Minggu, 31 Agustus 2008

Adonan Roti di Bulan September

Bulan September! Ahh... Tak terasa sudah delapan bulan berlalu sejak tahun 2008 berjalan. Rasanya baru kemaren lusa saya merayakan pesta old & new bersama keluarga. Rasanya baru kemaren saya merayakan ulang tahunku. Rasanya baru kemaren saya merasakan suatu "sensasi" luar biasa persahabatan dalam Tuhan.

Sembilan bulan telah berlalu. Sembilan bulan kita sudah lebih tua daripada sebelumnya. Apakah kita juga sudah sembilan bulan lebih dewasa dalam hidup?

Bagi saya, jujur saja, bulan Agustus yang barusan lewat adalah bulan paling susah dalam tahun 2008 ini. Bulan di mana saya harus mengalami gesekan-gesekan hebat dengan sahabat saya, kerjaan yang seolah tidak ada habisnya, HP saya rusak, semua buku telepon hilang. Saya juga terpaksa harus merasakan hadirat Tuhan yang semakin menjauh, teguran dari sana sini, kritik pedas, tuntutan-tuntutan atas ketidakdewasaan saya. Satu bulan, selama bulan Agustus, cobaan tidak henti-hentinya datang.

Hari ini tepat tanggal 1 September. Hari yang baru, bulan yang baru. Tentunya dalam hati saya ada sebuah pengharapan yang baru: hari yang lebih baik. Cukuplah kesusahan selama sebulan. Saya mau mengawali awal bulan September ini dengan sesuatu yang baru, serba baru.

Suatu hari yang baru,
bulan yang baru,
pengharapan yang baru akan hari yang lebih baik,
semangat yang baru yang membuat apiku semakin berkobar,
jiwa yang baru yang semakin berapi-api,
hati yang baru yang semua akar kepahitan sudah tercabut bersih,
hubungan yang baru dengan Tuhan,
komitmen yang baru,
berkat yang baru,
pembelajaran yang baru,
dan

AKU yang baru.

Tuhan sungguh baik kepada saya. Lucu sekali tadi pagi ketika saya membaca firman, Tuhan langsung memberikan kepada saya sebuah pandangan yang juga baru.

1 Korintus 5 : 7-8

Tuhan membuang adonan lama dalam diriku yang sudah tercemar oleh ragi-ragi dunia dan menggantikannya dengan adonan roti yang baru. Adonan yang tanpa ragi sama sekali karena kita semua anak-anak Tuhan adalah adonan roti yang tidak beragi, sama seperti Kristus, tanpa cemar.

Pagi ini saya membuat beberapa komitmen yang akan kulakukan selama bulan September. Sebuah terobosan untuk membuang diriku yang lama (berikut semua 'kesialan' dan 'kefasikan'ku) dan biarkan Tuhan membuat adonan rotiku yang baru pada bulan September ini.

Jangan sia-siakan hidup Anda di tahun 2008 ini. Tidak banyak yang sudah saya kerjakan selama delapan bulan yang telah lewat ini. Lalu apakah ada gunanya bila kita terus menoleh ke belakang yang sudah lewat? Mendingan kita fokus ke sisa empat bulan ke depan untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk Tuhan dan orang lain, bukan begitu sobat?

Jumat, 29 Agustus 2008

Kesaksian dari Seorang (ex)Sahabat

"... Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Bedanya, kalo saya kena masalah dengan seorang sahabat lawan jenis. Anak itu namanya Jenny. Sudah dua tahun kami bersahabat. Kalo di kampus, sering duduk bareng. Kalo pas di kantin, selalu makan bersama, bercanda bersama. Pokoknya seru deh sama Jenny. Orangnya asyik, bisa diajak ngobrol apapun deh.

Pulang kuliah, dia biasanya saya bonceng sampai ke depan rumahnya. Kalo pagi-pagi pas nggak ada kerjaan, sms dia deh. Kadang-kadang cuma say hi aja. Rasanya tak lengkap kalau ada Jenny tapi aku tidak ada. Kalau aku sendirian pasti teman-temanku langsung nanya, 'Mana Jenny?'.

