Kamis, 08 Januari 2009

Kopi

Sekelompok alumni mahasiswa sedang berkunjung ke salah seorang dosen mereka di jaman mereka kuliah dulu. Mereka kini sudah bekerja bahkan beberapa di antaranya sudah berkeluarga. Dan tentu saja mereka berasal dari latar belakang yang berbeda.

Di ruangan dosen itu, sambil bersenda gurau dan mengenang masa-masa kuliah dulu, dosen itu menyuguhkan senampan kopi untuk para mantan mahasiswanya. Ada kopi pada gelas kristal, gelas keramik, gelas kaca, gelas plastik, cangkir dan sebagainya. Semua bentuk gelas dari yang bagus sampe yang jelek ada di sana.

Masing-masing mengambil gelasnya. Dan di akhir pengambilan yang tersisa hanyalaha dua kopi dengan gelas yang tidak bagus.

Ketika semuanya sudah memegang gelas kopinya masing-masing, dosen itu berkata, "Bila kalian perhatikan, semua gelas yang bagus dan kelihatan mahal diambil terlebih dahulu dibandingkan dengan gelas yang kelihatan murah dan jelek. Well, tidak ada salahnya menjadi orang yang lebih mementingkan diri sendiri. Lumrah itu.

Tapi sebaiknya yang harus diperhatikan adalah rasa dari kopi itu sendiri. Sadarkah kalian kalau kopi di semua gelas ini berasal dari sumber yang sama, memiliki rasa yang sama dan warna yang sama? Hanya saja packing dari kopi ini berbeda."

Saya mencoba melihat kisah ini sudut pandang yang lain dari versi aslinya.

Begitulah dengan kehidupan ini. Tuhan melihat hati dan manusia melihat rupa. Kita harus mempunyai hati yang taat, hati yang benar di hadapan Allah (ingat, Tuhan melihat hati). Tapi ingat, kita masih hidup di dunia ini dan dunia ini melihat rupa. Banyak yang mengatakan, rupa tidak penting tapi hati yang terpenting. Ungkapan ini tidak sepenuhnya benar.

Ibarat seenak-enaknya biskuit dalam satu produk, tetapi bungkusnya lusuh dan tidak menarik, maka produk itu tidak akan laku juga. Manusia juga. Mau sebaik malaikat apabila tidak disertai dengan penampilan menarik tidak akan menjadi berkat dan inspirasi bagi orang lain.

Ingatlah di dunia ini kita harus menjadi terang dan berkat bagi sekeliling kita. Bila kita memiliki hati yang baik, tapi dengan penampilan yang (katakanlah) lusuh dan tidak menarik, orang lain juga tidak akan mendatangi kita sehingga kita tidak akan bisa menjadi berkat. Contohlah Pak Andrie Wongso. Ia bisa menjadi berkat dan motivasi bagi orang lain, mempunyai inner yang kuat dan outer yang menarik.


Mulai hari ini, berbenahlah. Ubah penampilan Anda menjadi lebih menarik. Orang lain akan merasa nyaman dengan keberadaan Anda. Dan di saat itulah, manfaatkan sebaik-baiknya momen tersebut untuk menjadi berkat buat orang lain. Jadilah harapan, jangan hanya berharap.

So, kalo bisa cantik luar dalam, mengapa harus cantik di dalam saja?

Tidak ada komentar: