Kamis, 25 September 2008

Api dan Air

Seorang malaikat berjalan-jalan di pinggiran sebuah kota. Di tangan kirinya ada sebuah obor yang menyala dan di tangan kanannya ada seember air dingin. "Apa yang akan kamu lakukan dengan obor dan ember itu?" tanya seorang pejalan kaki.

Malaikat tersebut menjawab, "Dengan obor ini aku akan membakar dan meruntuhkan istana kerajaan Surga; dan dengan air ini aku akan menyiram, mendinginkan dan mematikan api neraka. Kemudian kita lihat manusia mana yang benar-benar mencintai Tuhan."

Sobat JINS, apakah Anda mencintai Tuhan hanya karena iming-iming nikmatnya kerajaan Surga pada waktu kebangkitan kita nanti? Apakah Anda mencintai Tuhan hanya karena ingin terhindar dari panasnya api neraka? Apakah Anda sungguh-sungguh mencintai Tuhan karena kebaikanNya dan pengorbananNya? Silakan Anda jawab sendiri...

Rabu, 24 September 2008

Kupu-kupu

Suatu ketika, ada seorang bocah hendak menangkap kupu-kupu. Ia meletakkan sebuah toples kaca di atas sebuah bangku. Di dalamnya ia isi dengan bunga yang harum.

Tak lama kemudian, seekor kupu-kupu yang cantik masuk. Langsung cepat-cepat anak itu mengambil tutup toples dan langsung menutupnya. Kupu-kupu di dalam itu masih tidak sadar kalau ia sudah terkurung. Ia masih menikmati madu dari bunga-bunga yang harum di dalamnya.

Suatu hari kupu-kupu itu melihat ada sebuah taman yang indah yang dipenuhi dengan banyak sekali bunga. Bunga yang berwarna-warni ditambah dengan sinar matahari yang cerah... Wah.. sungguh menyenangkan. Ia ingin sekali menuju ke sana.

Ia mulai mengepakkan sayapnya dan terbang tetapi DUUKKK... Ia menabrak kaca toples tersebut. Tidak menyadari, ia terus terbang dan DUKK.. menabrak lagi. Masih tak sadar kalau ia sudah terkurung dan ada sebuah kaca yang transparan, ia mencoba dan terbang sekali lagi. Dan hasilnya juga sama...

Beberapa hari berlalu dan akhirnya kupu-kupu itu berhenti mencoba dan akhirnya mati di dalam toples itu.

Sobat JINS, betapa kita manusia juga sama dengan kupu-kupu itu. Kita senang dengan kebahagiaan sementara. Kita bergumul dan bermain-main dengan dosa, untuk memperoleh kesenangan sesaat. Tanpa sadar, kita sendiri telah terkurung di dalamnya. Saat kita baru menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Kita melihat adanya suatu kebahagiaan di luar, suatu keindahan yang beratus-ratus kali lipat dibandingkan dengan apa yang ada di dalam toples. Kita mencoba melepaskan diri dari kurungan itu, tetapi dosa dan maut itu seperti kaca: transparan, tidak kelihatan dan membunuh pelan-pelan.

Sobat JINS, detik ini juga, minta seseorang untuk membuka tutup toples tersebut. Selamatkan jiwa Anda dari maut. Hindari segala dosa dan ketidakbenaran. Minta seseorang untuk melepaskan Anda. Orang itu adalah Yesus.

Selasa, 23 September 2008

Menemukan Kepingan Uang

Ada seorang anak kecil menemukan sepeser uang di tanah. Dia sangat gembira sekali karena tanpa bekerja ia mendapatkan sepeser uang. Hari-hari berikutnya selama masa hidupnya, ia terus berjalan menyusuri jalan-jalan, menundukkan kepalanya dan melihat ke tanah, membuka matanya lebar-lebar kalau-kalau ada uang yang jatuh.

Suatu ketika anak yang telah tumbuh menjadi dewasa (dan tua) itu meninggal karena tertabrak mobil. Seumur hidupnya anak itu menemukan 3 koin seratusan, 2 koin seribuan, 5 koin lima ratusan dan 8 koin lima puluhan. Jadi total uang yang ia temukan adalah lima ribu dua ratus rupiah.

Tanpa bekerja ia dapat uang!! Wow!! Tapi dia harus merelakan tidak pernah menikmati 31,369 kali matahari bersinar, 157 bujur pelangi yang indah, awan-awan yang silih berganti mengarungi langit biru, burung-burung yang berterbangan dan senyum hangat orang-orang yang melewatinya. Semuanya hanya karena menemukan sesuatu yang sia-sia.