Keadaan berubah setelah dua tahun. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja si Jenny jadi cuek sama aku. Dia udah jarang balas smsku, udah nggak pernah kontak-kontak aku lagi. Kalo pas lagi kuajak ngobrol, dia selalu menjawab dengan sinis dan penuh sindiran. Padahal sama teman-teman lainnya dia biasa aja koq. Dia juga udah nggak pulang bareng aku lagi. Sekarang dia pulang sama temannya cewek yang lain. Terus dia juga nggak pernah ngajak aku ngobrol, jalan-jalan atau hang-out lagi.

Hey, aku bikin salah apa sama dia koq dia jadi begini? Aku tak habis pikir... Kalau memang aku salah ya ditegur atau diingatkan.

Aku mencoba mencari tahu. Selalu aku membuka pembicaraan dengannya, tetapi selalu ditutup dengan sinis olehnya. Aku mencoba mendekati dia lagi, tapi dia menjauh. Kadang-kadang aku belikan kue dan mengantar ke rumahnya, selalu pembantunya yang menerima dan bilang, 'Jenny-nya lagi keluar.'

Aku bingung. Suatu malam aku berdoa. Aku diberitahu sama Tuhan kalau memang itu maunya, ya lepaskan saja. Kalau memang ia ingin menjaga jarak silakan saja. Dan sepertinya aku juga sudah memberikan suatu 'harapan' yang salah kepadanya. Supaya aku tidak terlibat lebih jauh lagi maka hal yang harus terpaksa kulakukan adalah tega untuk menjaga jarak.

Yap, malam itu juga aku nelpon Jenny. Sebagai orang yang lebih dewasa, tentunya aku juga tak boleh seperti Jenny yang membalas cuek atau sinis. Aku meneleponnya. Lama tak diangkat, akhirnya dari seberang sana terdengar suara Jenny yang ketus dan terdengar marah.

Aku menarik napas panjang dan mengatakan kalo memang itu maunya untuk break, maka lebih baik sementara kita break. Saat itu kami memang belum pacaran. Kami cuma bersahabat. Dan aku juga tak menyinggung-nyinggung tentang sikapnya yang dingin padaku. Dia cuma menjawab, oke dan langsung menutup teleponnya.

Ah... lega rasanya! Seperti ada beban yang terlepas. Yap, untuk beberapa saat memang aku masih mengenang masa-masa bahagia kita bersama. Sakit sih... Perih kadang-kadang. Kenangan indah tak mudah dilupakan kan? Tetapi seiring waktu, aku mulai bisa melupakannya.

Satu semester berlalu. Sekarang aku sudah pacaran dengan seseorang. Lama tak mendengar kabarnya kangen juga. Dan hari itu, kebetulan sekali aku duduk satu bangku dengannya waktu kuliah. Canggung sih, seperti ada yang mengganjal di awal-awal obrolan kami. Tapi lama kelamaan mulai mencair dan seperti biasa lagi.

Tak ada pembicaraan khusus. Tetapi waktu pulang sampai di rumah, aku mendapati sepucuk surat diselipkan di map kuliahku. Dari Jenny.

Isinya, dia meminta maaf. Dia ingat semua perbuatannya di masa lalu. Dia pernah nyuekin aku, pernah mengacuhkanku, sinis kepadaku. Semuanya itu hanya menunjukkan betapa tidak dewasanya dia. Dan sekarang dia bertemu lagi denganku dan mengatakan kalau aku sudah banyak berubah. Lebih dewasa. Ia meminta maaf, lagi. Dan ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi... Dan ternyata dulu ia juga memendam perasaan suka kepadaku.

Lihat! Tuhan begitu ajaib menjadikan sebuah hubungan. Ia mendekatkan aku pada Jenny, Ia juga yang menjauhkannya karena sesuatu yang tidak beres.

Blogger terkasih, mungkin saat ini Anda terlibat suatu masalah yang serius dengan seseorang yang sangat dekat dengan Anda. Seseorang yang Anda cintai dan hormati dan kasihi tiba-tiba berbalik seolah menunjukkan sikap bermusuhan dengan Anda. Itu juga rencana Tuhan.

Tuhan saat ini sedang ingin menempa kedewasaan Anda menjadi lebih lagi. Pada ceritaku, Tuhan saat memisahkan aku dengan Jenny ingin membuatku lebih dewasa lagi. Tuhan juga hendak menyadarkan Jenny betapa tidak dewasanya ia.

Atau saat ini Andalah yang sedang dalam proses cuek dan dingin terhadap orang lain? Ingatlah ini bukan satu tindakan yang menunjukkan kematangan kita. Ini adalah tindakan paling childish yang pernah Anda lakukan. Jangan harapkan orang lain berubah tanpa Anda berubah lebih dulu.

Tuhan memberkati."

(thanks to Beldwin for sharing)

Dimurnikan Seperti Perak


Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak
(Maleakhi 3:3a)

Ayat ini sangat mengusik beberapa jemaat yang sedang mengadakan Penelaahan Alkitab, dan mereka bertanya-tanya apa maksud Firman Tuhan ini mengenai karakter dan sifat Allah.

Salah seorang anggota jemaat itu akhirnya menawarkan diri untuk mencari tahu proses pemurnian perak, dan akan menjelaskannya pada pertemuan Penelaahan Alkitab berikutnya.
Minggu itu, jemaat tersebut membuat perjanjian dengan seorang pengrajin perak untuk melihat bagaimana proses kerjanya saat memurnikan perak. Dia tidak menyebutkan sama sekali alasannya mengapa dia ingin mencari tahu proses pemurnian perak.

Dia menyaksikan pengrajin perak itu sedang memanaskan perak di atas api. Pengrajin itu menjelaskan bahwa ketika hendak memurnikan perak, dia harus menjaga agar perak itu tetap ada di tengah-tengah perapian dimana terdapat suhu yang paling panas, agar supaya perak itu dapat dimurnikan dari segala debu, batu, berbagai kekotoran yang melekat pada perak itu.

Jemaat itu kemudian membayangkan bagaimana Allah menjaga kita pada titik api yang terpanas, dan kemudian teringat kembali pada ayat yang mereka renungkan: "Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak". Kemudian dia bertanya kepada pengrajin perak itu apakah benar bahwa dia harus duduk di depan api sepanjang waktu hingga perak itu menjadi murni.

Pengrajin itu berkata ya, dia bukan hanya harus duduk menjaga perak itu, tetapi juga harus terus-menerus memperhatikan perak di atas api itu setiap saat. Jika terlambat diangkat sedikit saja, perak itu akan rusak.

Jemaat itu terdiam sebentar, dan kemudian bertanya, "Bagaimana anda tahu bahwa perak itu sudah benar-benar murni?"

Pengrajin itu tersenyum dan menjawab, "Oh, itu sangat mudah -- perak itu telah murni ketika saya bisa melihat wajah saya di dalamnya.

Jika hari ini engkau merasa sedang berada di tengah api yang panas, ingatlah bahwa Allah sedang memandang engkau, dan akan terus memandangmu hingga Dia dapat melihat WajahNya di dalam engkau.

Rabu, 27 Agustus 2008

Ilmu Pengetahuan & Allah

"Hari ini saya mau menjelaskan tentang rumusan masalah pada Yesus," seorang profesor atheis memulai kuliahnya. Dia berhenti sejenak sambil mencari-cari mahasiswa untuk ditanyai.

"Kamu orang Kristen?" tanyanya pada seorang mahasiswa baru.

"Betul, Pak."

"Jadi kamu percaya ada Tuhan?"

"Tentu saja."

"Apakah Tuhan itu baik?"

"Tentu!"

"Apakah Tuhan itu Maha Kuasa? Dia bisa melakukan semuanya?"

"Ya."

"Apakah kamu itu baik atau jahat?"

"Alkitab berkata semua manusia itu berdosa."

Profesor itu nyengir sambil berpikir dalam hatinya, "Aha! Alkitab!". Dia menimbang-nimbang sejenak.

"Begini, seandainya di dalam kelas ini ada seorang sakit dan kamu bisa menyembuhkannya. Apa yang akan kamu lakukan? Maukah kamu menyembuhkannya?"

"Aku akan mencoba menyembuhkannya."

"Jadi kamu itu orang baik."

"Saya tidak berkata demikian."

"Jangan berkata demikian. Kebanyakan manusia mau menyembuhkan dan menolong sesamanya bila mereka mampu. Tapi Tuhan tidak!"

Mahasiswa itu terdiam. Profesor itu melanjutkan lagi.

"Tuhan tidak melakukannya kan? Adik saya seorang Kristen, meninggal setahun lalu karena kanker. Meskipun ia setiap malam berdoa kepada yang namanya Yesus, ia tetap tidak disembuhkan. Jadi, apa Yesus ini orang baik?"

Kelas menjadi sunyi senyap.

"Tidak kan?" Profesor itu meneguk segelas air dan melanjutkan lagi. Kali ini ia menanyai mahasiswanya yang lain.

"Katakan, apakah Tuhan itu baik?"

"Er... ya"

"Kalau iblis?"

Tanpa ragu-ragu mahasiswa itu menjawab, "Tidak!"

"Jadi dari mana iblis yang tidak baik ini berasal?"

Mahasiswa itu menjawab dengan ragu-ragu, "Dari... Tuhan."

"Tepat sekali. Tuhan yang menciptakan iblis. Terus, adakah iblis di dunia ini?"

"Ada, pak."

"Benar. Iblis ada di mana-mana. Dan Tuhan pencipta segala sesuatu bukan?"

"Ya."

"Jadi Tuhanlah yang menciptakan iblis kan?"

Mahasiswa itu tertunduk tidak menjawab.

"Apakah di dunia ini ada kesakitan, penderitaan, kejahatan, kesengsaraan dan semua hal yang mengerikan?"

"Ya."

"Jadi siapa yang menciptakan semua itu?"

Mahasiswa itu diam tak menjawab.

"Katanya Tuhan yang menciptakan segalanya..." profesor itu terus menekan.

Kelas semakin sunyi.

Tiba-tiba profesor itu berjalan ke depan kelas dan menunjuk mahasiswa yang lain.

"Kamu," kata profesor itu, "apa kamu percaya Kristus?"

Mahasiswa itu tampak membantah dan menjawab dengan lantang, "Tentu saja!"

"Ilmu pengetahuan mengatakan kalau manusia punya lima panca indera untuk merasakan keadaan di sekelilingmu. Pernah lihat Yesus?"

"Tidak, pak. Belum pernah."

"Kalau mendengar Yesus ngomong secara langsung?"

"Belum."

"Pernahkah kamu menyentuh Yesus, mengecap Yesus, mencium baunya Yesus? Atau pernahkah kamu mempunyai persepsi sensorik terhadap Yesus atau Tuhan?"

"Tidak, pak."

"Menurut peraturan empiris yang berdasarkan pengamatan, penelitian dan observasi secara ilmu pengetahuan, kesimpulannya Tuhan itu tidak ada. Bagaimana menurutmu?"

"Saya percaya dengan iman, pak."

"Itu dia! Iman! Tidak ada bukti, itulah permasalahan utama ketuhanan dengan ilmu pengetahuan!" seru profesor itu.

Mahasiswa itu terdiam sejenak kemudia bertanya, "Pak, apakah bapak percaya kalau panas itu ada?"

"Ya," jawab profesor itu, "Panas itu ada."

"Kalau dingin?"

"Ada juga."

"Bapak salah. Dingin itu tidak ada."

Profesor itu menoleh dengan rasa tertarik pada mahasiswa itu. Seketika ruangan itu menjadi sunyi... lebih sunyi. Mahasiswa itu mulai menjelaskan.

"Kita bisa merasakan panas, setengah panas, suam-suam kuku, sangat panas, super panas dan puanaasss..., tapi tidak ada yang namanya 'dingin'. Kita bisa mencapai suhu minus 458 derajat di mana tidak ada 'panas' sama sekali. Kita tidak bisa lebih 'dingin' lagi pada suhu itu. Maksud saya, kata 'dingin' adalah kata untuk menjelaskan situasi di mana 'panas' tidak ada sama sekali. Panas bisa diukur karena panas adalah energi. 'Dingin' bukanlah kebalikan dari panas, melainkan kondisi di mana tidak ada 'energi panas' disebut 'dingin'."

Keheningan di ruangan itu bahkan sebuah bolpen jatuh pun terdengar seperti palu jatuh.

"Kalau 'kegelapan' pak? Adakah 'gelap' itu?"

"Ada," profesor itu menjawab, "kalau tidak ada gelap, lantas malam itu apa?"

"Bapak salah lagi. 'Gelap' itu tidak ada. 'Gelap' adalah ketiadaan dari 'terang'. Kita bisa merasakan samar-samar, terang, terang sekali, seterang kilat, sedangkan 'gelap' adalah situasi di mana tidak ada 'terang' sama sekali. Kita bisa membuat 'terang' yang lebih terang, tapi kita tidak bisa membuat 'gelap' lebih gelap lagi."

