga belajar satu hal lain, kalau ibu itu bernama Bu Ros.
Langganan:
Postingan (Atom)