Apakah Anda anak ini?: Kepala tertunduk ke bawah hanya untuk menemukan sesuatu yang kecil, sedikit jumlahnya dan sia-sia? Sebagai gantinya untuk uang lima ribu dua ratus ribu, ia harus kehilangan keindahan-keindahan di sekelilingnya. Is it worthy?

Jangan terlalu berharap untuk menemukan sedikit kekayaan. Selama kita masih hidup, nikmatilah keindahan-keindahan dunia ini. Jangan terlalu ngotot mencari uang. Uang bisa dicari, tetapi ada yang lebih berharga daripada itu: membuat orang lain berbahagia dan mencari kerajaan Allah.

Love the Show or Love the Star?

Kemarin dua hari berturut-turut ada KKR VICTORY di Bumi Moro Surabaya. Wuiiihhh... Rame bener yang datang!! Beribu-ribu orang menghadiri KKR tersebut. Sekitar 2000 orang merespon altar call dan beratus jiwa memberi dirinya dibaptis!! WOWW!! Sungguh Tuhan benar-benar bekerja!! Dan tidak rugi datang dua hari berturut-turut!! Ada sesuatu yang pasti didapat.

Ada hal yang menarik ketika penulis mengajak teman-teman penulis untuk menghadiri KKR. Sudah menghabiskan pulsa sekian puluh ribu untuk menelepon, sekian jam dan hari untuk berkunjung di rumah teman-teman, membagi brosur di pusat perbelanjaan.

Sehari sebelumnya sudah banyak teman-teman penulis (jiwa baru) yang menyanggupi untuk datang. Kurang apa coba? Transpor, akomodasi dan semuanya sudah penulis sediakan. Mereka hanya perlu menyediakan waktu. Tapi pas hari H-nya, banyak di antara mereka yang membatalkan secara mendadak. Ada yang alasan ulang tahun keponakannya, ada yang sudah janji sama orang tuanya dan yang paling parah ada yang malas ke KKR hanya karena mau tidur!

Wuih!! Bete abis!!!

Padahal mereka bukan termasuk jiwa baru. Ada yang sudah berjemaat, tetapi mereka malas-malasan kalau ke KKR (kalau ke pesta Natal atau Paskah saja mau, tapi kalo diajak ke KKR alasan ini lah itu lah). Padahal di KKR tersebut, percayalah, tidak rugi! Malah untung!

Kalau sudah begitu, tipe manusia-manusia yang seperti ini hanya suka acara gerejanya atau suka dengan bintang utama acara gereja ini? Sudah jelas kan bintang utama dari KKR bukan pengkhotbahnya, melainkan TUHAN sendiri. Tapi herannya masih ada aja orang yang lebih suka acaranya ketimbang bintang utamanya...

Yang paling parah yang alasan mau tidur itu... HOI!! Mana semangat mudamu!?!? Masih muda sudah loyo!? Jadi anak muda yang bersemangat donk!! Jangan lemas terus!! Tidur molo yang dipikirin!!

Seruan yang sama juga berlaku buat para pembaca yang masih muda tapi sudah malas-malasan! Hati-hati kalau masa muda kalian seperti ini, masa tua kalian akan bekerja susah payah!

FIGHT!!!

Minggu, 21 September 2008

Untuk Apa Manusia Diberi Umur Panjang?

Pada hari yang pertama Tuhan menciptakan sapi. Tuhan berkata, "Kamu harus menemani petani. Kamu harus bekerja di ladang di bawah terik matahari, membajak dan menghasilkan susu untuk mendukung petani itu. Aku akan memberimu umur enam puluh tahun."

Sapi berkata, "Hidup yang susah ini enam puluh tahun harus kujalani? Lebih baik aku ambil dua puluh tahun saja dan kukembalikan lagi empat puluh tahun padaMu."

Tuhan setuju.

Hari kedua, Tuhan menciptakan anjing. Tuhan berkata pada anjing, "Duduklah dan berjagalah di depan rumah. Menggonggonglah pada setiap orang yang mau masuk dan yang lewat. Aku akan memberimu umur dua puluh tahun."

Anjing itu berkata, "Terlalu lama kalau dua puluh tahun harus menggonggong. Gini saja, sepuluh tahun saja Tuhan. Dan sepuluh tahun lagi usiaku kukembalikan padaMu."

Tuhan setuju (whew).

Hari ketiga, Tuhan menciptakan monyet. "Hiburlah manusia, lakukan lawakan-lawakan dan buat mereka tertawa. Aku akan memberimu umur dua puluh tahun."

Monyet berkata, "Terlalu lama aku harus menghibur manusia. Sepuluh tahun saja, dan sepuluh tahun sisanya kukembalikan padaMu."

Dan Tuhan menyetujuinya lagi.