Profesor itu tersenyum dan berkata, "Jadi maksudnya?"

"Maksud saya ada kesalahan pada hipotesa premis bapak."

Profesor itu terkejut, "Bisa Anda jelaskan kenapa?"

"Bapak berpikir tentang hipotesa duality: kehidupan dan kematian, Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Bapak memandang Tuhan sebagai sebuah konsep keterbatasan, sesuatu yang bisa diukur manusia. Pak, bahkan ilmu pengetahuan pun tidak bisa kita pahami sepenuhnya. Siapa yang bisa menjelaskan tentang bagaimana bentuknya listrik dan suatu sifat kemagnetan, yang tidak pernah kelihatan wujudnya? Kehidupan dan kematian juga tidak bisa dilihat. Dan kematian bukan lawan kata dari kehidupan. Kematian adalah ketiadaan kehidupan pada suatu substansi.

"Dan profesor, apakah bapak mengajarkan manusia berevolusi dari kera?"

"Bila Anda membicarakan tentang proses evolusi, jawabannya ya."

"Apakah Anda pernah meneliti atau melihat dengan mata kepala sendiri proses evolusi itu?"

Profesor itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Karena tidak ada seorang pun yang melihat dengan mata kepalanya sendiri akan proses evolusi ini, atau bahkan membuktikannya, bukankah bapak sendiri mengajarkan tentang opini dan pemikiran bapak sendiri tentang evolusi ini? Bukankah bapak lebih mirip sebagai seorang pendeta daripada seorang ilmuwan?"

Suasana kelas menjadi lebih tegang.

"Menanggapi pertanyaan bapak tadi, boleh saya memberi contoh?"

Profesor itu mengangguk.

Mahasiswa itu memandang ke penjuru kelas dan dengan suara lantang bertanya pada teman-temannya, "Adakah seseorang di kelas ini yang pernah melihat otak profesor ini?"

Seluruh kelas tertawa, tapi menjadi tenang kembali.

"Adakah seseorang di kelas ini yang pernah mendengar otak profesor, mencium otak profesor, menyentuh atau merasakan otak profesor? Tidak ada yang pernah! Jadi menurut peraturan empiris yang berdasarkan pengamatan, penelitian dan observasi secara ilmu pengetahuan, saya berkesimpulan kalau profesor (maaf) tidak punya otak. Jadi kalau secara ilmu pengetahuan mengatakan bapak tidak punya otak, bagaimana kami sebagai mahasiswamu bisa percaya dengan apa yang bapak ajarkan?"

Kelas menjadi sunyi dan tegang lagi. Profesor itu hanya memandang mahasiswa itu dengan wajah yang sangat sulit ditebak.

Setelah beberapa saat, profesor itu menjawab, "Saya rasa kalian semua harus menerimanya dengan iman."

Selasa, 26 Agustus 2008

Penonton Utama

Matius 6 : 1-4
"... Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu..."

Blogger terkasih, apakah Anda sering memberikan sesuatu dengan pamrih? Apakah Anda suka memberikan sesuatu kepada orang lain hanya untuk dipuji orang? Apakah Anda memberikan sesuatu kepada orang lain hanya untuk mendapatkan penghargaan?

Ayat bacaan kita hari ini Matius 6 : 1-4 mengajarkan banyak hal.

Pada ayat 1 tertulis supaya kita tidak melakukan kewajiban agama kita supaya dilihat orang lain. Lalu apa kewajiban kita sebagai orang Kristen?

"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan jiwamu, dan kasihi sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri," itu tugas orang Kristen. Alkitab mengajarkan, apabila kita sungguh-sungguh mencintai orang itu, tunjukkan kasih kita dengan wajar, bukan dibuat-buat supaya dipuji orang lain.


Pada ayat 2 juga ditulis hal memberi persembahan dan sedekah. Kita memberikan suatu persembahan bukan untuk dilihat orang lain. Misalnya kita menyumbang ke panti asuhan, tujuan kita bukan untuk meningkatkan popularitas kita, bukan semata-mata supaya dilihat orang. Lantas, apa kita harus melakukannya diam-diam?

Mungkin sebaiknya ditegaskan lagi melakukan sesuatu bukan dengan diam-diam seperti maling, tetapi lebih ke SIKAP HATI kita. Apa yang menjadi motivasi kita dalam memberi? Apakah untuk mencari popularitas? Ataukah kita sungguh-sungguh ingin mengasihi orang-orang tersebut? Semuanya kembali lagi ke sikap hati kita masing-masing.

Ayat 3 menegaskan lagi pentingnya sikap hati kita ketika memberikan sesuatu kepada orang lain. (Sekali lagi) bukan untuk dipuji-puji dan mencari popularitas! Bila kita berdoa orang lain, biarlah "rahasia" doa kita hanya antara diri kita sendiri dan Tuhan, tidak perlu digembar-gemborkan ke orang tersebut untuk mencari muka ataupun mengatakannya kepada siapapun supaya dicap baik. Semua penilaian manusia adalah fana, sobat!

Ayat 4, Allah akan membalaskannya kepada kita setiap kebaikan-kebaikan kita selama sikap hati kita benar. Hal ini penting sekali: Sikap hati. Jangan sampai kita berbuat baik kalau ada maunya, dan di belakang kita menjelek-jelekkan orang tersebut. Apabila kita telah berbuat kebaikan, biarlah hal tersebut menjadi rahasia antara Anda dan Tuhan saja. Tidak perlu dipamer-pamerkan ke orang lain untuk mencari popularitas. Biarlah Tuhan sebagai penonton utama lah yang disuguhkan sajian terbaik dari sikap hati kita. Biarlah Tuhan yang menilai performa kita dan memberikan kita "tips" yang sepadan dengan apa yang kita berikan untuk orang lain.

Tuhan memberkati.

Senin, 25 Agustus 2008

5 Menit Lagi

Suatu sore yang cerah di sebuah taman bermain, seorang ibu duduk di sebelah seorang pria setengah baya. Kedua orang itu sedang mengawasi anak mereka masing-masing yang sedang asyik bermain.

"Itu putriku yang sedang naik sepeda itu, di sebelah sana..." kata bapak itu.

"Oh anak perempuan yang cantik," kata ibu di sebelahnya, "itu putraku di sebelah sana. Sedang bermain sepak bola," ujarnya sambil menunjuk seorang anak laki-laki yang memakai sweater warna merah.

Setelah beberapa saat mengobrol dengan ibu itu, bapak itu memanggil putrinya, "Melissa, sudah mau pulang? Ini sudah sore..."

"Lima menit lagi yah..." seru putri bapak itu dan ia kembali melanjutkan bermainnya dengan riang.

Ayahnya mengangguk dan membiarkan putrinya bermain beberapa saat lagi. Sepuluh menit kemudian bapak itu memanggil putrinya lagi, "Melissa, sudah mau pulang?"

"Lima menit lagi yahh... Plissss..." seru anak perempuan itu dengan senyum kecilnya.

Ayahnya mengangguk sambil melempar senyum kepada putrinya.

"Ya ampun, Anda benar-benar seorang ayah yang sabar..." kata ibu yang duduk di sebelahnya.

Bapak itu tersenyum dan berkata, "Kakaknya, Tommy, meninggal setahun yang lalu, tertabrak oleh supir mabuk. Dulu saya terlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya banyak waktu dengannya. Sekarang saya akan mengorbankan apa saja hanya untuk lima menit lagi dengan Melissa. Saya berjanji dengan diriku sendiri saya tidak boleh lagi melakukan kesalahan yang sama pada Melissa.

"Bagi Melissa, dia mempunyai waktu lima menit lagi untuk bermain. Tetapi bagi saya, saya mempunyai waktu lima menit lagi untuk melihat dia tersenyum."

Hidup adalah tentang prioritas kita. Apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? Lima menit lagi untuk pekerjaan? Pelayanan? Ataukah kita memprioritaskan lima menit lagi untuk duduk di kaki Tuhan mendengarkan kata-kataNya? Lima menit lagi untuk mencintai orang lain? Lima menit lagi untuk menunjukkan cinta kasih kita kepada sesama?

Mulailah menyisihkan "lima menit lagi" untuk Tuhan, untuk menunjukkan cinta kasih kita kepada saudara dan sahabat kita, dan lima menit lagi untuk memaafkan orang lain. Tuhan memberkati.

Stop complaining!!

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda telah melakukan suatu kebiasaan yang sangat kecil namun berdampak besar pada kehidupan sosial Anda?

Well, saya pernah. Dan kebiasaan yang sangat tak termaafkan ini kulakukan berulang-ulang kali. Lagi dan lagi.

Saya adalah seorang gadis berusia dua puluh tahunan dan bekerja sebagai seorang aktivis di gereja. Setiap hari saya bekerja sebagai seorang penanggung jawab di bagian
sound pada saat kebaktian sedang berlangsung. Hampir setiap minggu saya bertugas pada setiap kebaktian dan mendengarkan setiap dari pembagian firman Tuhan.

Namun saya mempunyai satu kebiasaan buruk. Kebiasaan ini sangat menggangguku dan (tentu saja) sangat mengganggu orang lain. Kebiasaanku ini seringkali menjauhkan saya dari Tuhan. Kebiasaan itu bernama "suka mengkritik".

Kebiasaan itu membuat saya tak pernah puas dengan seseorang. Dan yang sering menjadi korbannya adalah keluarga saya dan sahabat saya. Setiap kali ada sesuatu yang tidak kusukai dari mereka, saya langsung menghujani mereka dengan kritikan-kritikan pedas atau sindiran-sindiran. Meskipun saya menahannya, tapi selalu ada satu godaan untuk memulai suatu "kritik" bagi mereka. Mulanya keluarga dan sahabat saya menganggap itu sesuatu hal yang pantas dijadikan masukan. Tapi lama kelamaan saya mulai merasakan efek "annoyance" dari sikapku ini.

Saya mulai dijauhi oleh saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya. Mereka tampak "terganggu" setiap kali saya mulai berbicara. Mereka tidak senang setiap kali saya menumpahkan unek-unek saya (ya iyalah, siapa yang suka dikritik setiap hari?). Mungkin di dalam pikiran mereka saya dianggap sok pintar, terlalu menggurui atau bahkan terlalu sombong.

Lambat laun, satu per satu sahabat saya meninggalkan saya. Mereka mulai jemu. Mereka mulai malas berkawan denganku. Menurut mereka saya hanyalah seorang perusak suasana. Mereka merasa saya hanya seorang yang hanya menuntut dan menuntut mereka untuk menjadi lebih baik.

Blogger terkasih, apa yang bisa didapatkan dari kesaksian singkat di atas? Suatu kesalahan kecil yang tak termaafkan bahkan saking kecilnya kita tidak menyadari kita telah menumpuk satu kepahitan dalam diri keluarga dan teman-teman kita. Kebiasaan itu bernama "suka menuntut". Yup, sering tidak kita sadari kita sendiri suka menuntut orang lain untuk berubah sesuai standar kita sedangkan kita sendiri tidak mengubah diri kita.

Memang kebiasaan itu sangat kecil sekali. Tapi ingatlah satu paku kecil saja bisa bikin sakit kalau terinjak. Kebiasaan itu bila dilakukan berulang kali akan membuat orang lain malas berkawan dengan kita.

Padahal kalau kita tilik lagi kisah di atas, tokoh "saya" adalah seseorang yang sering mendengarkan firman Tuhan, rajin pelayanan dan di mana seharusnya ia menjadi contoh bagi orang lain. Kenyataannya, apakah ia orang yang disukai?

Blogger terkasih, hilangkan kebiasaan buruk Anda yang satu ini yang bisa menjadi akar kepahitan dalam diri orang lain. Berhentilah menuntut dari orang lain. Ubah diri Anda terlebih dahulu. Daripada melempar kritik, lebih baik memberikan pujian kepada orang lain. Kritik memang kecil, tapi bila dilakukan terus menerus akan menyakiti hati orang lain.

Seorang manajer perusahaan bisa dilengserkan dari jabatannya hanya karena ia terlalu sering menuntut anak buahnya untuk memberikan yang terbaik. Hampir ia tak pernah memuji. Setiap ada hal baik yang dilakukan bawahannya, ia selalu menanggapinya dengan sinis. Dan itulah yang menjadikannya cepat turun pangkat. Para karyawan di bawahnya tidak suka dengan kinerjanya.

So, blogger terkasih, lontarkan pujian kepada seseorang dengan tulus bila ia menyelesaikan sesuatu dengan baik. Kalau pun ternyata masih ada yang kurang, berikan pujian yang tulus dan masukan-masukan yang membangun. Bukan dengan kritikan dan kata-kata pedas.

Tuhan memberkati...