Dalam seminggu (tujuh hari) ada dua hari yang tidak perlu Anda kuatirkan. Dua hari ini seharusnya Anda jauhkan dari ketakutan dan kecemasan.
Yang pertama adalah hari Kemarin, hari yang dipenuhi dengan penyesalan, kesalahan, kekurangan, sakit dan kepahitan. Atau mungkin juga hari Kemarin adalah hari kemenangan, kejayaan dan keberhasilan. Hari Kemarin sudah lewat dan di luar kendali kita lagi. Semua uang dan harta yang kita miliki tidak bisa membelinya kembali. Kita tidak bisa memutar kembali segala perbuatan yang kita lakukan; kita tidak bisa menarik setiap kata yang kita ucapkan di hari Kemarin. Hari Kemarin sudah berlalu.
Dan hari yang kedua yang tidak perlu kita risaukan adalah hari Esok, hari di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Kemungkinan akan adanya kemenangan, atau kejatuhan, atau penuh janji yang indah, atau juga bisa jadi teror. Hari Esok juga di luar kendali kita.
Hari Esok pasti matahari akan bersinar. Entah itu bersinar cerah ataupun mendung tertutup awan kelabu. Satu hal yang pasti, matahari akan terbit besok. So, jangan kuatir terhadap hari Esok.
Dan satu-satunya hari yang perlu kita hidupi dalam seminggu dengan sungguh-sungguh adalah hari Ini. Hari Ini adalah hari Ini di mana kita harus bertempur, berjuang dengan keras, penuh semangat dan antusias. Hari Ini adalah hari di mana kita menghadapi konsekuensi hari Kemarin dan "calon" janji dari hari Esok.
Sebenarnya bukan kejadian hari Ini yang membuat seseorang sedih, melainkan kejadian pahit di hari Kemarin dan teror bayang-bayang hari Esok. Jalanilah hidupmu pada suatu waktu pada suatu masa.
Siapa yang tak kenal Superman? Manusia super yang bisa terbang di udara, yang bisa mengangkat mobil dengan tangan kosong, yang selalu membela kebenaran dan yang selalu menjadi idola semua anak-anak di seluruh dunia. Filmnya sudah terkenal sejak era tahun tujuh puluhan dan dibuat dalam berbagai episode.
Salah satu pemeran Superman terbaik sepanjang masa adalah Christopher Reeve. Ia menerima peran sebagai Clark Kent/Superman di tahun 1978 dan film tersebut langsung meraup sukses yang besar.
Tahun 1995, Reeve mengalami kecelakaan ketika menunggang kuda. Ia jatuh dan sempat tiga menit tidak bernapas. Akhirnya ia dilarikan dengan helikopter ke Pusat Medis Universita Virgina.
Kecelakaan itu membuatnya lumpuh dan divonis harus menggunakan kursi roda seumur hidupnya. Lumpuh bukan hanya lumpuh kaki, tetapi lumpuh dari leher ke bawah. Kecelakaan itu membuat salah satu dari syaraf vital di tubuhnya menjadi disfungsi dan mematahkan dua ruas tulang punggungnya.
Lima hari koma. Reeve divonis dokter tidak akan pernah bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang lain selama-lamanya. Kecuali selama enam bulan sejak kecelakaan ia mengalami kemajuan atau keajaiban.
Tahun 2002, Reeve membuat keajaiban itu. Ia mengejutkan dunia medis. Jari-jari tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan. Ia juga sudah merasakan sensasi sentuhan di kulitnya (sebelumnya mati rasa). Tanpa kenal lelah, ia terus melakukan sesi terapi dan berbagai latihan untuk mendapatkan inderanya kembali.
Beberapa tahun kemudian, dengan bantuan teman-temannya ia mendirikan satu yayasan amal khusus orang lumpuh yang dinamakan The Christopher Reeve Paralysis Foundation. Yayasan itu bertujuan untuk menggalang dana demi penelitian terhadap penyakit kelumpuhan seperti yang pernah dideritanya.
"Aku menolak pernyataan kalau suatu kecacatan dapat membatasi hidupmu. Bukannya aku bandel, tetapi dengan mempunyai sebuah tujuan, seseorang dapat lebih berjuang untuk semakin dekat kepada kesembuhan," katanya.
Christopher Reeve meninggal di usia 52 tahun karena mengalami penghentian pada jantungnya setelah disuntik antibiotik. Meskipun ia tak pernah mencapai tujuan kesembuhannya, ia tetaplah sosok seorang yang tidak menyerah dengan penyakit yang dideritanya.
"Aku beruntung aku menjalani petualangan 42 tahun hidupku dengan seru dan penuh tantangan. Aku mempunyai kenangan masa lalu dan melihat prospek masa depanku yang cemerlang. Oleh sebab itu aku tidak punya alasan apapun untuk menyerah. Aku terlalu sibuk untuk menyesali keburukan yang kualami.
"Banyak mimpi-mimpi kita yang kelihatan mustahil, lalu terlihat samar-samar. Tetapi ketika kita memanggil semangat dalam hidup kita, mimpi-mimpi itu juga tak dapat terelakkan."
Christopher Reeve
Akhirnya... saya diberi kesempatan lagi untuk wawancara dengan Babe Yesus lagi. Yes!!
Baru saja tiba berdiri di depan kantorNya, langsung dipersilahkan masuk. Wow... Ruangan kerjaNya keren banget!!!
"Masuklah," ajakNya, "jadi engkau hendak mewawancaraiku?"
"Bila Engkau ada waktu," balasku dengan senyum.
"WaktuKu adalah ketakterbatasan dan cukup untuk melakukan segala sesuatu. Katakanlah... apa yang ingin engkau tanyakan."
"Tidak ada hal di dunia ini yang baru bagiMu. Menurut Babe, hal tentang manusia apakah yang membuat Babe Yesus terkejut?"
Babe menjawab, "Kalau mereka bosan menjadi anak-anak, lalu tumbuh dewasa dan kemudian menjadi seperti anak-anak lagi.
"Kalau mereka rela kehilangan kesehatan hanya untuk mencari uang, lalu rela kehilangan uang untuk mendapatkan kesehatan itu kembali.
"Kalau mereka terlalu sibuk memikirkan masa depan mereka sehingga mereka lupa masa sekarang, hingga akhirnya mereka tidak hidup di kedua masa.
"Kalau mereka hidup seperti tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati dan tidak pernah hidup lagi."
Sepi kemudian. Saya kemudian mengajukan pertanyaan lagi kepadaNya. "Bolehkah saya menanyakan beberapa hal lagi pada Babe?"
"Apapun itu..." jawab Babe tersenyum.
"Sebagai seorang Bapa, apa yang ingin anak-anak Babe pelajari di tahun baru?" tanyaku.
"Untuk belajar alau seseorang tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka, hanya bisa membiarkan orang lain mencintai mereka.
"Untuk belajar kalau diperlukan bertahun-tahun untuk membangun satu kepercayaan tetapi hanya beberapa detik saja untuk meruntuhkannya.
"Untuk belajar kalau yang paling berharga di hidup mereka bukanlah sesuatu, melainkan seseorang.
"Untuk belajar kalau tidak baik selalu membandingkan diri dengan orang lain. Yang ada hanyalah orang itu lebih baik atau lebih buruk daripada kita.
"Untuk belajar kalau orang kaya bukanlah orang yang memiliki harta terbanyak, melainkan orang yang membutuhkan paling sedikit.
"Untuk belajar kalau mereka harus mengendalikan tingkah laku mereka, atau tingkah laku merekalah yang akan mengendalikan mereka.
"Untuk belajar kalau hanya perlu beberapa detik saja untuk melukai hati seseorang dan butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.
"Untuk belajar mengampuni dengan mempraktekannya.
"Untuk belajar kalau sebenarnya ada orang-orang yang mencintai mereka, tetapi tidak tahu cara menunjukkannya.
"Untuk belajar kalau uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
"Untuk belajar kalau kadang-kadang mereka bisa marah, tetapi mereka tidak boleh sembarangan mengekspresikannya.
"Untuk belajar kalau mimpi tidak membutuhkan sayap yang besar untuk terbang tinggi, melainkan sebuah rem untuk mendarat.
"Untuk belajar kalau sahabat sejati itu sangat langka; siapapun yang menemukannya ibarat menemukan harta karun terpendam.
"Untuk belajar kalau kadang-kadang mereka merasa tidak cukup telah dimaafkan orang lain sehingga diri mereka sendiri lah yang harus memaafkan diri mereka sendiri.
"Untuk belajar kalau mereka adalah tuan dari apa yang mereka lakukan dan budak dari apa yang mereka katakan.
"Untuk belajar kalau apa yang mereka tuai adalah apa yang mereka tabur; kalau mereka menabur gosip, mereka menuai perselisihan; kalau mereka menabur kasih, mereka menuai kebahagiaan.
"Untuk belajar kalau kebahagiaan bukanlah dari pencapaian sebuah cita-cita, melainkan apa yang sudah mereka terima selama proses pencapaian tersebut.
"Untuk belajar kalau kebahagiaan itu pilihan. Mereka bisa hidup bahagia dengan apa yang mereka miliki atau mati kecewa dengan kecemburuan dan iri hati mereka.
"Untuk belajar kalau dua orang yang melihat sesuatu yang sama bisa mempunyai pandangan yang berbeda.
"Untuk belajar siapa yang jujur terhadap diri mereka sendiri (apapun itu kebohongannyan) pasti akan melesat tinggi dalam kehidupan mereka.
"Untuk belajar meskipun mereka tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, tetapi ketika ada teman yang menangis bersama mereka, mereka bisa meminjamkan pundak dan memberi mereka penghiburan.
"Untuk belajar kalau apabila mereka mencoba menggenggam erat-erat seseorang yang mereka kasihi, mereka justru mendorong mereka semakin jauh. Sebaliknya apabila mereka mencoba membiarkan orang yang mereka kasihi bebas, kedua orang tersebut akan bersama selamanya."
Dan sepulang dari wawancara itu aku menatap langit biru, supaya air mata tidak mengalir di pipiku...
Sejak kecil aku suka dengan musik. Satu-satunya hal yang kusukai ketika aku sedang kesepian dan tidak ada kerjaan adalah mendengarkan musik. Well... mendengarkan musik saja. Aku tidak bisa bermain musik apapun. Mungkin karena orang tua tidak memberi kesempatan ketika aku masih kecil (lagian, les musik itu kan mahal).
Aku sering sekali iri melihat teman-temanku bisa bermain gitar, piano dan alat musik lainnya (terutama gitar). Aku ingin sekali bisa bermain musik, sesuai dengan apa yang biasanya kudengar. Aku ingin belajar, tetapi alat musiknya saja aku tidak punya
Beranjak dewasa, hingga sekarang saya berumur dua puluh dua tahun saya baru diberi kesempatan untuk bermain musik. Dengan uang yang kukumpulkan dari hasil kerjaku aku menabung dan membeli sebuah gitar butut. Bukan gitar bermerek dan gitar bagus.
Dari nol aku belajar untuk bermain gitar. Berlatih setiap malam dan setiap pagi. Meskipun kadang-kadang permainanku sangat menyebalkan dan mengganggu, itu tidak menyurutkan semangatku. Ibaratnya pucuk dicinta ulam tiba. Ada beberapa teman yang membantuku untuk bermain gitar. Sisanya, belajar sendiri. Bahkan aku pernah tertidur dengan memeluk gitar. hehe...
Dari nol, enam bulan kemudian aku dipercaya menjadi seorang pemain musik di persekutuan doa tempat aku bernaung. Wow... Dalam tugas perdanaku, aku grogi sekali. Aku bahkan bertanya kalau-kalau Tuhan salah menunjuk pemain musik sedangkan di persekutuanku masih banyak yang lebih jago ketimbang aku.
Aku malu, aku takut salah... Aku tidak layak. Siapakah aku ini hingga baru enam bulan aku belajar bermain gitar (benar-benar dari nol) sudah dipercaya oleh Tuhan untuk bermain di persekutuanku?
Wow... Tuhan sungguh luar biasa!! Membayangkan hal ini saja tidak pernah dalam pikiranku kalau suatu hari aku akan bermain di persekutuan doaku. Aku memang tidak pernah meminta, tetapi aku tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik kepadaku. Dan dalam hati aku berjanji dengan sepenuh hati aku tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Tuhan berikan padaku.
Sobat JINS, bila Anda merasa tidak mampu dalam sesuatu, yakinlah suatu hari Tuhan akan membukakan jalan bagimu. Penantian selama dua puluh tiga tahun ini dijawab Tuhan dengan luar biasa! Ia tidak akan pernah membiarkan seseorang yang mempunyai talenta tersia-siakan. Ia akan selalu membukakan jalan baginya.
Alkisah hiduplah seorang kolektor lukisan terkenal. Ia adalah seorang duda dan hanya mempunyai seorang putra. Ia sangat menyayangi putranya.
Dengan uangnya yang begitu banyak, ia memutuskan untuk mengajak putra satu-satunya berkeliling dunia dan membeli lukisan-lukisan ternama dari seluruh dunia. Picasso, Van Gogh, Monet dan berbagai lukisan agung lainnya ia beli hanya untuk sebagai koleksi.
Sekembalinya dari perjalanan, ia memajang lukisan-lukisan tak ternilai tersebut di galeri rumahnya yang mewah. Ia puas sambil memandangi jerih payahnya berburu lukisan tersebut. Ia mendidik putranya supaya kelak suatu hari bisa menjadi kritikus lukisan yang handal seperti dirinya.
Waktu terus berlalu dan perang pecah di suatu musim dingin. Putranya yang sudah beranjak dewasa harus ikut membela negaranya menjadi seorang tentara. Setelah beberapa minggu, bapak itu terus menunggu putranya. Hatinya cemas karena sudah lama tidak ada kabar dari putra satu-satunya. Dan benarlah. Beberapa hari kemudian, ia menerima telegram yang isinya putranya menghilang dalam perang. Putranya tewas tertembak ketika mengawal sekelompok prajurit yang sedang terluka. Dengan hati hancur, kolektor lukisan itu menghabiskan liburan Natalnya dengan sedih dan hancur.
Suatu pagi di hari Natal, bapak itu terbangun oleh ketukan keras di depan pintu. Cepat-cepat ia bangun dan menuju pintu utama, berharap kalau-kalau itu adalah putranya. Tapi dengan cepat ia sadar kalau putranya tidak mungkin hidup lagi.
Di depan pintu ada seorang pemuda berpakaian tentara. "Selamat pagi. Saya adalah seorang teman putra Anda dari infantri yang sama. Bolehkah saya masuk? Saya mempunyai sesuatu untuk Anda."
Pemuda itu menceritakan semua yang pernah diceritakan putranya: Tentang ayahnya seorang kolektor lukisan yang sangat hebat, tentang dirinya yang suatu hari akan mengikuti jejak ayahnya, tentang kekagumannya pada ayahnya. Mendengar itu ayahnya tak kuasa menahan tangis.
"Saya punya sesuatu untuk Anda. Sebenarnya, saya juga seorang seniman." Pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan menyerahkannya. Kolektor lukisan itu cepat-cepat membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah bingkai dengan lukisan potret diri anaknya.
Meskipun bagi orang lain lukisan itu adalah karya murahan dan tak berharga, bagi ayahnya, lukisan itu lebih daripada sebuah seni. Ia tahu setiap goresannya tergambar begitu detil dengan perasaan di dalamnya. Bapak tua itu kemudian mengucapkan terima kasih dan berjanji akan menggantungnya di atas perapian. Kemudian setelah pemuda itu pulang, bapak tua itu menurunkan beberapa lukisan terkenal yang terpajang di atas perapian dan menukarnya dengan lukisan putranya.
Ia menghabiskan sepanjang liburannya duduk di depan perapian dan memandangi potret anaknya. Minggu demi minggu berlalu dan sang ayah tahu kalau anaknya berkorban demi menyelamatkan ratusan pejuang yang sedang terluka. Sang ayah bangga sekali dengan anaknya. Dan lukisan yang tergantung di atas perapian tersebut bernilai jauh lebih mahal (malah tak ternilai!) dari lukisan terkenal manapun di dunia ini.
Suatu hari kolektor lukisan itu meninggal dunia. Karena kolektor lukisan itu sudah meninggal dan tak ada ahli waris, maka dunia seni memutuskan untuk menjual semua lukisan terkenal tersebut lewat lelang. Dan sesuai dengan surat wasiat bapak tua itu, lelang harus diadakan di hari Natal, di mana Natal adalah hari di mana ia pernah menerima hadiah paling indah sepanjang hidupnya.
Semua kolektor lukisan dari seluruh penjuru dunia sangat antusias terhadap lelang ini. Mereka bahkan berkumpul dan ruangan lelang penuh sesak dengan orang-orang kaya yang gila seni. "Hari ini aku akan mendapatkan lukisan paling masterpiece..." pikir mereka.
Lelang dibuka. Dan lukisan pertama yang dilelang adalah lukisan potret diri putra kolektor tersebut. "Lukisan potret diri putra dari almarhum dibuka dengan harga $100. Ada penawaran?" Suasana ruangan sepi selama beberapa saat.
"Siapa yang peduli dengan lukisan tak berharga itu? Lewati saja! Kita sedang menunggu karya-karya mahal lainnya!!" teriak seseorang di belakang sana. Pengunjung lainnya langsung mengiyakan.
"Tidak. Kita harus menjual lukisan ini lebih dulu," kata juru lelang tersebut, "Jadi, siapa yang mau lukisan ini?"
Akhirnya seorang tua yang duduk di barisan tengah mengangkat tangannya, "$10 untuk lukisan tersebut boleh?"
"Ada yang lebih tinggi?... Hitungan satu... dua... tiga.. TERJUAL!" seru juru lelang tersebut. Ruangan bersorak karena mereka bisa segera menawar lukisan-lukisan mahal lainnya.
Juru lelang memandangi ruangan tersebut dan mengatakan kalau acara lelang ini sudah selesai. Ruangan sekali lagi ribut, tidak percaya. "Ada apa ini? Bukannya masih banyak lukisan yang akan dilelang??? Kita ke sini bukan hanya untuk menawar lukisan putra almarhum yang tidak berharga itu!"
"Diharap tenang, saudara-saudari. Menurut wasiat kolektor itu, siapapun yang membeli lukisan potret diri putranya, akan mendapatkan semua lukisan-lukisan itu sebagai bonus."
Dan siapa yang menerima Yesus sebagai Putra Bapa yang tunggal, kita juga akan mendapatkan semua dariNya sebagai bonus.
Suatu hari sepasang sepatu olahraga saling bercakap-cakap. Sepatu kiri berkata pada sepatu kanan, "Kanan, kita selalu sama. Mulai dari bentuk kita, warna kita, aksesoris kita, sol kita, warna tali, semuanya sama. Lama-lama bosan juga nih..."
Sepatu kanan menjawab, "Lah... terus maumu"
"Gimana kalau kita sekali-sekali tampil berbeda? Aku akan menceburkan diri ke dalam lumpur dan membuat diriku kotor. Sehingga warnaku tidak lagi putih bersih. Dengan begitu kita akan tampil lebih keren, berbeda dan sangar deh pokoknya..."
Sepatu kanan menjawab, "Eh jangan... Kalau kamu jadi hitam dan kotor, nanti warna kita tidak sama lagi loh..."
"Ya tidak mengapa. Toh nggak ada salahnya sekali-sekali tampil beda," jawab sepatu kiri.
Akhirnya sepatu kiri menjatuhkan diri ke dalam kubangan lumpur. Ia terus berguling-guling hingga seluruh badannya menjadi hitam dan kotor.
Setelah beberapa saat ia berdiri dan berkata, "Tuh lihat, keren kan aku!? Jadi berwarna coklat... Bosan jadi putih terus."
Tak lama kemudian pemilik sepatu itu datang dan mencoba membersihkan sepatu itu. Tapi karena sudah terlalu kotor, maka sepatu itu pun tetap terlihat kusam. Sayang dibuang, akhirnya sepatu itu ia pakai juga ke sekolah meskipun sepanjang perjalanan terdengar ejekan dari orang lain kalau sepatunya kotor.
Sobat JINS, sama seperti Allah kita, Ia tidak akan membuang kita sekalipun kita berguling-guling di kubangan lumpur dosa. Bahkan kadang-kadang kita seperti sepatu kiri tersebut: merasa lebih bangga dan keren karena telah menjadi kotor dengan dosa. Kita menertawakan dan merendahkan saudara kita karena ia masih "putih bersih". Toh akhirnya pemilik kita juga akan membersihkan kita dari lumpur-lumpur tersebut.
Ingatlah kalau kita yang sudah kotor dengan dosa ini tidak segera membersihkan diri dan bertobat, maka yang kena malu adalah pemilik kita, dalam artian Tuhan. Tuhan Yesuslah yang akan dilihat apabila kita melakukan suatu kebaikan atau keburukan. Masakan kita mau mempermalukan pemilik kita, Yesus, dengan membuat kotor diri kita sendiri?
AKhirnya... sekian lama berlibur dan tidak menulis blog...
Hari ini edisi perdana setelah liburan lebaran yang sedemikian lamanya, JINS menulis lagi dengan cerita-cerita yang mudah-mudahan bisa menjadi berkat buat semua sobat JINS.
Lebaran... Biasanya orang-orang saling mengampuni kesalahan satu dengan yang lainnya. "Mulai dari nol lagi..." katanya. Semua kesalahan dimaafkan. Saling memaafkan. Semua rasa sakit hati di masa lalu dihapuskan.
Kalau teman-teman kita yang muslim saja bisa saling memaafkan, ada apa dengan kita yang pengikut Kristus?
Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali alias tak terbatas. Kalau kita berbuat salah, orang tua kita saja mengampuni kita, masakan kita tidak mau memaafkan orang lain yang sudah bersalah pada kita.
Di Kejadian 4, Kain yang iri hati dan cemburu pada adiknya, Habel, tidak memaafkan dan akhirnya kebencian itu menumpuk hingga akhirnya ia membunuh adiknya sendiri. Bagaimana dengan Anda? Apakah saat ini Anda juga tengah menanam pohon kepahitan dan menyiramnya setiap hari (dengan mengintimidasi diri Anda sendiri dengan percakapan-percakapan yang dilakukan dalam pikiran Anda)?
Kalau iya, berhati-hatilah! Kepahitan adalah akar dari segala dosa.
Alkitab mengajarkan kita untuk mengampuni. Pernahkah Anda berpikir kalau Anda terlalu sulit untuk mengampuni seseorang? "Orang itu sudah keterlaluan! Dia menginjak-injak harga diri saya bertahun-tahun dan saya tidak bisa melupakannya begitu saja!" Berapa banyak dari Anda yang mempunyai pikiran seperti itu? Kalau Anda termasuk seseorang yang sukar mengampuni, bersiap-siaplah menjadi seseorang yang cepat depresi dan masuk rumah sakit jiwa.
Oke sekarang Anda mempunyai keinginan untuk mengampuni. Dan di sini JINS akan mengajarkan kepada Anda apa sebenarnya mengampuni itu.
Mengampuni itu BUKAN berarti melupakan! Sudah saatnya mengampuni itu lebih mengarah ke arah "janji" dan "komitmen". Kita mungkin tidak bisa melupakan sebuah peristiwa yang menyakitkan hati kita. Kalau begitu, jangan dilupakan. Tetapi berjanjilah pada diri Anda sendiri Anda akan membiarkan orang yang telah menyakiti kita untuk pergi dengan bebas.
Mengampuni itu artinya:
1. Membiarkan orang yang telah menyakiti kita pergi dengan bebas.
2. Tidak membicarakan keburukan orang tersebut di depan orang lain.
3. Membiasakan diri untuk bersikap seperti tidak ada apa-apa dengan orang tersebut.
Bila Anda sudah mengampuni orang lain hari ini, Anda telah membabat habis seonggok rumput kepahitan dalam diri Anda.
Kita mungkin sukar melupakan kejadian tertentu, tetapi kita bisa membiarkan orang tersebut pergi dan melegakan hati kita. Kita bisa melapangkan hati kita.
Kita tidak bisa mencegah ngengat kenangan tersebut terbang di sekitar kita, tetapi kita bisa mencegah ngengat busuk itu hinggap di hati dan pikiran kita.
Tuhan memberkati....