Pada hari keempat Tuhan menciptakan manusia. KataNya, "Makan, tidur dan bersenang-senanglah. Bersantai-santailah dan nikmatilah kehidupanmu. Aku akan memberimu umur dua puluh tahun."

Manusia berkata, "Koq cuma dua puluh tahun?!? Gini saja, aku akan mengambil umur empat puluh tahun yang dikembalikan sapi tadi, sepuluh tahun yang dikembalikan anjing tadi dan sepuluh tahun dari monyet tadi. Jadi total umur saya delapan puluh tahun. Bagaimana, Tuhan?"

Tuhan sekali lagi menyetujuinya.

Oleh karena itu, manusia makan, tidur, bersenang-senang, bersantai-santai selama awal dua puluh tahun hidupnya;

empat puluh tahun berikutnya manusia bekerja keras membanting tulang di bawah terik matahari hanya untuk menghidupi keluarganya;

sepuluh tahun berikutnya untuk melucu dan melawak seperti monyet untuk cucu-cucunya;

dan sepuluh tahun terakhir duduk di depan rumah, dan meng"gonggong"-i siapapun yang mendekat.

Kamis, 18 September 2008

Pelajaran Berharga: Batu & Pasir

Dua orang sahabat berjalan bersama-sama menyusuri sebuah gurun yang kering dan berangin.

Suatu hari kedua sahabat itu bertengkar dan seorang di antara mereka menampar yang lainnya. Yang ditampar hanya diam. Ia kemudian jongkok dan menuliskan di atas pasir: "Hari ini sahabat terbaikku menampar aku di sini."

Mereka terus berjalan hingga akhirnya tiba di sebuah oasis. Di sana mereka mandi dan berenang.
Kemudian tanpa diduga, kaki orang yang ditampar tadi tesangkut rumput liar dan tenggelam. Untunglah sahabatnya menolong dia.

Setelah tiba di tepian dan setelah semuanya tenang kembali, orang yang ditolong tadi menulis dan mengukir di sebuah batu, "Hari ini sahabat terbaikku menolongku di sini sebelum aku mati tenggelam."

Temannya yang pernah menampar dia dan juga yang menyelamatkan dia barusan bertanya dengan penuh penasaran, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulis di atas pasir. Tetapi setelah aku menolongmu kamu menulis di atas batu. Mengapa?"

Temannya dengan tersenyum menjawab, "Ketika seseorang menyakitimu, apalagi sahabat terbaikmu menyakitimu, kita cukup menuliskannya di atas pasir. Biarkan angin pengampunan yang akan meniupnya dan menghapusnya. Tetapi ketika seseorang menolongmu, tuliskan di atas batu supaya kekal dan angin tidak bisa menghapus jejaknya."

Belajarlah menuliskan luka-lukamu di atas pasir dan kebaikan-kebaikan orang lain di atas batu.

Pelajaran: Hukum Tentang Biji

Coba perhatikan pohon apel. Untuk sebuah pohon ukuran besar, bisa-bisa berbuah hampir lima ratus buah per pohonnya. Setiap buahnya memiliki sepuluh biji. Jadi kira-kira ada lima ribu biji per pohon apel! Kita mungkin pernah bertanya, "Mengapa perlu sebegitu banyaknya biji-biji untuk menumbuhkan beberapa pohon apel saja?"

Alam mengajari kita banyak pelajaran berharga. Salah satunya, "Ada banyak biji pada sebuah pohon apel. Tetapi yang benar-benar menjadi sebuah pohon hanya sedikit. Jadi, kalau Anda ingin mimpi Anda menjadi kenyataan, Anda perlu mencoba lebih dari satu kali.

Ini artinya:

  • Anda terkadang menghadiri dua puluh sesi wawancara (interview) hanya untuk mendapatkan satu pekerjaan.
  • Anda mewawancara (meng-interview) ratusan calon karyawan dan hanya menemukan seorang di antaranya yang berkompeten.
  • Anda terkadang harus menawarkan kepada lebih dari lima puluh orang hanya untuk menjual satu mobil, penyedot debu, polis asuransi dan sebagainya.
  • Dan Anda mungkin akan menemui banyak kenalan dan kerabat Anda hanya untuk menemukan seorang sahabat sejati dalam hidup Anda.
Kalau kita sudah mengerti "Hukum Tentang Biji" ini, kita tidak akan kecewa. Kita tidak akan merasa terus sebagai "korban". Dengan memahami hukum ini, berusahalah dan terus bangkit untuk mencoba kembali. Jangan pernah menyerah!

Tidak ada yang bilang hidup itu mudah dan nyaman untuk dijalani. Hanya saja Anda perlu memahami diri Anda, bekerja dan berusaha terus menerus untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati!