Selasa, 17 Juni 2008

Jembatan

Alkisah di suatu pinggiran kota ada sebuah sungai lebar dan ada sebuah jembatan besar yang menjembatani ujung satu dengan ujung yang lainnya. Sehari-harinya jembatan itu terbuka karena kapal-kapal yang lewat di sungai tersebut. Apabila ada kereta api yang hendak melintas, maka jembatan itu harus diturunkan dan disatukan sehingga kereta api bisa melintas. Begitu kereta api lewat, maka jembatan akan dinaikkan kembali.

Untuk menaikkan atau menurunkan jembatan itu seorang bapak tua dipercayakan untuk menjalankan tuas. Ia sehari-harinya duduk di sebuah bangunan kecil di sisi kiri sungai tersebut untuk mengatur control tuas tersebut.

Suatu malam, seperti biasa pak tua itu sedang menunggu kereta api terakhir yang lewat. Ia melihat di kejauhan ada cahaya samar-samar dari lampu kereta api. Ia pun kemudian masuk dan menurunkan jembatan.

Tetapi sesuatu terjadi. Mendadak tuasnya macet dan jembatan tidak bisa diturunkan. Bila jembatan tidak diturunkan, maka kereta api yang lewat akan terus dan mencebur ke sungai. Pak tua itu tahu persis kalau kereta api tersebut bermuatan penumpang dan bukan barang. Dan apabila kereta api tersebut menabrak dan masuk ke sungai akan memakan banyak korban jiwa!
Pak tua itu kemudian berlari menuruni tangga ke bawah jembatan tersebut. Di bawah jembatan tersebut ada sebuah tuas untuk menurunkan jembatan secara manual. Tetapi tuas tersebut tidak bisa terkunci secara otomatis sehingga perlu seseorang untuk menahan tuas tersebut hingga kereta api lewat.

Pak tua itu menahan tuas tersebut sebisa mungkin hingga kereta api lewat. Ia mendengar suara kereta api makin lama makin mendekat. Dia harus mempertahankan posisi kereta tersebut karena apabila tidak, maka banyak jiwa yang akan melayang karena kelalaiannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari ujung sana. Anak laki-lakinya yang berumur empat tahun keluar dari bangunan kontrol dan mencari-cari ayahnya.

“Ayah! Ayah! Ayah di mana?” serunya sambil berjalan hati-hati dalam kegelapan mencari-cari ayahnya.

Pak tua tersebut langsung pucat! Sekujur tubuhnya menjadi dingin melihat anak tersebut berjalan di rel kereta api tersebut. “Lari!! Cepat lari dari sana!!” serunya.
Tetapi sepasang kaki mungil putranya itu tidak akan bisa membuat anak itu lari cepat menghindar.

Hampir saja pak tua itu berlari untuk menyelematkan anaknya. Tetapi kemudian pak tua tersebut menyadari kalau ia tidak akan bisa kembali tepat pada waktunya untuk mempertahankan posisi jembatan apabila ia meninggalkan tuas tersebut. Selama sepersekian detik pak tua tersebut harus mengambil keputusan sulit: tetap mempertahankan posisi jembatan atau lari menyelamatkan putranya.

Beberapa saat kemudian kereta api berjalan dengan mulus, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seluruh penumpang di kereta itu tidak menyadari kalau ada seorang anak kecil yang tertabrak dan terlempar ke dalam sungai. Mereka juga tidak menyadari malam itu seorang pria tua yang malang menangis sambil terus memegangi tuas tersebut.

Mereka juga tidak melihat langkah gontai pak tua tersebut ketika pulang. Langkah yang lebih pelan dari biasanya ketika berjalan pulang ke rumah, memberi tahu keluarganya begitu tragis kematian putra mereka.

Tahukah Anda begitulah perasaan Bapa di surga ketika putraNya yang tunggal mati di kayu salib. Seorang Bapa yang rela mengorbankan anakNya hanya untuk mempertahankan posisi jembatan yang menghubungkan kita manusia dengan hidup yang abadi. Mungkin itulah mengapa langit terbuka dan bumi bergoncang, berkabung ketika Yesus mati di kayu salib. Sudah saatnya kita menyadari pengorbanan Yesus di kayu salib adalah mati untuk menebus dosa kita.

Tidak ada komentar: